Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Memendam Amarah Ibarat Bom yang Bisa Meledak Kapan Saja
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Memendam Amarah Ibarat Bom yang Bisa Meledak Kapan Saja

Redaktur Opini
Last updated: Juli 7, 2026 11:02 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS. 

Tubuh dan pikiran juga punya batas. Emosi yang terus ditekan dapat membuat seseorang lebih mudah cemas, sulit tidur, cepat lelah secara mental, atau merasa tidak bersemangat menjalani hari.

 

Ada satu tipe orang yang sering kita temui, bahkan mungkin itu adalah diri kita sendiri.  Orang yang selalu terlihat baik-baik saja, jarang marah, dan selalu mengalah demi menjaga suasana tetap nyaman. Ia dianggap sabar, dewasa, bahkan “orang baik” oleh lingkungannya. Namun, di balik ketenangan itu, tak jarang tersimpan amarah yang tak pernah benar-benar ia keluarkan.

Kejadian ini sebenarnya hal biasa, dan sering terjadi di sekitar kita. Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa marah itu tidak sopan. Orang baik adalah orang yang sabar, tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan, dan orang yang tumbuh di keluarga yang baik.

Akibatnya, alih-alih belajar mengelola emosi dengan cara yang sehat, kita justru hanya belajar satu hal, yaitu menyembunyikan emosi sebaik mungkin. Padahal, emosi yang terus ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk muncul dalam bentuk yang seringkali lebih merugikan.

Yang menarik, banyak orang yang terbiasa memendam amarah punya kebiasaan yang hampir sama. Saat sedang kesal, kecewa, atau marah kepada seseorang, mereka justru memilih diam. Bukan karena masalahnya sudah selesai, tetapi karena merasa lebih aman menyimpannya sendiri. Mereka akan menarik diri, mencari ruang untuk menyendiri, bahkan menghindari orang-orang terdekat.

Alasannya terdengar sederhana. “Kalau aku lagi marah, nanti orang lain ikut kena imbasnya.” Atau, “Aku lagi nggak baik-baik saja. Lebih baik sendiri dulu daripada bikin suasana jadi buruk.” Sekilas, cara berpikir seperti ini terlihat dewasa dan penuh empati. Seolah-olah mereka sedang melindungi orang lain dari emosi yang sedang berantakan. Tapi kalau dipikir lagi, siapa yang akhirnya menanggung semua beban itu?

Jawabannya adalah diri sendiri. Setiap kali amarah dipendam tanpa pernah benar-benar dihadapi, emosi itu tidak hilang begitu saja. Ia hanya disimpan. Hari ini ditahan, besok ditahan lagi, lalu minggu depan bertambah dengan kekecewaan yang baru. Lama-kelamaan, yang menumpuk bukan hanya amarah, tetapi juga rasa lelah. Seseorang akhirnya menghadapi emosinya sendirian, tanpa tempat bercerita, tanpa merasa dipahami, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang dirasakan.

Yang sering terlupakan adalah bahwa tubuh dan pikiran juga punya batas. Emosi yang terus ditekan dapat membuat seseorang lebih mudah cemas, sulit tidur, cepat lelah secara mental, atau merasa tidak bersemangat menjalani hari. Pada sebagian orang, tekanan emosional juga bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan pencernaan. Yang lebih mengkhawatirkan, seseorang bisa menjadi begitu terbiasa memendam perasaan hingga sulit mengenali apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.

Ironisnya, semua itu sering berawal dari niat yang baik: tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal, dengan terus menyembunyikan apa yang dirasakan, orang-orang terdekat justru tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang sedang berjuang sendirian. Hubungan akhirnya terasa baik-baik saja di permukaan, tetapi kehilangan ruang untuk saling memahami secara tulus.

Marah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Marah, kesal, kecewa, atau tidak suka pada seseorang adalah bagian dari menjadi manusia. Yang perlu dipelajari bukan cara menghilangkan emosi itu, melainkan cara menyampaikannya dengan sehat. Menenangkan diri sebelum berbicara tentu tidak salah. Namun, jika diam selalu menjadi satu-satunya jalan, emosi itu tidak pernah benar-benar selesai.

Memang tidak mudah untuk mengutarakan apa yang sedang kita rasakan. Maka dari itu, lebih memilih diam. Tetapi kalau terus dipendam, yang capek adalah diri sendiri. Belajar jujur dengan perasaan bukan berarti mencari masalah. Justru dengan begitu, kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk didengar dan pada orang lain untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.

Pada akhirnya, sehat secara emosional bukan berarti kita tidak pernah marah. Yang terpenting adalah berani mengakui apa yang kita rasakan dan belajar mengelolanya dengan baik. Karena amarah yang terus dipendam tidak membuat kita lebih kuat, justru bisa melukai diri sendiri tanpa kita sadari. Jadi, setelah membaca ini, apakah kamu masih memilih untuk memendam emosimu lagi?

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

Mereka yang Diam-Diam Mendukung Pelaku Kekerasan Seksual

Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026

Otak Encer Tetapi Jiwa Kehilangan Hati Nurani

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Menteri Luar Negeri Sugiono. Ubah Sikap setelah Dikritik, Pemerintah Akhirnya Kirim Delegasi Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Next Article Datang Bertiga ke KPK, Bos BGN Bikin Publik Tanda Tanya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

BEASISWA KHUSUS - Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Prof Hasyim Muhammad, memberikan keterangan mengenai beasiswa khusus untuk santri, Sabtu (22/8/2026). (dul)

Tinggal di Pesantren dan Aktif di Kampus, Syarat Dapat Beasiswa Pemprov Jateng

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah (Sekda Jateng) Sumarno. (dul)

Pemprov Jateng Dukung Pengembangan Geotermal, Sekda: Suara Warga Gak Boleh Diabaikan

NAIK KA--Pengguna jasa kereta api berada di Stasiun Semarang Tawang. (ist)

Libur Panjang Maulid Nabi, 124 Ribu Penumpang Kereta Padati Stasiun Daop Semarang

BEASISWA KHUSUS - Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Prof Hasyim Muhammad, memberikan keterangan mengenai beasiswa khusus untuk santri, Sabtu (22/8/2026). (dul)

Kabar Gembira! Ada Beasiswa Rp6 Juta per Orang untuk 420 Santri Ma’had Aly Jateng

LEPAS RS TERAPUNG - Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto melepas keberangkatan Kapal Laksamana Malahayati --rumah sakit terapung yang sekaligus mengangkut bantuan logistik untuk korban gempa NTT-- dari Cilegon menuju Flores, Kamis (20/8/2026) malam.

PDIP Kirim Kapal Medis Malahayati ke Flores, Bantu Korban Gempa NTT

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Pemimpin yang Selalu Butuh Afirmasi

Juli 20, 2026
Opini

Pertempuran Empat Raja: Ketika Piala Dunia Mengajarkan Arti Sebuah Kelas

Juli 14, 2026
Kabupaten Magelang meluncurkan program angkutan sekolah gratis yang bukan hanya menjawab persoalan transportasi, tapi juga menyentuh aspek keselamatan pelajar, akses pendidikan, dan keberlanjutan angkutan umum.
Opini

Inovasi Pro Rakyat: Kabupaten Magelang Wujudkan Angkutan Pelajar Gratis

September 18, 2025
Opini

2016 Called, and We Picked Up Immediately: Nostalgia dan Kerinduan yang Palsu

Juli 21, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Memendam Amarah Ibarat Bom yang Bisa Meledak Kapan Saja
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?