BACAAJA, JAKARTA – Belakangan ini muncul tren di kalangan pengendara yang mencoba mencampur Pertalite dengan Pertamax Turbo. Alasannya sederhana, ingin mendapatkan BBM yang dianggap lebih berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar.
Umumnya, campuran yang digunakan memiliki komposisi tiga banding satu, yakni tiga bagian Pertalite dan satu bagian Pertamax Turbo. Banyak yang mengira cara ini bisa menghasilkan kualitas bensin setara RON 92 dengan harga lebih hemat.
Padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mencampur dua jenis BBM dengan karakter berbeda justru berpotensi menimbulkan masalah pada performa kendaraan.
Setiap bahan bakar dirancang untuk kebutuhan mesin yang berbeda. Karena itu, mencampurkannya tanpa perhitungan bukanlah langkah yang disarankan.
Pertalite dibuat untuk kendaraan dengan rasio kompresi mesin sekitar 9:1 hingga 10:1. Sementara Pertamax Turbo dirancang khusus bagi mesin berkompresi tinggi, yakni sekitar 12:1 hingga 13:1.
Perbedaan itu bukan hanya soal angka oktan. Formula aditif, karakter pembakaran, hingga kandungan zat di dalamnya juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tipe mesin.
Salah satu pembeda utamanya ada pada kadar sulfur. Pertalite memiliki kandungan sulfur yang jauh lebih tinggi dibanding Pertamax Turbo yang sudah memenuhi standar emisi lebih bersih.
Saat kedua BBM dicampur, formula khusus yang menjadi keunggulan Pertamax Turbo tidak lagi bekerja secara optimal. Efek peningkatan kualitas pembakaran pun bisa berkurang bahkan hilang.
Akibatnya, mesin lebih rentan mengalami knocking atau yang sering disebut ngelitik. Kondisi ini terjadi ketika pembakaran di ruang mesin tidak berlangsung sebagaimana mestinya.
Kalau gejala itu terus dibiarkan, sistem Electronic Control Unit (ECU) kendaraan akan bekerja lebih keras untuk menyesuaikan proses pembakaran. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa memengaruhi performa mesin.
Tenaga kendaraan bisa terasa menurun, tarikan menjadi kurang responsif, dan konsumsi bahan bakar justru berpotensi semakin boros. Artinya, tujuan awal ingin berhemat malah bisa berbalik menjadi pengeluaran tambahan.
Bukan hanya itu, proses pembakaran yang tidak ideal juga dapat mempercepat munculnya kerak di ruang bakar. Endapan tersebut lama-kelamaan bisa membuat injektor lebih cepat kotor.
Jika injektor mulai bermasalah, semprotan bahan bakar menjadi tidak maksimal. Dampaknya, performa kendaraan ikut menurun dan biaya perawatan pun bisa semakin besar.
Karena itu, mencampur Pertalite dan Pertamax Turbo bukan solusi yang tepat untuk menghemat biaya operasional kendaraan. Risiko yang muncul justru lebih besar dibanding manfaat yang diharapkan.
Cara paling aman adalah menggunakan BBM yang memang direkomendasikan oleh pabrikan kendaraan. Rekomendasi tersebut dibuat berdasarkan spesifikasi mesin agar proses pembakaran berlangsung optimal.
Dengan memakai bahan bakar yang sesuai, performa mesin tetap terjaga, konsumsi bensin lebih efisien, dan usia komponen kendaraan juga bisa lebih panjang. Jadi, kalau ingin hemat, pilih BBM sesuai kebutuhan mesin, bukan asal mencampurnya. (*)

