BACAAJA, SEMARANG- Biasanya, sampah baru ramai dibicarakan setelah menggunung, bau menyengat, atau viral di media sosial. Tapi di Semarang, pemerintah mulai mencoba cara berbeda.
Tak perlu menunggu warga mengeluh, teknologi kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) kini bisa mendeteksi tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) secara real time.
Inovasi ini menjadi salah satu bukti transformasi digital yang didorong Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. Hasilnya, Pemkot Semarang sukses membawa pulang dua penghargaan nasional dalam dua hari berturut-turut.
Penghargaan pertama adalah predikat terbaik pertama kategori kota se-Indonesia sekaligus terbaik se-Jawa Tengah dalam ajang Gadjah Mada Digital Transformation Governance Index (GM-DTGI) 2026. Penghargaan diterima Kamis (5/11/2026) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Belum sempat euforianya reda, Jumat malam (6/11/2026), Pemkot Semarang kembali mendapat apresiasi dalam CNN Indonesia Awards 2026. Kali ini, penghargaan kategori Excellence in Smart Waste Management Innovation diraih berkat inovasi pengelolaan sampah berbasis teknologi. Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Utama Detik Network, Abdul Aziz, kepada Agustina di JW Marriott, Jakarta.
Baca juga: Pemkot Raih Dua Penghargaan Hukum
Di balik penghargaan itu, ada AISSA alias Artificial Intelligence Solusi Sampah. Inovasi ini memanfaatkan jaringan CCTV yang sudah tersebar di berbagai wilayah Semarang untuk mengawasi kondisi TPS selama 24 jam.
Cara kerjanya cukup menarik. Kamera menangkap kondisi TPS, kemudian teknologi AI memindai gambar untuk mendeteksi tingkat penumpukan sampah.
Data tersebut diolah menjadi informasi kondisi kebersihan, tren penumpukan harian, hingga peringkat TPS berdasarkan tingkat kepadatan sampah.
Jadi, petugas bisa mengetahui lokasi mana yang harus lebih dulu ditangani. Tak perlu menunggu laporan warga atau menanti foto TPS penuh beredar di grup WhatsApp.
AISSA juga dilengkapi notifikasi berjenjang melalui WhatsApp. Peringatan dikirim kepada petugas kebersihan, pengelola wilayah, hingga jajaran eksekutif jika sampah yang terdeteksi belum ditangani.
Informasi yang dikirim mencakup lokasi, tingkat peringatan, jumlah kontainer, jadwal pengangkutan, foto hasil deteksi, hingga tautan tindak lanjut. Dengan sistem ini, pengangkutan sampah diharapkan lebih tepat sasaran. Titik yang kondisinya sudah mendesak bisa mendapat prioritas sehingga potensi sampah menggunung dapat ditekan.
Ukuran Keberhasilan
Agustina menegaskan, transformasi digital bukan soal seberapa banyak aplikasi yang dimiliki pemerintah. Ukuran keberhasilannya adalah manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurutnya, pengukuran berbasis penelitian seperti GM-DTGI penting untuk mengetahui apakah pelayanan publik sudah sesuai kebutuhan atau masih perlu diperbaiki.
“Yang kita ukur bukan sekadar seberapa banyak teknologi yang digunakan, tetapi sejauh mana teknologi itu mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” jelas Agustina.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan AI harus tetap berada dalam kendali manusia. Teknologi memang bisa mempercepat pekerjaan birokrasi, tetapi keputusan dan tanggung jawab pelayanan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mesin.
“AI menjadi alat bagi kita untuk mendukung dan mewujudkan rencana-rencana pelayanan. Tetapi AI tidak bisa dilepaskan begitu saja. Kendalinya tetap harus ada pada manusia,” tegasnya.
Baca juga: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Raih Penghargaan Pemimpin Perempuan Terpopuler
Agustina menyebut keberhasilan meraih predikat terbaik pertama GM-DTGI merupakan hasil kerja bersama seluruh aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Semarang, bukan hanya satu atau dua organisasi perangkat daerah.
Sebagai informasi, GM-DTGI dikembangkan Pusat Kajian Sistem Informasi (PKSI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Pada 2026, penilaian melibatkan 508 pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia.
Evaluasi dilakukan melalui tujuh pilar dan 50 indikator, mulai dari kepemimpinan, kebijakan dan regulasi, visi-misi, pola pikir, tata kelola data, sumber daya manusia, hingga keamanan siber dan privasi.
Tak hanya di level nasional, AISSA juga mendapat pengakuan internasional melalui Guangzhou International Award for Urban Innovation 2026. Deretan penghargaan ini tentu menjadi modal positif bagi Semarang. Namun, pekerjaan rumah sesungguhnya justru ada setelah seremoni penghargaan selesai.
Sebab, secanggih apa pun AI mendeteksi sampah, teknologi itu tetap tak bisa turun tangan mengangkat plastik, menyapu jalan, atau mengangkut kontainer. Jangan sampai CCTV sudah pintar melihat sampah, tetapi manusia justru lambat membereskannya. Jangan sampai yang naik kelas cuma teknologinya, sementara sampahnya tetap naik gunung. (tebe)

