BACAAJA, JAKARTA – Keluarga besar trah Soekarno diselimuti dukacita mendalam. Anak bungsu Presiden pertama Indonesia Soekarno dan Fatmawati, Guruh Soekarnoputra berpulang pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB.
Guruh mangkat dalam usia 73 tahun. Pemilik nama lengkap Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra itu wafat saat mendapat perawatan intensif di MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta.
Guruh bukan hanya dikenal sebagai putra bungsu Bung Karno. Ia juga merupakan adik Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan/PDIP) Megawati Soekarnoputri.
Bacaaja: BREAKING NEWS: Guruh Soekarnoputra Meninggal, PDIP Kibarkan Bendera Setengah Tiang
Bacaaja: Megawati: “Kudatuli Bukan Debu Sejarah, Itu Luka Demokrasi yang Belum Selesai”
Sepanjang hidupnya, Guruh menempuh dua dunia yang berbeda tetapi sama-sama membentuk namanya: seni dan politik.
Dalam kehidupan pribadinya, Guruh pernah menikah dengan perempuan asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, pada 2002 dan berakhir pada 2009.
Membangun Identitas melalui Seni
Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Ia merupakan anak bungsu pasangan Soekarno dan Fatmawati.
Sebagai bagian dari keluarga besar Bung Karno, kehidupan Guruh tentu tidak pernah jauh dari sorotan publik. Namun, ia kemudian membangun identitasnya sendiri melalui dunia seni.
Sejak kecil, Guruh telah belajar menari. Bakat tersebut kemudian berkembang ke bidang musik dan seni pertunjukan.
Nama Guruh cukup lekat dengan perkembangan seni dan musik Indonesia. Ketika remaja, pada 1965, Guruh membentuk grup musik The Beat-G.
Ia mendirikan kelompok kesenian Indonesia Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production dan Swara Mahardhika pada 27 Maret 1977.
Sebelumnya, Guruh juga pernah membentuk grup musik Guruh Gipsy Pada 1975. Lalu, ada Gank Pegangsaan bersama sejumlah musisi, termasuk Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.
Salah satu karya Guruh yang dikenal luas adalah lagu “Kala Sang Surya Tenggelam”, yang kemudian dilantunkan oleh Chrisye.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa Guruh tidak hanya membawa nama besar keluarga Soekarno. Ia juga berusaha membangun ruangnya sendiri sebagai seniman.
Dari Panggung Seni ke Gedung DPR
Guruh kemudian memasuki dunia politik. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 1992-1997.
Karier politik tersebut membuat perjalanan hidup Guruh semakin beragam. Di satu sisi ia dikenal sebagai seniman, sementara di sisi lain ia pernah menjalankan peran sebagai wakil rakyat.
Di PDIP, Guruh juga dikenang sebagai sosok Marhaenis dan pejuang partai. Meski berkecimpung lama dalam dunia kesenian, darah Marhaenisme mengalir deras dalam tubuhnya. Baik secara biologis maupun ideologis.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut kepergian Guruh sebagai kehilangan besar bagi keluarga besar partai.
“Beliau dikenang sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, dan pejuang partai,” ujar Hasto.
PDIP Kibarkan Bendera Setengah Tiang
Kabar meninggalnya Guruh disampaikan Hasto melalui pesan duka pada Sabtu pagi.
Hasto meminta masyarakat membuka pintu maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan Guruh semasa hidup. Ia juga mengajak seluruh pihak mendoakan agar Guruh mendapat husnul khatimah dan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Sebagai bentuk penghormatan, DPP PDI Perjuangan menginstruksikan seluruh jajaran partai, mulai dari DPP, DPD, DPC, PAC, ranting hingga anak ranting, untuk mengibarkan bendera PDI Perjuangan setengah tiang selama tujuh hari.
Guruh Soekarnoputra kini telah pergi. Namun, jejaknya tetap tertinggal.
Sebagai putra bungsu Bung Karno-Fatmawati, adik Megawati, politikus, sekaligus seniman, Guruh menjalani perjalanan hidup yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah keluarga Soekarno maupun perkembangan seni budaya Indonesia. (*)

