BACAAJA, GROBOGAN- Urusan bantuan sosial ternyata bukan cuma soal siapa yang membutuhkan, tetapi juga bagaimana kondisi kesejahteraan masyarakat tercatat dalam data.
Karena itu, memahami kategori desil menjadi penting agar warga tidak bingung ketika berhadapan dengan sistem pendataan dan sasaran program pemerintah.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Grobogan untuk menggelar sosialisasi kategori desil bagi warga binaan dan keluarga, Senin, (12/10/2026).
Baca juga: Lapas Purwodadi Bantu Bedah Rumah Warga
Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi warga binaan untuk mengenal pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan data sosial ekonomi. Sejumlah pejabat struktural Lapas Purwodadi dan perwakilan BPS Grobogan turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam sosialisasi itu, peserta mendapat penjelasan mengenai pengertian desil, dasar pengelompokan kesejahteraan, hingga pemanfaatan data sosial ekonomi dalam menentukan sasaran bantuan dan kebijakan pemerintah.
Sasaran Program
Perwakilan BPS Kabupaten Grobogan menjelaskan, pemahaman tentang kategori desil penting agar masyarakat mengetahui bagaimana data digunakan dalam proses penentuan sasaran program pemerintah.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap warga binaan dan keluarga dapat memahami konsep desil dengan baik, termasuk bagaimana data sosial ekonomi digunakan untuk mendukung penentuan sasaran program pemerintah secara lebih tepat,” ungkap perwakilan BPS saat menyampaikan materi.
Pihak Lapas Purwodadi menyambut baik kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan warga binaan. “Edukasi ini sekaligus mengingatkan pentingnya data yang valid dan sesuai dengan kondisi sebenarnya dalam proses pendataan sosial ekonomim” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB, Purwodadi, Erik Murdiyanto.
Baca juga: Lapas Purwodadi Sosialisasi Pembebasan dan Cuti Bersyarat
Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Purwodadi berharap kerja sama dengan BPS Grobogan terus berlanjut, terutama dalam menghadirkan informasi publik yang mudah dipahami warga binaan maupun keluarga mereka.
Sebab, data kesejahteraan bukan sekadar deretan angka dalam tabel. Di baliknya, ada kebutuhan masyarakat yang harus dipetakan secara tepat. Jangan sampai yang paling membutuhkan justru tersisih hanya karena data tak menggambarkan kenyataan, sebab dalam urusan kesejahteraan, angka boleh berkelompok, tetapi kebutuhan manusia tak bisa sekadar ditebak-tebak. (tebe)

