Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.
Tubuh dan pikiran juga punya batas. Emosi yang terus ditekan dapat membuat seseorang lebih mudah cemas, sulit tidur, cepat lelah secara mental, atau merasa tidak bersemangat menjalani hari.
Ada satu tipe orang yang sering kita temui, bahkan mungkin itu adalah diri kita sendiri. Orang yang selalu terlihat baik-baik saja, jarang marah, dan selalu mengalah demi menjaga suasana tetap nyaman. Ia dianggap sabar, dewasa, bahkan “orang baik” oleh lingkungannya. Namun, di balik ketenangan itu, tak jarang tersimpan amarah yang tak pernah benar-benar ia keluarkan.
Kejadian ini sebenarnya hal biasa, dan sering terjadi di sekitar kita. Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa marah itu tidak sopan. Orang baik adalah orang yang sabar, tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan, dan orang yang tumbuh di keluarga yang baik.
Akibatnya, alih-alih belajar mengelola emosi dengan cara yang sehat, kita justru hanya belajar satu hal, yaitu menyembunyikan emosi sebaik mungkin. Padahal, emosi yang terus ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk muncul dalam bentuk yang seringkali lebih merugikan.
Yang menarik, banyak orang yang terbiasa memendam amarah punya kebiasaan yang hampir sama. Saat sedang kesal, kecewa, atau marah kepada seseorang, mereka justru memilih diam. Bukan karena masalahnya sudah selesai, tetapi karena merasa lebih aman menyimpannya sendiri. Mereka akan menarik diri, mencari ruang untuk menyendiri, bahkan menghindari orang-orang terdekat.
Alasannya terdengar sederhana. “Kalau aku lagi marah, nanti orang lain ikut kena imbasnya.” Atau, “Aku lagi nggak baik-baik saja. Lebih baik sendiri dulu daripada bikin suasana jadi buruk.” Sekilas, cara berpikir seperti ini terlihat dewasa dan penuh empati. Seolah-olah mereka sedang melindungi orang lain dari emosi yang sedang berantakan. Tapi kalau dipikir lagi, siapa yang akhirnya menanggung semua beban itu?
Jawabannya adalah diri sendiri. Setiap kali amarah dipendam tanpa pernah benar-benar dihadapi, emosi itu tidak hilang begitu saja. Ia hanya disimpan. Hari ini ditahan, besok ditahan lagi, lalu minggu depan bertambah dengan kekecewaan yang baru. Lama-kelamaan, yang menumpuk bukan hanya amarah, tetapi juga rasa lelah. Seseorang akhirnya menghadapi emosinya sendirian, tanpa tempat bercerita, tanpa merasa dipahami, bahkan tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang dirasakan.
Yang sering terlupakan adalah bahwa tubuh dan pikiran juga punya batas. Emosi yang terus ditekan dapat membuat seseorang lebih mudah cemas, sulit tidur, cepat lelah secara mental, atau merasa tidak bersemangat menjalani hari. Pada sebagian orang, tekanan emosional juga bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan pencernaan. Yang lebih mengkhawatirkan, seseorang bisa menjadi begitu terbiasa memendam perasaan hingga sulit mengenali apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Ironisnya, semua itu sering berawal dari niat yang baik: tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal, dengan terus menyembunyikan apa yang dirasakan, orang-orang terdekat justru tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang sedang berjuang sendirian. Hubungan akhirnya terasa baik-baik saja di permukaan, tetapi kehilangan ruang untuk saling memahami secara tulus.
Marah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Marah, kesal, kecewa, atau tidak suka pada seseorang adalah bagian dari menjadi manusia. Yang perlu dipelajari bukan cara menghilangkan emosi itu, melainkan cara menyampaikannya dengan sehat. Menenangkan diri sebelum berbicara tentu tidak salah. Namun, jika diam selalu menjadi satu-satunya jalan, emosi itu tidak pernah benar-benar selesai.
Memang tidak mudah untuk mengutarakan apa yang sedang kita rasakan. Maka dari itu, lebih memilih diam. Tetapi kalau terus dipendam, yang capek adalah diri sendiri. Belajar jujur dengan perasaan bukan berarti mencari masalah. Justru dengan begitu, kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk didengar dan pada orang lain untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.
Pada akhirnya, sehat secara emosional bukan berarti kita tidak pernah marah. Yang terpenting adalah berani mengakui apa yang kita rasakan dan belajar mengelolanya dengan baik. Karena amarah yang terus dipendam tidak membuat kita lebih kuat, justru bisa melukai diri sendiri tanpa kita sadari. Jadi, setelah membaca ini, apakah kamu masih memilih untuk memendam emosimu lagi?
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

