Tajuk Rencana
KOTA Semarang sedang berada di persimpangan penting dalam menentukan arah masa depan pariwisatanya. Di satu sisi, pemkot telah menunjukkan keseriusan melalui lahirnya Peraturan Wali Kota Nomor 39 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pariwisata Berkualitas.
Regulasi tersebut memuat cita-cita besar: membangun pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, berbasis budaya lokal, serta memberi dampak ekonomi luas bagi masyarakat.
Namun di sisi lain, publik masih bertanya-tanya: sebenarnya pariwisata Kota Semarang ini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Hingga hari ini, wajah pariwisata Semarang masih tampak berjalan tanpa narasi besar yang jelas. Pemerintah memang aktif menggelar berbagai event, festival, konser, hingga agenda seremonial wisata.
Kawasan Kota Lama dipoles, festival budaya rutin digelar, ruang publik diperbaiki, dan promosi media sosial terus dimasifkan. Tetapi di balik geliat tersebut, muncul kesan bahwa pengembangan wisata Kota Semarang masih bergerak secara parsial dan belum benar-benar terintegrasi.
Pariwisata akhirnya sering terlihat hanya sebatas “keramaian sesaat”. Padahal kota yang kuat secara pariwisata biasanya memiliki identitas yang jelas. Yogyakarta dikenal dengan budaya dan pendidikan. Bandung kuat di wisata kreatif dan gaya hidup. Bali memiliki narasi budaya global yang konsisten. Bahkan kota-kota kecil di luar negeri mampu membangun karakter wisata yang tegas dan mudah dikenali.
Lalu Semarang ingin dikenal sebagai kota apa? Apakah Semarang ingin menjadi kota wisata sejarah? Kota wisata budaya? Kota wisata kuliner? Kota event? Kota kreatif? Atau sekadar kota transit sebelum wisatawan menuju Karimunjawa, Solo, atau Yogyakarta? Sampai hari ini, jawaban itu belum benar-benar terasa utuh.
Ibu Kota Provinsi Jateng ini sebenarnya memiliki modal luar biasa besar. Warisan sejarah multikulturalnya kuat. Kota Lama memiliki potensi kelas dunia. Tradisi Dugderan hidup. Warak Ngendog menjadi simbol toleransi yang unik. Kampung-kampung tematik tumbuh. Kuliner lokal kaya. Posisi geografis strategis. Infrastruktur cukup memadai. Bandara, pelabuhan, jalan tol, hingga kereta api mendukung mobilitas wisatawan.
Tetapi semua potensi itu sering berjalan sendiri-sendiri. Belum ada integrasi kuat antar destinasi. Wisatawan datang ke Kota Lama, berfoto, lalu pulang. Kampung wisata hidup sendiri tanpa konektivitas yang baik.
Event ramai saat berlangsung, lalu hilang tanpa efek jangka panjang. UMKM sering hadir sekadar pelengkap seremoni, bukan benar-benar menjadi bagian utama ekosistem wisata.
Yang lebih memprihatinkan, sejumlah persoalan klasik juga belum kunjung selesai. Kebersihan kawasan wisata masih menjadi catatan. Transportasi publik menuju destinasi belum optimal.
Integrasi Digital
Penataan parkir semrawut di beberapa titik. Akses pejalan kaki belum ramah. Informasi wisata minim integrasi digital. Bahkan sebagian warga Kota Semarang sendiri kadang belum merasa memiliki hubungan emosional dengan destinasi wisatanya.
Padahal pariwisata modern hari ini bukan sekadar menjual tempat, melainkan menjual pengalaman dan cerita. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat bangunan tua atau mencicipi makanan, tetapi mencari identitas kota yang otentik. Mereka ingin merasakan karakter lokal, interaksi sosial, budaya hidup, hingga atmosfer kota yang khas.
Karena itu, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan event besar dan proyek fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem wisata yang hidup dan berkelanjutan.
Perwali Nomor 39 Tahun 2024 sejatinya sudah memuat semangat itu. Ada visi tentang pelibatan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, hingga keberlanjutan lingkungan. Namun tantangan terbesar selalu terletak pada implementasi.
Apakah regulasi itu benar-benar menjadi panduan pembangunan? Ataukah hanya akan berhenti sebagai dokumen administratif yang bagus di atas kertas?
Pemkot Semarang perlu segera memperjelas arah besar pariwisata kota ini. Tidak cukup hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan atau viralitas media sosial. Yang lebih penting adalah membangun identitas pariwisata yang kuat, konsisten, dan berkelanjutan.
Komunitas lokal harus diberi ruang lebih besar. Pelaku ekonomi kreatif jangan hanya dilibatkan saat festival. Kampung-kampung budaya perlu didukung serius. Wisata sejarah harus dikemas lebih hidup. Transportasi wisata perlu diintegrasikan. Teknologi digital harus dimanfaatkan lebih maksimal.
Yang tak kalah penting, pembangunan pariwisata harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Sebab keberhasilan wisata bukan diukur dari ramainya event atau megahnya panggung hiburan, tetapi dari sejauh mana ekonomi warga ikut tumbuh.
Semarang tidak kekurangan potensi. Yang selama ini tampak kurang justru keberanian menentukan arah. Karena tanpa identitas yang jelas, pariwisata hanya akan menjadi agenda keramaian musiman. Kota ramai sesaat, media sosial penuh konten beberapa hari, lalu semuanya kembali biasa.
Dan jika itu terus terjadi, maka pertanyaan publik akan tetap sama: sebenarnya pariwisata Kota Semarang ini mau dibawa ke mana? (*)

