BACAAJA, SEMARANG– Semangat kebersamaan dan pendidikan karakter mewarnai peringatan Hari Pramuka ke-65 di Lapangan Wonoplumbon, Mijen, Kota Semarang, Jumat (14/8/2026).
Dua satuan pendidikan, SMP Negeri 44 Semarang dan SD Negeri Wonoplembon 01, berkolaborasi menggelar upacara sebagai momentum memperkuat sinergi pembinaan generasi muda sejak usia dini hingga remaja.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Gugus Depan 15.063–15.064 Pangkalan SMP Negeri 44 Semarang dengan Gugus Depan 15.045–15.046 Pangkalan SD Negeri Wonoplembon 01.
Upacara berlangsung tertib dan khidmat. Tidak sekadar seremoni tahunan, kegiatan ini menjadi ruang untuk menanamkan nilai Trisatya dan Dasa Darma Pramuka dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta upacara berasal dari anggota Pramuka tingkat Siaga SD Negeri Wonoplembon 01 dan Penggalang SMP Negeri 44 Semarang. Dua jenjang pendidikan tersebut tampil dalam satu lapangan, menggambarkan kesinambungan pembinaan karakter yang tidak berhenti ketika siswa lulus dari sekolah dasar.
Baca juga: Pramuka Lampung Gaspol Bantu Banjir, Donasi Nyaris Setengah Miliar
Sejak pagi, peserta sudah memenuhi lapangan dengan seragam Pramuka lengkap. Barisan Siaga tampak penuh semangat, sementara para Penggalang tampil lebih disiplin dan sigap.
Petugas upacara pun merupakan gabungan siswa dari kedua sekolah. Salah satu momen penting terlihat saat Pasukan 14 bertugas mengibarkan Bendera Merah Putih dengan penuh kekompakan.
Kepala SMP Negeri 44 Semarang Kak Y Hesty Padmaratnawati, SPd, MPd dan Kepala SD Negeri Wonoplembon 01 Kak Sri Wahyuni, SPd turut hadir memberikan dukungan.
Kolaborasi tersebut menjadi contoh bahwa pendidikan karakter bisa dibangun bersama lintas satuan pendidikan. Tidak harus menunggu siswa berada di jenjang yang sama untuk belajar bekerja sama.
Sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat juga hadir, antara lain perwakilan Kwartir Ranting Mijen, Lurah Wonoplembon Karimah Muzayanah, SH, jajaran Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta perangkat RT dan RW setempat.
Peran Masyarakat
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda bukan hanya menjadi urusan sekolah. Lingkungan masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang positif bagi anak-anak.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Kak Suningsih, Kasi Pemerintahan Kecamatan Mijen, mengingatkan pentingnya Gerakan Pramuka dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, mandiri, berintegritas, peduli terhadap lingkungan sosial, serta mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Gerakan Pramuka merupakan wadah strategis dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa yang tangguh, mandiri, dan berjiwa sosial tinggi,” pesannya. Menurutnya, kolaborasi antara siswa SD dan SMP juga menunjukkan pentingnya kesinambungan pendidikan karakter sejak usia dini.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Wonoplumbon juga diwarnai pemberian Penghargaan Darma Bakti. Penghargaan diberikan kepada Kak Y Hesti Padmaratnawati selaku Mabigus SMP Negeri 44 Semarang dan Kak RR Reni Hartati selaku Pembina Pramuka.
Baca juga: Tahun Ajaran Baru, Seragam Sekolah Diburu
Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi dalam membina peserta didik sekaligus mengembangkan kegiatan kepramukaan di lingkungan sekolah.
Konsistensi para pembina juga dinilai ikut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antar-Gugus Depan di wilayah Kecamatan Mijen. Lebih dari sekadar upacara, kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya guru, pembina, peserta didik, pemerintah wilayah, dan masyarakat.
Nilai gotong royong, kerja sama, kepedulian dan persaudaraan yang menjadi bagian dari Dasa Darma terasa dalam rangkaian kegiatan. Kolaborasi SMP Negeri 44 Semarang dan SD Negeri Wonoplembon 01 diharapkan tidak berhenti pada peringatan Hari Pramuka tahun ini. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya.
Sebab, pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan lewat teori. Anak-anak perlu mengalami langsung bagaimana bekerja sama, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan menyelesaikan tugas bersama.
Dari Lapangan Wonoplumbon, pesan itu kembali ditegaskan: Pramuka memang identik dengan seragam cokelat, barisan rapi, dan upacara. Tapi kalau setelah pulang masih mau membantu teman, berani bertanggung jawab, dan tidak cuma jago menyuruh orang lain, nah, itu baru namanya pendidikan karakter. (tebe)

