BACAAJA, SEMARANG- Belajar soal bahan alam dan bioteknologi ternyata tak cukup hanya mengandalkan buku tebal, slide presentasi, atau praktikum di laboratorium kampus. Sesekali, mahasiswa perlu turun langsung melihat bagaimana kekayaan hayati diolah menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi.
Pengalaman itulah yang didapat tak kurang seratus mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (Stifar) Yayasan Pharmasi Semarang saat mengunjungi PT Albitec Spirulina Farm di Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (3/11/2026).
Bukan sekadar jalan-jalan akademik, kunjungan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintip langsung proses budidaya spirulina, mikroalga yang punya potensi besar dalam pengembangan produk kesehatan, farmasi, hingga industri pangan fungsional.
Rombongan mahasiswa Program Studi S1 Farmasi tersebut didampingi dosen Dr Lia Kusmita, M.Sc dan Dr apt Yuvi Dwi Franyoto. Turut hadir Sekretaris Program Studi S1 Farmasi, Dr apt Bekti Nugraheni, M.Sc.
Ketua Program Studi S1 Farmasi Stifar Yayasan Pharmasi Semarang, Dr apt Kyky Herlyanti, MSc mengatakan, kunjungan industri tersebut merupakan bagian dari implementasi pembelajaran luar kampus untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah Marine Bioteknologi.
Mata kuliah tersebut menjadi salah satu unggulan Program Studi S1 Farmasi dengan fokus pada pemanfaatan biodiversitas atau keanekaragaman hayati sebagai kekhasan program studi.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana penerapan Marine Bioteknologi, mulai dari proses kultivasi, produksi hingga pemanfaatan spirulina sebagai sumber daya hayati yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Luar Kampus
Menurut Kyky, pembelajaran di luar kampus menjadi jembatan antara teori yang diperoleh mahasiswa di ruang kuliah dengan praktik nyata di dunia industri.
Dengan melihat langsung proses budidaya, mahasiswa bisa memahami bahwa menghasilkan bahan baku hayati tidak sesederhana membahas kandungan atau manfaatnya dalam buku teks. Ada tahapan kultivasi, produksi, hingga pengembangan yang perlu dipahami.
Pemilihan PT Albitec Spirulina Farm juga memberikan pengalaman kontekstual mengenai bagaimana biodiversitas dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah.
Spirulina sendiri dikenal sebagai mikroalga yang mengandung berbagai nutrisi dan berpotensi dimanfaatkan untuk pangan fungsional, kesehatan, serta pengembangan produk berbasis bahan alam.
Potensi tersebut membuat spirulina menarik untuk dipelajari dari sudut pandang farmasi dan bioteknologi. Apalagi, perkembangan industri kesehatan semakin membuka peluang pemanfaatan sumber daya alam melalui riset, inovasi, dan teknologi.
Bagi mahasiswa, pengalaman ini diharapkan memperluas wawasan mengenai peluang pengembangan bahan baku alami sekaligus memahami keterkaitan antara ilmu farmasi dan kebutuhan industri.
Pada akhirnya, kuliah di luar kampus bukan sekadar pindah lokasi belajar atau berburu foto bersama. Mahasiswa juga perlu melihat bahwa ilmu yang dipelajari punya peluang menjadi produk nyata.
Sebab, jangan sampai hafal segudang manfaat spirulina, tetapi ketika ditanya bagaimana proses produksinya, jawabannya masih sebatas membuka buku catatan. (tebe)

