Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Stunting Jateng 9,93 Persen, Demak dan Semarang Jadi Contoh
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Stunting Jateng 9,93 Persen, Demak dan Semarang Jadi Contoh

Angka stunting di Jateng memang terus turun, tetapi jarak antarwilayah masih lebar. Demak dan Kabupaten Semarang pun diminta berbagi resep agar daerah lain bisa mengejar.

T. Budianto
Last updated: September 22, 2026 5:45 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
PIAGAM PENGHARGAAN: Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyerahkan piagam penghargaan kepada perwakilan daerah dalam acara Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel, Kota Semarang, Selasa (22/9/2026). (Foto: Pemprov Jateng)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Penanganan stunting di Jateng memasuki babak baru. Setelah angka prevalensi provinsi turun menjadi 9,93 persen, pemerintah daerah kini diminta tidak bekerja sendiri-sendiri.

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mendorong Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang menjadi contoh bagi daerah lain. Dua wilayah tersebut disebut mampu menekan prevalensi stunting hingga sekitar dua persen.

Hal itu disampaikan Luthfi dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel, Kota Semarang, Selasa (22/9/2026).

Berdasarkan data triwulan II 2026, prevalensi stunting Jawa Tengah berada di angka 9,93 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan sejak 2024. Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai karena masih terdapat kesenjangan cukup lebar antarwilayah.

Baca juga: Lawan Stunting dari Hulu, Pemprov Jateng Gandeng BKKBN

Beberapa daerah masih mencatat angka prevalensi tinggi. Wonosobo berada di angka 18,05 persen, Purworejo 16,62 persen, Banjarnegara 16,24 persen, Kabupaten Magelang 15,82 persen, dan Kabupaten Tegal 15,59 persen.

Di sisi lain, Demak dan Kabupaten Semarang disebut telah mencapai angka sekitar dua persen. Luthfi meminta organisasi perangkat daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota mempelajari langkah yang telah dilakukan dua daerah tersebut.

Praktik baik itu diharapkan bisa ditiru, disesuaikan, dan diterapkan sesuai kondisi masing-masing wilayah. “Seluruh daerah saya minta agar belajar dengan Demak dan Semarang,” kata Luthfi.

Menurut Luthfi, penanganan stunting membutuhkan kerja bersama secara menyeluruh. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan pemerintah provinsi, tetapi juga pemerintah pusat, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa.

Dia menyebut tingginya angka stunting bisa dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari asupan gizi yang kurang, kondisi lingkungan, sanitasi, hingga pola hidup masyarakat.

Karena itu, daerah dengan prevalensi tinggi diminta melakukan pendataan secara valid. Data yang akurat dinilai penting agar program penanganan benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. “Penanganan stunting harus dilakukan bersama-sama secara komprehensif sesuai kewenangan masing-masing,” ujarnya.

Stunting Nasional

Sementara itu, Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Sekretariat Wakil Presiden, Eddy Cahyono Sugiarto, mengatakan angka stunting nasional saat ini masih berada di level 19,8 persen.

Pemerintah menargetkan prevalensi tersebut turun menjadi sekitar 14-15 persen pada 2029. Artinya, masih ada pekerjaan besar yang harus dikejar dalam waktu tersisa.

Eddy mengatakan, pengalaman baik dari Demak dan Kabupaten Semarang akan menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain. Replikasi praktik tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung di kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi juga bisa diterapkan di wilayah lain di Indonesia.

“Tadi juga ada good lessons atau pelajaran baik dari dua kabupaten, yang akan kami replika untuk ditiru di daerah lain. Semoga apa yang sudah dilakukan Jawa Tengah ini bisa menjadi trigger atau pemicu daerah lain melakukan langkah serupa,” katanya.

Baca juga: Jateng Ngebut Tekan Kemiskinan, Tapi Udah Cukup Belum?

Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Budi Setiyono menambahkan, persoalan stunting di Indonesia masih membutuhkan perhatian serius.

Penanganannya juga akan disinergikan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang belum mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD).

Menurut Budi, sinergi tersebut diharapkan membuat program penanganan lebih efektif karena daerah memiliki dukungan untuk menyesuaikan sasaran penerima manfaat dengan tujuan MBG.

Dengan demikian, penanganan stunting tidak berhenti pada penurunan angka di atas kertas. Pemerintah juga perlu memastikan intervensi benar-benar menyentuh keluarga, ibu, dan anak yang membutuhkan.

Sebab, kalau Demak dan Kabupaten Semarang sudah punya resep, daerah lain tinggal belajar. Yang jangan sampai terjadi, angka stunting sibuk dihitung, sementara urusan gizi dan sanitasi masih dibiarkan jalan kaki. (tebe)

You Might Also Like

Siap-Siap! UMP Jateng 2026 Bakal Diumumkan 21 November

ARPI Sorot Status Karyawan SPPG: Itu Masuk Kategori Pekerja, Kenapa Disebut Relawan?

Hari Gajah Sedunia, Zella Semarang Zoo Pesta Tumpengan Buah

Luthfi Buka Suara Kasus 707 Siswa-Guru SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan MBG

Banjir yang Naik Kelas: Alarm Keras untuk Tata Ruang Kota Semarang

TAGGED:ahmad luthfiheadlinepemprov jatengstunting
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PENERIMAAN MABA - Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H. mengalungkan ID card sebagai simbol selamat datang dan mengikuti upacara penerimaan kepada mahasiswa baru, Selasa (22/9/2026). (ist) Bukan Cuma Gelar, Rektor UPGRIS Tekankan Makna di Balik Prestasi
Next Article Ospek Maba UPGRIS Angkat Konflik Agraria, Caping Jadi Simbol Sikap

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ospek Maba UPGRIS Angkat Konflik Agraria, Caping Jadi Simbol Sikap

Stunting Jateng 9,93 Persen, Demak dan Semarang Jadi Contoh

PENERIMAAN MABA - Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H. mengalungkan ID card sebagai simbol selamat datang dan mengikuti upacara penerimaan kepada mahasiswa baru, Selasa (22/9/2026). (ist)

Bukan Cuma Gelar, Rektor UPGRIS Tekankan Makna di Balik Prestasi

Pecinan Naik Kelas, Kini Jadi Desa Wisata

Belum Sempat Salah Jawab, Dua Peserta Seleksi KI Jateng Sudah Gugur Duluan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Seniman senior Yogyakarta Susilo Nugroho, yang dikenal luas lewat karakter ikonik Den Baguse Ngarsa.
Info

Den Baguse Ngarsa Berpulang, Dunia Seni-Budaya Jogja Kehilangan Salah Satu Cahaya Terangnya

September 21, 2026
Pangeran Arab Saudi, Al Waleed bin Khalid meninggal dunia pada Sabtu (19/7/2025) usai koma 20 tahun.
Unik

‘Pangeran Tidur’ Arab Saudi Meninggal Dunia setelah 20 Tahun Hidup dalam Kondisi Koma

Juli 20, 2025
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, meninjau lokasi kebakaran di Jalan Pesanggrahan Raya, Kelurahan Mlatibaru, Kota Semarang, Jumat (25/7) sore.
Unik

Agustina Janjikan Rp40 Juta untuk Bangun Ulang Rumah Korban Kebakaran Tewaskan 5 Orang

Juli 26, 2025
Hukum

Kacau Nih, Pejabat Klaten Bancakan Duit Sewa Plasa

Desember 4, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Stunting Jateng 9,93 Persen, Demak dan Semarang Jadi Contoh
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?