BACAAJA, SEMARANG– Musim hujan bukan sekadar soal membawa payung atau jas hujan. Bagi Kota Semarang, ini juga waktunya memastikan pompa tak mogok, saluran air tak mampet, dan petugas siap bergerak ketika banjir maupun bencana datang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Apalagi, BMKG memprakirakan puncak musim hujan berlangsung pada Januari hingga Februari 2027.
Sejumlah persiapan disiapkan, mulai dari infrastruktur pengendali banjir, personel, logistik darurat, hingga sistem peringatan dini. Agustina meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait tidak menunggu keadaan darurat untuk bergerak.
“Seluruh perangkat daerah bersama jajaran terkait harus siaga penuh dan bergerak cepat. Mitigasi dan kesiapan infrastruktur, mulai dari sistem pompa hingga logistik darurat, harus dipastikan berfungsi optimal untuk melindungi masyarakat dari potensi genangan dan bencana,” tegas Agustina.
Baca juga: Delapan Pompa Ngebut Sedot Banjir Semarang
Dari sisi infrastruktur, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Suwarto menyebut ada 119 unit pompa yang disiapkan. Sebanyak 101 unit di antaranya merupakan pompa portabel. Total kapasitas seluruh pompa mencapai 92.190 liter per detik.
Pompa-pompa tersebut tersebar di wilayah timur, tengah, dan barat Kota Semarang serta disiapkan beroperasi selama 24 jam. Kesiapan juga didukung 66 dump truck dan 57 alat berat.
Bukan cuma menyiapkan mesin, DPU juga sudah melakukan pengerukan sedimen dan pembersihan saluran sejak Maret 2026. Pekerjaan menjangkau sekitar 38 hingga 41 titik sungai dan saluran besar, termasuk kawasan Kaligawe, Tlogosari, Jalan Gajah, serta wilayah tengah dan selatan kota.
“Teman-teman di lapangan memastikan kesiapan sistem pompa saat ini dalam kondisi fit dan sehat untuk menghadapi musim penghujan. Pengerukan dan normalisasi di puluhan sungai serta saluran besar juga terus kami kebut untuk memperlancar aliran air,” ujar Suwarto.
Posko Siaga
Sementara itu, urusan tanggap darurat dikawal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang bersama Tim Reaksi Cepat (TRC). Mereka menyiapkan posko siaga, mekanisme respons cepat, logistik darurat, dan peralatan operasional.
Sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) juga diperkuat. Pemantauan tinggi muka air dilakukan secara berkala, disertai pemetaan wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
Sebelumnya, Agustina telah menggelar Apel dan Gladi Lapang Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana pada 20 Oktober 2026. Kegiatan itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kelurahan, hingga jaringan relawan.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro P. Martanto mengatakan posko, peralatan, dan logistik darurat telah disiagakan bersama para pemangku kepentingan dan relawan.
Baca juga: Pompa Baru, Harapan Baru: Semarang Gaspol Lawan Banjir!
“Kami menyiagakan posko, peralatan, serta logistik darurat secara terpadu bersama seluruh pemangku kepentingan dan jejaring relawan. Kesiapsiagaan ini krusial untuk memastikan respons cepat di lapangan jika terjadi kondisi darurat,” jelas Endro.
Masyarakat juga diminta ikut waspada terhadap perubahan cuaca. Jika terjadi bencana, membutuhkan informasi darurat, atau memerlukan bantuan evakuasi, warga bisa menghubungi Call Center 112. Dengan 119 pompa, puluhan alat berat, posko, dan personel siaga, berbagai perangkat sudah dipersiapkan. Namun, kesiapsiagaan bukan cuma soal berapa banyak mesin yang tersedia. Ujian sesungguhnya adalah seberapa cepat semuanya bekerja ketika hujan turun dan air mulai naik. Jangan sampai yang siaga hanya daftar inventaris, sementara warga keburu kebanjiran. (tebe)

