BACAAJA, SEMARANG- Program Sekolah Pelopor Ekonomi dan Keuangan Syariah (SPES) Jateng dinilai menjadi langkah penting dalam menyiapkan generasi muda yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter ekonomi yang berintegritas.
Hal itu disampaikan Direktur Industri Produk Halal Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jateng sekaligus Kepala Badan Ekonomi Syariah Kadin Jateng, Dr H Agung Budi Margono saat menjadi narasumber dalam kegiatan workshop SPES Jateng yang diikuti ratusan guru SMA dan SMK dari berbagai kabupaten/kota di Ballroom Hotel MG Setos, Semarang, belum lama ini.
Menurut Agung, selama ini ekonomi syariah masih sering dipahami secara sempit, seolah hanya berkaitan dengan perbankan syariah atau urusan ibadah. Padahal, inti dari ekonomi syariah adalah membangun sistem ekonomi yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Baca juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Sektor Wisata dan Ekonomi Syariah Digenjot
“Ekonomi syariah bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia justru sangat dekat dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika kita mengajarkan kejujuran, amanah, gotong royong, tanggung jawab, dan keadilan dalam aktivitas ekonomi, sesungguhnya kita sedang mengimplementasikan nilai-nilai ekonomi syariah sekaligus mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ekonomi syariah tidak berhenti pada pembahasan halal dan haram, tetapi juga mendorong terciptanya kemaslahatan masyarakat melalui penguatan sektor riil, pengembangan UMKM, penciptaan lapangan kerja, hingga pemerataan kesejahteraan.
Karena itu, Agung mengajak para guru menjadikan sekolah sebagai tempat lahirnya budaya ekonomi yang sehat, bukan sekadar ruang transfer teori.
“Anak-anak perlu belajar bukan hanya bagaimana mencari uang, tetapi bagaimana memperoleh rezeki yang halal, mengelola harta secara bertanggung jawab, dan menjadikan ekonomi sebagai jalan menghadirkan manfaat bagi sesama,” katanya.
Peluang Besar
Menurutnya, Jateng memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi syariah nasional. Potensi tersebut didukung oleh kuatnya sektor UMKM, berkembangnya industri halal, potensi pariwisata, serta jumlah penduduk muslim yang besar. Meski demikian, Agung mengingatkan keberhasilan Program SPES tidak boleh berhenti pada pelaksanaan workshop semata.
Dirinya mendorong sekolah-sekolah peserta mulai menerapkan berbagai program nyata, seperti memperkuat literasi ekonomi syariah, membangun koperasi sekolah berbasis syariah, membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ), menghadirkan kantin halal, memanfaatkan layanan keuangan syariah, hingga mengembangkan proyek kewirausahaan syariah yang melibatkan siswa secara langsung.
“Workshop adalah titik awal, bukan garis akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setelah kegiatan ini lahir gerakan bersama di sekolah-sekolah. Ketika guru mulai mengajarkan ekonomi syariah secara kontekstual, kepala sekolah memberikan dukungan kebijakan, dan siswa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, di situlah kita sedang membangun ekosistem ekonomi syariah yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Baca juga: UMKM Syariah Jateng Siap Naik Panggung
Agung juga mengapresiasi kolaborasi Pemprov Jateng, Bank Indonesia, OJK, KDEKS Jawa Tengah, serta berbagai pemangku kepentingan yang telah menggagas program tersebut sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi daerah.
Ia berharap pendampingan dan monitoring terhadap sekolah peserta terus dilakukan sehingga lahir sekolah-sekolah percontohan yang mampu menjadi pusat pembelajaran ekonomi dan keuangan syariah di Jawa Tengah.
Menutup paparannya, Agung optimistis kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat akan menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu motor penggerak pembangunan daerah sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
“Kita tidak sedang membangun ekonomi syariah semata. Kita sedang membangun generasi yang jujur, produktif, berintegritas, dan berdaya saing. Ketika karakter itu tumbuh di sekolah-sekolah Jawa Tengah, saya yakin masa depan ekonomi Indonesia akan semakin kuat, inklusif, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.
Menghafal teori ekonomi mungkin cukup untuk lulus ujian. Tapi membiasakan jujur, amanah, dan bertanggung jawab sejak di bangku sekolah, itulah bekal yang akan menentukan masa depan jauh setelah nilai rapor terlupakan. (tebe)

