BACAAJA, SEMARANG – Sebelum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Jombang, petani Nahldiyin menggelar Muktamar Petani di Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Semarang.
Muktamar petani melahirkan manifesto yang akan dibawa ke Muktamar NU di Jombang, pada akhir bulan Agustus ini.
Manifesto muktamar petani dibacakan pada penutupan gelaran tersebut, Senin (10/8/2026).
Isi manifestonya cukup tegas. Intinya, petani ingin punya kemerdekaan, kemuliaan, dan kedaulatan dalam menjalankan kehidupan serta usaha pertanian.
Dalam deklarasi itu, petani Nahdliyin menegaskan bahwa kemerdekaan petani merupakan anugerah Allah SWT sekaligus hak dasar yang melekat pada setiap petani.
Nggak berhenti di situ. Mereka juga meminta negara benar-benar memberikan perlindungan kepada petani.
Petani berdaulat, berikut tujuh poin manifesto
Ada tujuh poin utama yang disampaikan dalam Manifesto Petani Nahdliyyin. Pertama, kemerdekaan petani disebut sebagai anugerah Allah SWT dan hak dasar setiap petani.
Kedua, kemuliaan petani dinilai hanya bisa terwujud jika petani benar-benar merdeka. Karena itu, negara diminta memberikan perlindungan.
Ketiga, petani harus punya kedaulatan atas hal-hal yang menentukan keberlangsungan pertanian. Mulai dari tanah, air, benih, pupuk, teknologi budidaya, modal, sampai akses pasar.
Keempat, PBNU didorong membuat roadmap petani Nahdliyin. Dorongan itu dikaitkan dengan pesan untuk mencintai petani serta pandangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang menyebut petani sebagai penolong negeri.
Kelima, negara diminta menempatkan petani sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
Keenam, keberlangsungan kehidupan petani kecil juga harus dijamin untuk masa depan.
Sementara poin ketujuh cukup menohok. Pemerintah didorong mengganti regulasi yang dianggap merugikan petani. Salah satunya adalah Undang-Undang Cipta Kerja yang dalam manifesto tersebut dinilai memudahkan kebijakan impor hasil pertanian.
Manifesto tersebut nggak berhenti sebagai deklarasi di forum petani. Rekomendasi yang dihasilkan akan dibawa sebagai bahan perjuangan dalam Muktamar NU ke-35 di Tambakberas.
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah yang juga pengasuh Ponpes Al-Itqon KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, pertanian harus masuk dalam roadmap pembangunan NU.
Menurutnya, hal itu penting karena banyak warga Nahdliyin yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.
“Ini utamanya pertanian ini targetnya bagaimana membawa aspirasi dari teman-teman petani ini dalam Muktamar NU yang akan datang. Sehingga roadmap pembangunan NU itu, pertanian merupakan salah satu prioritas yang dikedepankan,” ujar KH Ubaidullah.
Ia juga menekankan pentingnya kedaulatan petani. Petani, kata dia, harus punya kemampuan untuk menentukan kebutuhan pangan sekaligus mengelola dan memasarkan hasil produksinya sendiri.
“Kita harus kuat sendiri, harus berdaulat sendiri, menentukan makan sendiri, menjual sendiri,” tegasnya.
Lewat manifesto ini, petani Nahdliyin berharap isu pertanian nggak cuma ramai saat forum berlangsung. Mereka ingin agenda pertanian benar-benar masuk dalam gerakan dan kebijakan NU ke depan.
Target akhirnya jelas: memperkuat kemandirian ekonomi, menjaga kedaulatan pangan, dan membuat petani kecil punya posisi yang lebih kuat. Bukan cuma jadi penonton. Apalagi sekadar jadi objek kebijakan. (*)

