Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Benteng Pendem Ambarawa: Kini Tak Lagi Sunyi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Plesir

Benteng Pendem Ambarawa: Kini Tak Lagi Sunyi

T. Budianto
Last updated: Januari 26, 2026 4:44 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
RAMAI DIKUNJUNGI: Suasana Benteng Fort Willem I atau yang lebih dikenal dengan Benteng Pendem Ambarawa yang kini ramai dikunjungi wisatawan, beberapa waktu lalu. (Foto: dul)
SHARE

Di tepi jalan utama Ambarawa, bangunan besar bercat kusam itu dulu sering dilewati begitu saja. Orang mungkin melirik sekilas, lalu bertanya dalam hati: bangunan apa ini? Sebagian lagi memilih tak mendekat, terlalu rimbun, terlalu gelap, terlalu sunyi.

 

KINI, suasananya berbeda. Benteng Pendem Ambarawa, atau yang dikenal sebagai Fort Willem I, pelan-pelan bangkit dari keterlupaan. Setelah direvitalisasi, bangunan peninggalan kolonial Belanda ini menjelma menjadi ruang belajar sejarah sekaligus destinasi wisata edukasi yang ramai pengunjung.

Benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1833 dan rampung pada dekade 1840-an. Di masa kolonial, Ambarawa bukan wilayah biasa. Letaknya strategis, menghubungkan Semarang, Magelang, dan Salatiga, menjadikannya titik penting pertahanan militer Belanda di Jateng.

“Benteng ini memang sejak awal dibangun sebagai benteng pertahanan,” ujar Heni, salah satu tim marketing Benteng Willem I Ambarawa, saat ditemui di lokasi, belum lama ini.

Baca juga: Sebelas Event Wisata Jateng Masuk KEN 2026

Nama “Benteng Pendem” sendiri lahir bukan dari arsip resmi, melainkan dari lidah masyarakat. Sebagian bangunan berada di bawah permukaan tanah, seolah tersembunyi, terpendam oleh waktu dan lapisan sejarah. Dari situlah sebutan itu melekat hingga kini.

Namun perjalanan benteng ini tak berhenti sebagai simbol pertahanan kolonial. Seiring bergulirnya zaman, fungsi bangunan pun berubah. “Benteng ini sempat digunakan sebagai lapas. Bahkan ada ruangan yang dulu jadi tempat tinggal pegawai lapas beserta keluarganya,” kata Heni.

Perubahan fungsi itu meninggalkan jejak. Lorong-lorong panjang, ruang sempit, dan dinding tebal menjadi saksi bagaimana bangunan kolonial ini terus hidup, meski perlahan kehilangan perhatian.

Belum Tertata

Sebelum direvitalisasi, Benteng Pendem sebenarnya tak sepenuhnya mati. Sesekali ada pengunjung datang, kebanyakan warga sekitar. Namun pengelolaannya belum tertata, belum benar-benar menjadi tempat wisata.

“Dulu masih menerima pengunjung, tapi belum tersistem. Lebih ke warga lokal saja,” ujar Heni. Kondisinya pun jauh dari ramah. Banyak area dipenuhi tanaman liar, semak belukar, dan kesan angker yang menyengat.

“Masih seperti hutan belantara. Kadang orang takut masuk,” kenangnya. Padahal, rasa penasaran masyarakat sudah lama tumbuh. Bangunan besar yang berdiri kokoh di pinggir jalan itu selalu memancing tanya. “Kalau saya pribadi, dulu sering lewat sini dan mikir, ini bangunan apa ya? Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan,” kata Heni.

Titik balik datang saat proses revitalisasi dimulai. Alih-alih sepi, kawasan ini justru mulai ramai, bahkan sebelum resmi dibuka. “Waktu masih pembangunan saja, animonya sudah besar. Banyak orang pengin lihat hasilnya seperti apa,” ujarnya.

Kini, setelah dibuka untuk umum, Benteng Pendem Ambarawa berubah wajah. Area yang dulu rimbun kini lebih tertata. Jalur pengunjung lebih aman. Ruang-ruang tua yang dulu gelap mulai diisi cerita dan penjelasan sejarah.

Pengunjung pun datang dari berbagai kalangan. Namun satu kelompok paling menonjol: pelajar. “Banyak anak-anak sekolah yang datang. Mereka belajar sejarah langsung di tempatnya,” tutur Heni.

