BACAAJA, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim urusan desa tertinggal kini tinggal sisa kecil. Dari total 7.810 desa, katanya cuma 15 yang masih berstatus tertinggal.
Desa sangat tertinggal? Disebut sudah tidak ada, alias nol.
Data itu mengacu pada Indeks Desa (ID) Tahun 2025. Komposisinya, ada 2.208 desa mandiri, 3.921 desa maju, 1.666 desa berkembang, dan tinggal 15 desa tertinggal. Secara angka, peta desa di Jateng tampak makin bagus.
Bacaaja: Pemprov Klaim 2.208 Desa di Jateng Sudah Mandiri
Bacaaja: Luthfi Klaim Tak Ada Desa Tertinggal di Jateng
Kepala Dispermadesdukcapil Jateng, Nadi Santoso, menyebut perubahan status ini buah kerja bareng lintas OPD. Pendekatan kolaboratif terus didorong Pemprov Jateng.
Nadi menjelaskan, masih adanya desa tertinggal bukan karena jalan di tempat. Tapi karena indikator penilaian desa sekarang ganti baju.
Dari Indeks Desa Membangun ke Indeks Desa yang kriterianya lebih panjang dan ribet.
Meski begitu, pemprov menargetkan 15 desa ini tak lama-lama menyandang status tertinggal.
Pendampingan bakal terus dilakukan. Harapannya, status bisa naik bareng, bukan cuma grafiknya saja.

Soal duit, Pemprov Jateng juga pasang badan. Bantuan keuangan desa pada 2024 mencapai Rp1,6 triliun, lalu naik jadi Rp1,7 triliun di 2025.
Angka yang bikin desa agak bernapas, apalagi saat dana desa pusat menyusut.
Di saat pusat rem, provinsi disebut jadi gas tambahan.
“Ini luar biasa. Bantuan keuangan dari provinsi ini hampir setara dengan dana desa dari pusat,” kata Nadi, Jumat (25/1/2026).
Anggaran itu dipakai untuk sarana prasarana dan layanan dasar. Pemprov berharap efeknya bisa terasa langsung ke warga.
Sebab percuma desa naik kelas kalau warganya tetap merasa tinggal di kelas lama.
“Kita terus dorong 15 desa tertinggal ini dengan kolaborasi OPD dan stakeholder,” ujar Nadi.
Prinsipnya satu, jangan sampai ada desa yang tertinggal sendirian. Meski, tentu, angka di laporan harus sejalan dengan kondisi di lapangan. (bae)

