Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Redaktur Opini
Last updated: Januari 27, 2026 8:26 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS. 

Teknologi bisa dimanfaatkan sebagai jembatan, misalnya melalui buku digital, audio book, atau diskusi bacaan di media sosial.

 

Remaja saat ini sering kali dicap sebagai generasi yang malas membaca. Bagi mereka buku dianggap membosankan, berat, dan kalah saing dengan gadget. Menyalahkan remaja karena tidak betah membaca buku sama seperti mengeluhkan orang yang tidak sabar mengantre, padahal hampir semua layanan kini dirancang serba cepat.

Masalahnya bukan sekadar soal niat, melainkan adanya perubahan cara kerja otak di tengah serbuan video pendek dan pola kerja aplikasi yang tidak pernah memberi waktu untuk istirahat. Ketika remaja sudah terbiasa menonton video singkat dan cepat, kemampuan untuk fokus dalam waktu yang lama menjadi menurun. Dampaknya membaca buku menjadi aktivitas yang sering ditinggalkan sebagai dampai dari hal itu.

Media sosial berbasis video pendek memberikan rangsangan yang kuat dalam durasi yang sangat singkat, sehingga mudah menarik perhatian remaja. Setiap swipe video yang tampil di gadget, baik itu video lucu, dramatis, atau mengerikan, hal itu memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan puas. Karena durasi video yang singkat, otak menerima asupan berkali-kali dalam hitungan menit.

Dari berbagai artikel dan penelitian tentang media digital yang saya baca, mereka menyebut kebiasaan mengonsumsi konten singkat secara terus-menerus akan membuat otak kita terbiasa dengan hasil yang instan, sehingga membuat kita kurang sabar terhadap proses berpikir yang kritis.

Masalah mulai muncul saat remaja berhadapan dengan buku. Contoh saja ketika membaca buku nonfiksi dengan genre sastra atau politik. Kedua jenis bacaan itu menuntut kemampuan seseorang untuk fokus, sabar, serta menuntut ketenangan dan fokus yang mendalam. Tidak seperti video yang menyajikan sebuah gambar bergerak dengan suara secara instan, buku hanya menyajikan deretan teks yang harus diolah sendiri oleh pembaca.

Dalam kondisi otak yang terbiasa dengan stimulasi cepat, aktivitas membaca juga terasa lambat dan melelahkan. Akibatnya, tidak sedikit remaja yang membaca satu halaman berulang kali tanpa benar-benar memahami isinya karena perhatian mereka mudah teralihkan. Tetapi benarkah semua remaja meninggalkan kebiasaan membaca?

Tidak sepenuhnya remaja meninggalkan dunia membaca. Kenyataannya di berbagai kalangan anak muda sekarang justru banyak yang menyukai novel populer bergenre romansa dan fantasi. Fenomena itu justru memberi gambaran yang lebih jelas tentang selera baca remaja saat ini.

Novel populer biasanya mempunyai alur yang cepat, bahasa yang ringan, serta konflik emosional yang intens. Rasa penasaran akan kelanjutan kisah cinta atau nasib tokoh dunia fantasi sering menciptakan ketegangan yang mampu mengikat perhatian mereka. Ketegangan emosi inilah yang membuat halaman demi halaman terasa lebih cepat berlalu dibandingkan buku yang minim konflik dan menuntut pembaca membutuhkan kesabaran dan perhatian lebih lama.

Masalahnya, jika kebiasaan ini terus berlangsung, kemampuan berpikir kritis dan kontemplatif para remaja akan tergerus. Buku-buku yang menyajikan argumen panjang, pemikiran filosofis, atau analisis ilmiah membutuhkan kesabaran dan ketahanan dalam fokus membaca.

Jika media sosial adalah makanan cepat saji yang gurih dan instan, maka buku berat seperti sayur rebus tidak langsung menggoda, tetapi menyehatkan dalam jangka panjang. Sayangnya, banyak remaja mengalami kesulitan menjaga fokus karena terlalu sering mengonsumsi informasi secara instan.

Dengan kata lain, krisis minat baca remaja bukan persoalan moral, melainkan persoalan kebiasaan kognitif yang dibentuk oleh lingkungan digital sehari-hari. Tantangannya bukan memilih antara buku atau teknologi, tetapi membangun kebiasaan fokus di tengah dunia yang serba cepat. Upaya ini bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana, seperti membiasakan membaca singkat tetapi konsisten.

Teknologi bisa dimanfaatkan sebagai jembatan, misalnya melalui buku digital, audio book, atau diskusi bacaan di media sosial. Remaja bukan tidak mau membaca, mereka hanya hidup di zaman ketika otak dipaksa berlari, sementara buku meminta mereka duduk tenang dan berpikir.

Kondisi itulah yang kemudian memunculkan ketegangan antara kebiasaan membaca dan realitas digital remaja. Membaca adalah persoalan kebiasaan, maka memulai kebiasaan adalah jalan terbaik. Bukan mengkambinghitamkan teknologi. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar

Ketika Alam Membalas Tuntas

Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Hal yang Sering Kita Lewatkan Ketika Menyoal Kekerasan Seksual di Kampus

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kapolri Listyo Sigit Ngotot Tolak Polri di Bawah Kementerian: Mending Saya Jadi Petani
Next Article Agustina: Jabatan Nggak Dijual, Apalagi Ditawar

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pexi Jateng Usulkan Xiangqi Masuk Popda 2027

Kalapas Purwodadi Kenalkan Layanan Kunjungan dan Kemudahan SDP

KORBAN KERACUNAN - Sejumlah korban keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapat perawatan medis lebih lanjut, Rabu (23/9/2026).

Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 411 Orang, Menu Dimasak Sejak Pukul 19.30 WIB

Aktivis LBH Semarang Soroti Klaim Geotermal sebagai Energi Terbarukan

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (Tauwas BGN), Ketut Sumedana. (Dok BGN)

Alasan Ungkap BGN Tutup Permanen 4 SPPG, Termasuk Patalan 2 Bantul

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Memendam Amarah Ibarat Bom yang Bisa Meledak Kapan Saja

Juli 7, 2026
Opini

Iman dan Nilai-Nilai Kemanusiaan di Hadapan Ancaman Akal Imitasi

Juni 8, 2026
Opini

Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah

April 8, 2026
Opini

Gurunya Manusia Tapi Pikiran Siswa Isinya Algoritma

April 24, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?