Baca juga: Jateng Jadi Provinsi Paling Cuan dari Pariwisata, Kalahkan Bali dan Jogja

Bagi mereka, Benteng Pendem bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang belajar hidup, tempat sejarah tak hanya dibaca, tapi dirasakan. Meski begitu, revitalisasi ini belum sepenuhnya selesai. Dari keseluruhan kompleks benteng, baru sekitar sepertiga area yang tersentuh pembenahan. “Yang direvitalisasi baru sekitar sepertiganya,” kata Heni.

Artinya, masih ada ruang, secara harfiah dan simbolis bagi sejarah untuk terus digali dan dihidupkan. Kini, Benteng Pendem Ambarawa berdiri sebagai pengingat bahwa bangunan tua bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia bisa menjadi jembatan: antara generasi, antara cerita lama dan cara baru untuk memahaminya.

Dulu, orang lewat sambil bertanya-tanya. Sekarang, orang datang sambil belajar dan bercerita. Benteng yang sempat “terpendam” itu akhirnya menemukan suaranya kembali, pelan, tapi pasti. (dul)

 

You Might Also Like

Viral! Motor Bonceng Tiga Nekat Lawan Arah di Tol Batang, Ini Kata Jasa Marga

Gus Dur Jadi Pahlawan Bukan karena Pernah Jadi Presiden!

Akhirnya Sejoli Aktivis Dera-Munif Keluar dari Tahanan

Tamu dari Beijing Datang, Puan Curhat Soal Banjir & Drama Dunia

Akhmad Munir Resmi Jadi Ketum PWI, Janji Akhiri Drama Dua Kubu

TAGGED:benteng pendem ambarawadisporapar jatengheadlinewisata jateng
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Bawang Ilegal Masuk Oven: 6.171 Karung Dimusnahkan di Semarang
Next Article Noel Tuding KPK Konten Kreator, “Hukum Mati Saya Kalau Terbukti Korupsi”

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Tengah, Haryono Agus Setiawan. (bae)

Fakta Jaringan Love Scamming di Semarang, Izin Tinggal 4 WNA China Kedaluwarsa

LAYANI PELANGGAN - Pelaku usaha fotokopi di Ngaliyan, Semarang, sedang melayani pelanggan. Mereka mengaku empot-empotan menghadapi harga kertas yang terus melambung tinggi, dampak melemahnya rupiah. (dul)

Harga Kertas Melambung Tinggi, Pelaku Usaha Fotokopi Ketar-ketir

KETUA PERADI SAI SEMARANG - Ketua DPC Peradi SAI Kota Semarang, Luhut Sagala (tengah) mengumumkan perubahan nama dan logo organisasi dalam acara buka bersama anggota di Aroem Resto Semarang, Selasa (3/3/2026). (bae)

Luhut Sagala Kembali Pimpin Peradi SAI Kota Semarang, Ini Fokus Agenda Kerjanya

ROKOK - Ilustrasi produk turunan tembakau berupa rokok.

Harga Rokok Ikut Terkerek Naik Meski Tak Ada Penyesuaian Tarif Cukai

KANTONG PLASTIK - Ilustrasi pedagang memasukkan barang yang dibeli pelanggan ke dalam kantong plastik.

Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

TERTAWA ALA NEGERI WACANDA - Pertunjukan tetaer Keraton Siluman yang penuh kritik sosial yang dibungkus dalam canda tawa, sukses mengocok perut penonton di UPGRIS, Sabtu (23/5/2026). (dul)
Info

Tawa Renyah Pecah di UPGRIS! Keraton Siluman Bikin Penonton Gergeran Gak Bisa Diam

Mei 24, 2026
Ekonomi

Jateng-Aceh Resmi Kerja Sama Ekonomi, Deal Rp1 Triliun

April 24, 2026
Saeul dan Thiery, dua sopir bus profesional lulusan JIDS di bawah naungan LPK Hiro Karanganyar, yang saat ini diterima bekerja di perusahaan transportasi umum Jepang, Hiroshima Kotsu.
Info

Saeful dan Thiery Deg-degan, 2 Sopir Bus Profesional Lulusan JIDS Bekerja di Hiroshima Kotsu Jepang

April 18, 2026
Menteri Supratman Andi Agtas didampingi Dirjen AHU berfoto bersama Pengurus DPP PDI Perjuangan periode 2025-2030 usai menyerahkan SK pengurus DPP PDI Perjuangan, Kamis (11/9/2025) Foto: dok.
Nasional

SK Pengesahan Kepengurusan DPP PDIP 2025-2030 Resmi Diserahkan Kemenkum

September 11, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Benteng Pendem Ambarawa: Kini Tak Lagi Sunyi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?