Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dieng Berselimut Kristal Es Pagi, BMKG Pastikan Itu Bukan Salju Ya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Plesir

Dieng Berselimut Kristal Es Pagi, BMKG Pastikan Itu Bukan Salju Ya

Nugroho P.
Last updated: Juli 9, 2026 9:42 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Bun Upas Dieng.
SHARE

BACAAJA, BANJARNEGARA – Fenomena embun upas kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng saat musim kemarau 2026. Lapisan putih yang menempel di rumput dan dedaunan sukses mencuri perhatian wisatawan sekaligus ramai dibagikan di media sosial.

Banyak orang menyebut pemandangan tersebut sebagai salju tropis. Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan lapisan putih itu bukan salju, melainkan embun beku atau frost.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan embun upas merupakan fenomena alam yang memang rutin terjadi di kawasan Dieng setiap musim kemarau.

Secara ilmiah, embun beku terbentuk ketika suhu udara turun sangat rendah hingga embun yang menempel di permukaan rumput, daun, maupun tanaman berubah menjadi kristal es.

Proses itu berbeda dengan salju. Salju terbentuk dari butiran es yang berasal dari awan dan kemudian jatuh ke permukaan bumi sebagai presipitasi.

Karena bentuknya sama-sama berwarna putih, banyak orang mengira embun upas adalah salju. Padahal keduanya terbentuk melalui proses yang sangat berbeda.

BMKG menjelaskan kemunculan embun upas biasanya mulai terlihat sejak Mei. Namun intensitasnya akan semakin sering terjadi pada Juni hingga September, dengan puncaknya berlangsung sekitar Agustus.

Fenomena tersebut berkaitan erat dengan musim kemarau yang dipengaruhi oleh Monsun Australia. Saat itu, angin dari Australia membawa udara yang lebih kering ke wilayah Indonesia.

Minimnya tutupan awan membuat sinar matahari memanaskan permukaan bumi secara maksimal pada siang hari. Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan tanah cepat terlepas ke atmosfer.

Akibatnya, suhu udara turun cukup drastis menjelang dini hari. Jika suhu mencapai titik beku atau bahkan lebih rendah, embun yang sudah terbentuk akan berubah menjadi kristal es.

Kondisi geografis Dieng yang berada di dataran tinggi juga ikut mendukung terbentuknya embun upas. Kelembapan udara yang cukup tinggi membuat proses pembekuan embun berlangsung lebih mudah.

Meski terlihat cantik, embun upas bisa berdampak pada sektor pertanian. Suhu yang terlalu dingin berpotensi merusak tanaman, terutama sayuran yang banyak dibudidayakan di kawasan Dieng.

Di sisi lain, fenomena ini justru menjadi magnet wisata setiap musim kemarau. Banyak wisatawan sengaja datang sejak dini hari demi menyaksikan hamparan rumput yang berubah putih diselimuti kristal es.

Momen terbaik menikmati embun upas biasanya berlangsung sesaat setelah matahari terbit. Ketika sinar matahari mulai menghangat, lapisan es perlahan mencair dan kembali menjadi embun.

BMKG pun mengingatkan wisatawan agar tetap mempersiapkan diri sebelum berkunjung ke Dieng. Jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, dan perlengkapan hangat lainnya sangat disarankan karena suhu udara bisa turun hingga di bawah 0 derajat Celsius.

Selain menjaga tubuh tetap hangat, pengunjung juga diminta berhati-hati saat berada di area yang tertutup embun beku. Permukaan rumput maupun jalan setapak bisa menjadi lebih licin sehingga berisiko menyebabkan terpeleset.

BMKG memastikan embun upas bukanlah fenomena cuaca yang luar biasa ataupun berbahaya selama masyarakat memahami karakteristiknya. Justru, keunikan inilah yang membuat Dieng selalu memiliki pesona tersendiri setiap musim kemarau tiba. (*)

You Might Also Like

Balik Lagi ke Taman Lele, Sekarang Vibesnya Beda Banget

Owabong Diserbu Libur Lebaran, Pengunjung Membludak Hampir Tiga Puluh Ribu

Lari Sampai Nanjak 82 Km? Di Ungaran, Capek Jadi Wisata

Paket Wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening Dimatangkan

Mau Coba Keong Sawah Rebus Rempah? Ini Takjil Legendaris Purwokerto

TAGGED:bun upasdiengsalju
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kursi Masih Banyak Kosong, SMPN 3 Plered Ungkap Penyebab Sebenarnya Kini
Next Article Hendardi Soroti Dugaan Intervensi, Ingatkan TNI Fokus Jaga Pertahanan Negara Saja

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Nama Tatar Sunda Ramai Dibahas, DPR Ingatkan Kerja Nyata Tetap Prioritas

Isu Pasukan TNI ke Polda Ramai, Mabes Tegaskan Itu Hoaks Provokatif

Campur Pertalite dan Pertamax Turbo? Niat Irit Malah Bikin Boncos Mesin

Kebangetan.. Dana Narkoba Diduga Biayai Umrah Keluarga, Publik Dibikin Geleng Kepala Lagi

Hendardi Soroti Dugaan Intervensi, Ingatkan TNI Fokus Jaga Pertahanan Negara Saja

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Jalur Kabupaten Karangkobar–Batur di Desa Ratamba, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, nyaris putus total.
Info

Jalur Utama ke Dieng via Banjarnegara Lumpuh, Putus Diterjang Longsor

Maret 7, 2026
Plesir

Sambut HUT ke-479 Kota Semarang, Taman Lele Semarang Bersolek

April 20, 2026
Plesir

Semangkuk Jenang dan Cerita Lama Ramaikan Suro Triwindu

Juni 16, 2026
Viral

Gurun Arab Mendadak Putih, Salju Turun Bikin Geger, Fenomena Apa ya?

Desember 26, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dieng Berselimut Kristal Es Pagi, BMKG Pastikan Itu Bukan Salju Ya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?