BACAAJA, SEMARANG- Polrestabes Semarang memusnahkan ribuan karung bawang bombai ilegal, Senin (26/1/2026). Pemusnahan dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB di Instalasi Karantina Hewan milik Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jateng, Kota Semarang.
Barang bukti tersebut merupakan hasil pengamanan enam unit truk fuso yang mengangkut bawang bombai dari kapal KM Dharma Kartika VII asal Pontianak. Seluruh komoditas diketahui tidak dilengkapi dokumen resmi dan tidak melalui prosedur karantina.
Kasus ini merupakan hasil penyidikan Unit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polrestabes Semarang. Sebelumnya, petugas mengamankan bawang bombai ilegal tersebut di kawasan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang pada Jumat, 2 Januari 2026.
Baca juga: Warga Kalbar Tersangka Penyelundupan Ratusan Ton Bawang Bombai di Semarang
Berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri Kota Semarang Nomor 1/Pen.Mus.BB/2026/PN Smg tertanggal 21 Januari 2026, total barang bukti yang dimusnahkan mencapai 6.171 karung bawang bombai. Proses pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar dan ditimbun di area balai karantina.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M Syahduddi mengatakan, pemusnahan wajib dilakukan karena bawang bombai tersebut masuk ke Indonesia tanpa dokumen resmi dan berpotensi membawa penyakit.
Rugikan Negara
“Komoditas ini bisa mengandung bakteri atau jamur berbahaya dan jelas merugikan sektor pertanian nasional,” ujar Syahduddi. Ia mengungkapkan, bawang bombai ilegal tersebut berasal dari beberapa negara, di antaranya Tiongkok dan India. Barang masuk ke Indonesia melalui jalur darat dari Malaysia menuju Pontianak, sebelum dikirim ke Pulau Jawa.
“Rencananya bawang bombai ini akan diedarkan ke sejumlah wilayah di Jawa,” katanya. Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan satu tersangka berinisial ABS, warga Pontianak. Tersangka diduga berperan sebagai pengendali utama distribusi bawang bombay ilegal tersebut.
Baca juga: 123 Ton Bawang Gelap Nyelonong ke Semarang
“Tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain. Kami sudah mengantongi beberapa nama,” tambah Syahduddi. ABS dijerat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, khususnya Pasal 86 dan Pasal 88, dengan ancaman pidana penjara minimal dua tahun dan maksimal empat tahun.
Bawangnya memang impor, tapi jalurnya gelap. Bukannya masuk pasar, malah berakhir dibakar. Pesannya sederhana: di negeri agraris, bawang pun wajib punya “paspor”. (tebe)

