Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pecinan Naik Kelas, Kini Jadi Desa Wisata
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Plesir

Pecinan Naik Kelas, Kini Jadi Desa Wisata

Krabat (Kranggan Hebat) Pecinan resmi jadi desa wisata ke-14 Kota Semarang. Bukan cuma jual bangunan tua dan cerita masa lalu, kawasan ini ingin menggabungkan heritage, kuliner, seni, komunitas, hingga aktivitas warga sebagai penggerak ekonomi.

T. Budianto
Last updated: September 22, 2026 3:44 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
KRANGGAN HEBAT: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menghadiri peluncuran Desa Wisata Krabat (Kranggan Hebat) Pecinan di Pasar Gang Baru, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Minggu (20/9/2026). (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Pecinan Semarang selama ini dikenal sebagai kawasan dengan gang-gang tua, kuliner legendaris, klenteng, dan jejak akulturasi budaya Tionghoa-Nusantara. Kini, kawasan tersebut mendapat “panggung” baru sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.

Desa Wisata Krabat (Kranggan Hebat) Pecinan resmi diluncurkan sebagai desa wisata ke-14 di Kota Semarang, Minggu (20/9/2026). Peluncuran berlangsung di Pasar Gang Baru, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan, konsep yang dibangun berbeda dengan desa wisata di kawasan perbukitan seperti Gunungpati dan Mijen.

Krabat Pecinan tumbuh dengan mengandalkan kekuatan yang memang sudah dimiliki kawasan tersebut: sejarah, budaya, kuliner, seni, tradisi, serta kehidupan masyarakat yang masih berjalan hingga sekarang.

Baca juga: Pecinan Semarang Jadi Titik Kumpul Semua Etnis

Menurut Agustina, kuncinya adalah membuat warga menjadi bagian utama dalam pengembangan wisata. Konsep bottom-up dinilai membuat destinasi lebih sesuai dengan karakter kawasan sekaligus memberi dampak ekonomi yang lebih terasa.

“Desa wisata itu tumbuh dari warganya sendiri. Ketika dikembangkan secara bottom-up, masyarakat dan komunitasnya yang membangun secara spesifik. Desa wisata akan jauh lebih hidup, memiliki jiwa, dan dampaknya terasa langsung pada perekonomian warga lokal,” ujar Agustina.

Potensi Pecinan kemudian dikembangkan dengan berbagai cara. Generasi muda ikut dilibatkan, salah satunya melalui Mural Fest 2026. Kompetisi tersebut mengajak pelajar dan mahasiswa mempercantik jalan inspeksi serta gang-gang di kawasan Pecinan. Kegiatan itu mendapat dukungan Mowilex.

Agustina mengapresiasi keterlibatan anak muda yang membawa pendekatan baru dalam merawat kawasan bersejarah. “Anak-anak muda datang membawa warna, mengekspresikan nilai harmoni dan akulturasi di ruang-ruang sejarah kita. Ini proses budaya di mana generasi muda ikut menjaga dan memperindah lingkungan,” ungkapnya.

Berbasis Komunitas

Konsep wisata berbasis komunitas juga mulai dipertemukan dengan pelaku industri pariwisata. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krabat Pecinan menggandeng industri perhotelan, salah satunya Hotel Horison, untuk menyusun paket wisata heritage berbasis komunitas.

Dengan pola tersebut, wisatawan nantinya tak hanya datang, mengambil foto, lalu pergi. Mereka diharapkan bisa menikmati cerita kawasan, mencicipi kuliner, melihat aktivitas budaya, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat.

Aktivitas budaya juga bakal terus menghidupkan kawasan Pecinan. Salah satunya melalui Mooncake Festival 2026 “Cahaya Harmoni Semarang” yang dijadwalkan berlangsung 23-27 September 2026.

Rangkaian acaranya menggabungkan unsur budaya, kuliner, seni, dan komunitas. Informasi penyelenggara juga menyebut festival ini membawa tema harmoni lintas budaya.

Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain Heritage Food Festival di Gang Warung, pertunjukan Gambang Semarang, atraksi Barongsai, tradisi Tok Panjang di Klenteng See Hoo Kiong, video mapping di Klenteng Tay Kak Sie, hingga pagelaran Wayang Kulit di Klenteng Siu Hok Bio.

Baca juga: Tembok Mural hingga Festival Mooncake Internasional, Geliat Wisata Pecinan Semarang

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa potensi wisata Pecinan tidak berhenti pada bangunan bersejarah. Kuliner, pertunjukan, tradisi, seni visual, sampai kehidupan warga menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Kehadiran Desa Wisata Krabat sekaligus mempertemukan berbagai pihak, mulai dari warga, komunitas, pelaku usaha, generasi muda, akademisi, hingga industri pariwisata.

Kolaborasi seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun destinasi yang tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memberi ruang bagi warga untuk ikut mendapatkan manfaat ekonomi.

Jadi, Pecinan sekarang bukan cuma tempat untuk mengenang masa lalu. Kampung lama ini sedang belajar menjual cerita tanpa kehilangan jati dirinya. Dan kalau wisatawan datang membawa kamera, warga berharap mereka pulang bukan cuma membawa foto, tapi juga meninggalkan uang di warung, toko, UMKM, dan kantong-kantong ekonomi kampung. (tebe)

You Might Also Like

Yos Sudarso Mau Jadi Song Wat Road-nya Solo, Arus Lalin Lagi Dirembuk

Kaltim Juara Umum MTQ Nasional ke-31, Jateng Nomor Berapa?

BNN: 50 Nyawa Hilang Tiap Hari Gara-Gara Narkoba

Heboh PPPK Paruh Waktu Ditaruh di Ormas? BKD Jateng: “Itu Hoaks”

Mahasiswa Unnes Diduga Lakukan Pelecehan Seksual: Digerudug Massa, Kampus Buka Suara

TAGGED:agustina wilujengheadlinepecinan semarangpemkot semarangSemarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Belum Sempat Salah Jawab, Dua Peserta Seleksi KI Jateng Sudah Gugur Duluan
Next Article PENERIMAAN MABA - Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H. mengalungkan ID card sebagai simbol selamat datang dan mengikuti upacara penerimaan kepada mahasiswa baru, Selasa (22/9/2026). (ist) Bukan Cuma Gelar, Rektor UPGRIS Tekankan Makna di Balik Prestasi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PENERIMAAN MABA - Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H. mengalungkan ID card sebagai simbol selamat datang dan mengikuti upacara penerimaan kepada mahasiswa baru, Selasa (22/9/2026). (ist)

Bukan Cuma Gelar, Rektor UPGRIS Tekankan Makna di Balik Prestasi

Pecinan Naik Kelas, Kini Jadi Desa Wisata

Belum Sempat Salah Jawab, Dua Peserta Seleksi KI Jateng Sudah Gugur Duluan

Ilustrasi anak terserang Super Flu.

Super Flu Mengintai di 13 Provinsi, IDAI Kasih Warning Orang Tua: Lindungi Anak!

Makin Dewasa, Kenapa Teman Baru Susah Dicari?

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

WJ DKK Tumbangkan Rawa Rontek, Rebut Takhta Clash Squad FF Semarang

Juni 9, 2026
Ekonomi

Bulog-Polda Jateng Gelontorkan 78 Ton Beras Murah

Maret 14, 2026
Plesir

Kuliner Jadi Magnet Baru Wisata Indonesia

Agustus 15, 2026
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. (Ist)
Unik

Pengembangan Koperasi Merah Putih di Semarang, Agustina Gandeng Brida: Banyak Peluang Bisa Diambil

Juli 4, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pecinan Naik Kelas, Kini Jadi Desa Wisata
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?