BACAAJA, JAKARTA – Suasana khidmat di Mahkamah Konstitusi mendadak berubah jadi tegang saat acara wisuda purnatugas berlangsung di Jakarta, Senin sore. Di tengah momen yang seharusnya penuh penghormatan, Hakim Konstitusi Anwar Usman justru mengalami kondisi fisik yang menurun hingga akhirnya tumbang.
Acara yang digelar sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian panjang itu awalnya berjalan lancar. Para tamu undangan, pejabat, dan pegawai MK mengikuti prosesi dengan penuh khidmat, mengiringi langkah Anwar yang telah mengabdi selama sekitar 15 tahun.
Namun situasi mulai berubah saat prosesi kirap berlangsung. Anwar tampak berjalan pelan dari aula menuju lobi utama gedung MK, dengan kondisi yang terlihat tidak sekuat biasanya.
Beberapa orang di sekitar mulai menyadari ada yang berbeda. Langkahnya melambat, tubuhnya tampak goyah, dan ia harus dipapah oleh istri serta pegawai yang mendampinginya sepanjang jalur kirap.
Meski tetap berusaha tersenyum dan menyelesaikan prosesi, kondisi fisiknya terlihat semakin menurun. Wajahnya mulai pucat, dan langkahnya makin berat hingga akhirnya perhatian banyak orang tertuju padanya.
Sesampainya di area lobi, beberapa hakim lain langsung sigap membantu menjaga posisinya agar tetap berdiri. Namun situasi tak bisa ditahan lebih lama.
Dalam hitungan detik, Anwar akhirnya tumbang. Suasana yang sebelumnya tenang langsung berubah jadi panik. Pegawai dan petugas segera bergerak cepat untuk membopongnya masuk ke ruang tunggu di gedung utama.
Momen itu membuat banyak orang yang hadir terkejut. Apalagi kejadian berlangsung di tengah acara resmi yang penuh makna.
Tak lama setelah dibawa ke dalam, tim medis internal MK langsung masuk untuk memberikan penanganan. Langkah cepat ini dilakukan untuk memastikan kondisi Anwar tetap stabil.
Sekretaris Jenderal MK, Heru Setiawan, kemudian memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut. Ia memastikan bahwa Anwar tidak sampai kehilangan kesadaran.
Menurutnya, kondisi yang dialami lebih karena kelelahan fisik. Gula darah yang turun dan durasi berdiri yang cukup lama disebut menjadi faktor utama.
Heru juga menegaskan bahwa sejak awal acara berlangsung cukup panjang. Wisuda purnabakti itu sendiri dimulai sekitar pukul 16.00 WIB.
Dalam kondisi seperti itu, wajar jika tubuh mengalami penurunan stamina, apalagi setelah mengikuti seluruh rangkaian acara tanpa banyak jeda.
Meski sempat membuat panik, kabar bahwa Anwar masih dalam kondisi sadar sedikit meredakan kekhawatiran para tamu undangan.
Sebelum kejadian tersebut, Anwar sempat menyampaikan sambutan yang cukup kuat dan penuh makna. Ia berbicara soal tantangan menjadi hakim konstitusi.
Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa seorang hakim harus siap menghadapi risiko tidak disukai. Menurutnya, itu adalah konsekuensi dari upaya menegakkan keadilan.
Pesan itu juga ditujukan kepada para penerus dan hakim yang masih aktif bertugas. Ia mengingatkan agar mereka tidak gentar dalam menjalankan tugas.
Ucapan tersebut kini terasa semakin berkesan setelah melihat momen di penghujung acara. Sebuah penutup yang tidak direncanakan, namun meninggalkan kesan mendalam.
Hingga saat kabar ini beredar, Anwar masih berada di ruang tunggu dengan penanganan dari tim medis. Banyak pihak berharap kondisinya segera pulih.
Peristiwa ini jadi pengingat bahwa di balik jabatan dan dedikasi panjang, kondisi fisik tetap punya batas. Bahkan di momen penting sekalipun, tubuh bisa memberi sinyal untuk berhenti sejenak. (*)

