Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kemarau Bikin Panen Kopi Pekalongan Anjlok
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Kemarau Bikin Panen Kopi Pekalongan Anjlok

Nugroho P.
Last updated: September 3, 2026 3:22 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi panen kopi.
SHARE

BACAAJA, PEKALONGAN – Musim kemarau kali ini bikin petani kopi di Desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, harus gigit jari. Minimnya pasokan air membuat kondisi tanaman memburuk dan hasil panen ikut merosot cukup tajam.

Penurunan produksi bahkan disebut bisa mencapai 50 persen dibandingkan saat kondisi normal. Sejumlah tanaman kopi mulai menunjukkan tanda-tanda stres, dari daun menguning, bunga rontok, sampai ada pohon yang akhirnya mati.

Aris (36), petani kopi di Jolotigo, mengatakan kekeringan menjadi salah satu persoalan paling terasa selama musim kemarau. Air yang terbatas membuat petani kesulitan menjaga tanaman tetap tumbuh optimal.

“Kalau untuk masalah kemarau ya yang jelas kekeringan, kekurangan air. Banyak daun yang kuning dan pohon yang mati,” kata Aris saat ditemui di Desa Jolotigo, Rabu (2/9/2026).

Bukan cuma daun dan pohon yang terdampak. Bunga kopi yang sudah berkembang menjadi bakal buah juga banyak yang rontok sebelum berkembang maksimal.

Kondisi tersebut otomatis membuat produktivitas kebun ikut turun. Aris menyebut petani di kawasan Simbar dan Jolotigo mengalami penurunan hasil yang cukup terasa.

Jika biasanya seorang petani bisa mendapatkan sekitar satu kuintal hasil panen, kini jumlahnya bisa berkurang hingga separuh. “Misalnya kemarin satu kuintal, itu paling 50 persen turunnya, sampai segitu,” ujarnya.

Persoalan petani ternyata tak berhenti di produksi. Setelah hasil panen turun, mereka masih harus menghadapi tantangan lain berupa pemasaran dan harga jual yang belum punya kepastian.

Aris mengatakan petani masih banyak bergantung pada harga yang terbentuk di pasar dan tengkulak. Kondisi itu membuat posisi tawar petani belum terlalu kuat ketika menentukan harga kopi.

Saat ini, harga green bean yang diterima petani berada di kisaran Rp60.000 per kilogram. Menurut Aris, angka tersebut sebenarnya cukup bagus, tetapi petani masih belum bisa menentukan harga secara mandiri.

Untuk mendapatkan satu kilogram green bean, petani membutuhkan sekitar 4-5 kilogram buah kopi atau ceri. Artinya, ketika produksi di kebun turun, pendapatan petani ikut berpotensi tertekan.

Aris berharap kualitas kopi dari Jolotigo terus ditingkatkan. Dengan kualitas yang lebih konsisten, ia berharap petani punya modal lebih kuat untuk mendapatkan akses pasar dan harga yang lebih baik.

“Kalau kita sudah punya kualitas dan lain sebagainya, kami juga bisa menentukan harga. Kalau kita punya kualitas, mereka pasti mau membeli,” katanya.

Upaya memperkuat petani juga dilakukan melalui pendampingan yang digarap Project Coordinator Zurich Climate Resilience Alliance, Arif Ganda Purnamawa. Fokusnya bukan cuma meningkatkan produksi, tetapi juga membantu petani lebih siap menghadapi perubahan iklim.

Pendampingan tersebut mencakup pemanfaatan informasi iklim, praktik pertanian yang lebih baik, akses pasar, hingga upaya menyiapkan perlindungan terhadap risiko finansial.

Menurut Arif, data iklim bisa menjadi bekal penting bagi petani sebelum mengambil keputusan di kebun. Informasi mengenai potensi kekeringan maupun curah hujan ekstrem dapat membantu petani menyesuaikan pengelolaan tanaman.

“Kami melakukan pendampingan ke petani kopi di Jolotigo Talun ini untuk mengintegrasikan data iklim sehingga petani dapat memperoleh informasi mengenai potensi kekeringan maupun curah hujan ekstrem,” jelasnya.

Selain menghadapi cuaca yang makin sulit diprediksi, petani juga didorong agar punya akses ke pasar yang lebih luas. Dengan begitu, kopi Pekalongan tidak hanya bergantung pada jalur pemasaran yang selama ini tersedia.

Arif mengatakan pihaknya tengah mencari cara agar komoditas kopi Jolotigo bisa terhubung dengan pasar yang lebih besar. Harapannya, langkah tersebut bisa ikut memperkuat posisi petani sekaligus menjaga keberlangsungan usaha kopi di tengah tekanan perubahan iklim. (*)

You Might Also Like

Usai Lebaran, Jateng Siap Gas Bangun Dry Port

Kontainer Numpuk Bukan Bea Cukai, Importir Malah Santai Dulu

Gaskeun Energi Bersih: Jateng Resmi Luncurkan ‘Forum Anti Emisi’

Semarang Gaspol Bikin 177 Koperasi

Investor Australia Siapkan Investasi 350 Juta Dollar AS di Batang

TAGGED:kemaraukopipanen kopi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ban Garuda Pecah, GA604 Mendarat Aman di Makassar
Next Article RILIS KASUS--Pejabat utama Kejati Jateng merilis kasus yang ia tangani. (ist) Lagi, Kasus Korupsi di Pekalongan! Kejati Bongkar Kredit Macet Rp141 M

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

RILIS KASUS--Pejabat utama Kejati Jateng merilis kasus yang ia tangani. (ist)

Lagi, Kasus Korupsi di Pekalongan! Kejati Bongkar Kredit Macet Rp141 M

Kemarau Bikin Panen Kopi Pekalongan Anjlok

Ban Garuda Pecah, GA604 Mendarat Aman di Makassar

SIDANG KORUPSI--Hakim memeriksa saksi meringankan dalam sidang perkara Fadia Arafiq, Kamis (3/9/2026). (bae)

Bupati Fadia Arafiq Ngaku Kaya Sejak Lahir, Lha Kok Korupsi?

Truk Sembako MBG Terguling, Warung Kopi Hancur

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Ekonomi

Dana Negara Digelontor, Bank Mandiri Gas Kredit Sektor Produktif

Maret 31, 2026
Ilustrasi penumpang bersiap naik gerbong kereta api di Stasin Tawang Semarang.
Ekonomi

16.000 Tiket Kereta Mudik Lebaran Sudah Terjual, KAI Daop 4 Ungkap Tanggal Favorit

Februari 5, 2026
Ekonomi

UMK 2026 di Jateng dari Tertinggi hingga Terendah

Desember 24, 2025
Pemerhati lingkungan pesisir dari Universitas Katholik Sugijopranoto (Unika) Semarang Hotmauli Sidabalok, saat menjelaskan masalah lingkungan yang terjadi di pesisir Semarang-Demak, Sabtu (19/7/2025). Foto: BAE
Sirkular

Pembangunan Pelabuhan dan Kawasan Industri Menambah Tumpukan Masalah di Pesisir

Juli 20, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kemarau Bikin Panen Kopi Pekalongan Anjlok
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?