BACAAJA, SEMARANG– Urusan bantuan sosial kadang lebih rumit daripada mengurus administrasi kependudukan. Ada warga yang merasa layak menerima bantuan, tetapi namanya tak tercantum. Ada pula yang sebelumnya menerima, tiba-tiba justru hilang dari daftar.
Persoalan itulah yang coba dijawab Pemprov Jateng lewat program Pandu Tangguh. Diluncurkan Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen bersama Ketua Tim Pembina Posyandu (TP PKK) Jateng, Nawal Arafah Yasin di Grhadika Bhakti Praja, Senin (2/11/2026), program ini melibatkan kader Posyandu untuk membantu warga memperbaiki data bantuan sosial.
Bukan sekadar menimbang balita atau mencatat kesehatan ibu dan anak, kader Posyandu nantinya juga dibekali kemampuan menggunakan portal Perlinsos Digital. Mereka akan mendampingi masyarakat mengakses layanan, mengajukan sanggahan, hingga memperbaiki data yang tidak sesuai.
Nawal mengatakan, Pandu Tangguh merupakan bagian dari transformasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), terutama dalam bidang sosial. Kader dari Posyandu di 35 kabupaten/kota akan mendapat pelatihan sebelum turun mendampingi masyarakat.
Baca juga: Ojol Jateng Bisa Cek Peluang Bansos 2027 Lewat HP, Tak Perlu Bolak-balik Kantor
“Jadi pada hari ini kita me-launching Pandu Tangguh, bagaimana nanti kader-kader di Posyandu 35 kabupaten/kota ini kita latih, untuk bagaimana cara menggunakan aplikasi Perlinsos,” katanya seusai Rapat Koordinasi Tim Pembina Posyandu Kabupaten/Kota se-Jateng.
Sasaran pendampingan terutama kelompok rentan, seperti perempuan miskin, penyandang disabilitas, dan lanjut usia. Kelompok ini dinilai membutuhkan bantuan lebih agar tidak kesulitan mengakses layanan digital.
Nawal mengungkapkan, persoalan data bansos masih ditemukan di lapangan. Ada warga yang masuk kelompok desil yang tidak sesuai dengan kondisi ekonominya. Ada pula masyarakat kurang mampu yang belum tercatat sebagai penerima bantuan, bahkan warga yang sebelumnya mendapatkan bantuan tetapi kemudian dicoret.
Pengajuan Sanggahan
Melalui Pandu Tangguh, kader Posyandu diharapkan bisa membantu warga memahami proses pengajuan sanggahan ketika data atau status penerima bantuan tidak sesuai.
“Dan terus juga bagaimana ketika mengajukan satu bantuan, ternyata ditutup (dicoret) bantuannya, bagaimana caranya menjawab sanggahan yang ada di aplikasi ini,” ungkap Nawal.
Wagub Taj Yasin mengapresiasi peluncuran program tersebut. Menurutnya, pendampingan kader Posyandu dapat mempermudah warga menyampaikan sanggahan dan mengusulkan penilaian berdasarkan kondisi sebenarnya.
Baca juga: 322 Ribu KK Jateng Masuk Sistem Perlinsos Digital
“Ketika masyarakat didampingi oleh Posyandu, bagaimana nanti ada sanggahan, mengusulkan penilaian yang harus masuk, ini akan memudahkan masyarakat,” ujar Gus Yasin.
Program ini juga sejalan dengan Kecamatan Berdaya yang digagas Gubernur Jateng. Melalui program tersebut, Pemprov mendorong pemberdayaan dan pendampingan kelompok rentan, mulai ibu, lansia, anak-anak, hingga penyandang disabilitas.
Taj Yasin berharap kader Posyandu bisa berkolaborasi dengan operator pendataan di tingkat desa agar akurasi data kesejahteraan sosial meningkat dan penyaluran bantuan lebih tepat sasaran.
“Kami berharap Posyandu nanti juga bisa memberikan pendampingan langsung, berkolaborasi dengan operator pendataan yang ada di desa masing-masing,” pungkasnya.
Pada akhirnya, aplikasi boleh makin canggih, tetapi tidak semua warga otomatis mahir menggunakannya. Sebab, bagi masyarakat yang sedang berjuang mendapatkan bantuan, satu orang yang mau mendampingi kadang jauh lebih berarti daripada sederet tombol di layar ponsel. (tebe)

