Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Walhi: Banjir Itu Bukan Takdir
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Daerah

Walhi: Banjir Itu Bukan Takdir

Semarang kayaknya emang udah akrab banget sama banjir. Tiap hujan turun, bukan air mata yang jatuh, tapi air kiriman dari atas kota. Dan lucunya, solusi yang dikerjain pemerintah cuma muter di situ-situ aja, padahal kata Walhi Jateng, masalahnya udah jauh lebih dalam dari sekadar curah hujan.

T. Budianto
Last updated: November 3, 2025 11:31 am
By T. Budianto
4 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Kalau tiap musim hujan datang, warga Semarang bawah sudah tahu apa yang bakal terjadi. Air naik, jalan tergenang, dan aktivitas lumpuh. Pompa air boleh siaga, tapi tetap aja, genangan nggak hilang-hilang.

Organisasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah bilang, akar masalahnya bukan di situ. Banjir Kaligawe itu bukan cuma karena curah hujan tinggi. Tapi karena lanskap tata ruang kita rusak parah, dari hulu sampai hilir.

Pengurus Walhi, Dera mengungkap, sejak tahun 1970-an citra satelit udah nunjukin perubahan besar-besaran di Semarang bagian utara. Wilayah yang dulunya jadi daerah resapan air kini berubah jadi kawasan industri, permukiman, dan proyek-proyek besar. Padahal tanah daerah situ aluvial yang gampang amblas.

Ikut Bablas

Masalahnya nggak cuma di pesisir. Dera bilang, di bagian hulu juga nggak kalah rusak. Air dari daerah atas Semarang dan sekitarnya ngalir deras lewat Banjir Kanal Timur (BKT) dan Kali Babon, tapi salurannya sekarang banyak yang mampet.

“Gorong-gorong, irigasi, drainase banyak yang ditutup bangunan. Air akhirnya nggak punya jalan keluar,” tambahnya. Jadi wajar kalau tiap hujan besar, Semarang bagian bawah langsung kebanjiran.

Air dari atas nggak tertahan, dari bawah pun nggak bisa keluar. Akibatnya? Ya banjir langganan tiap tahun. Padahal, kata Walhi, Pemprov Jateng pernah janji mau fokus ke pengendalian lingkungan. Tapi realitanya, berbagai proyek ekonomi yang menguras sumber daya alam masih terus dikasih karpet merah.

“Kota Semarang dan Kabupaten Demak bahkan masih dimasukkan ke program pengembangan kawasan industri. Artinya, pembukaan lahan baru bakal terus terjadi,” kata Dera, Kamis (30/10).

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jateng pun, topik soal kebencanaan cuma disentuh sedikit banget. Buat Walhi, itu bukti kalau pemerintah masih lihat pembangunan dari kacamata ekonomi jangka pendek, bukan dari keberlanjutan lingkungan. Bencana itu bukan datang tiba-tiba. Dia lahir dari kebijakan yang salah arah.

Lima Rekomendasi

Walhi Jateng nyusun sederet rekomendasi buat pemerintah daerah. Biar nggak terus ngulang kesalahan yang sama. Dera bilang, ini bukan sekadar kritik, tapi panduan supaya kebijakan ke depan lebih berpihak pada alam dan warga.

Pertama, tinjau ulang kebijakan tata ruang. Khususnya yang berhubungan dengan ekonomi ekstraktif di kawasan hulu. Jangan semua lahan produktif dijadikan kawasan industri.

Kedua, fokus ke akar masalah. Bukan cuma bangun pompa atau tanggul. Tapi juga batasi dan tutup proyek-proyek yang merusak kawasan resapan air. Tiga, pulihkan fungsi kawasan hulu. Kawasan ini harus dikembalikan jadi daerah resapan dan lindung. Bukan jadi ruang ekspansi ekonomi.

Empat, buat kebijakan lintas daerah. Bencana itu nggak kenal batas administratif. Jadi, penanganannya juga harus regional, bukan sektoral. Terakhir, stop kebijakan teknikal semata. Mitigasi bencana jangan cuma urusan proyek infrastruktur. Tapi juga perubahan sistem yang lebih ramah lingkungan.

Kalau lihat daftar rekomendasi itu, jelas banget bahwa Walhi pengin pemerintah berpikir ulang soal arah pembangunan. Karena selama pendekatannya cuma “teknis” dan “reaktif”. “Bencana bukan takdir alam. Dia diproduksi dari kebijakan yang keliru,” tegas Dera.

Secara matematis, rekomendasi Walhi memang tidak bisa langsung selesein masalah banjir Semarang. Sebab, ini merupakan strategi jangka panjang. Jika diterapkan, dalam jangka lima tahun ke depan akan kelihatan dampaknya. Dalam waktu yang lebih lama, ini bisa jadi solusi jitu.

“Kalau pemerintah mau serius menjalankan rekomendasi kami, 10 sampai 15 tahun lagi, Semarang akan bebas banjir,” tegasnya. Namun pertanyaan besarnya, apakah pemerintah mau menjalankan rekomendasi Walhi? (bae)

You Might Also Like

Macet Datang, Tol Jateng Siap ‘Disulap’ Kalau Udah Nggak Gerak

Dulu Kayu, Sekarang Beton: Jembatan Persen Gunungpati Naik Kelas

Nilai Lolos Jalur Prestasi SMAN 3 Semarang Turun

DPRD Jateng Minta BUMD Jangan Cuma Berdagang

Tol Klaten-Prambanan Resmi Dibuka, Bupati Dorong Lonjakan Wisatawan

TAGGED:banjir semarangpemkot semarangpemprov jatengwalhi jateng
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ketua DPR RI Puan Maharani. Pemulangan Korban Online Scam, Puan: Harus Disertai Solusi Lapangan Kerja
Next Article Baru Dilantik, Langsung Dapat PR

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Batik Parang Bertemu Lung-lungan, Logo Hari Jadi ke-81 Jateng

Raffinha Balik Lagi, Misi Naikin PSIS ke Super League Belum Kelar

PHK Jangan Panik, Ini Jurus Pemprov Bikin Buruh Lebih Aman

Luthfi: Jangan Cuma Jadi Tukang Kritik, Mahasiswa Juga Harus Ikut Bangun Daerah

SAKSI SIDANG--Pegawai fungsional Direktorat Gratifikasi dan Pelayanan Publik KPK, Ana Devi (berkerudung) meninggalkan sidang usai bersaksi dan berdebat dengan terdakwa Sudewo, Senin (27/7/2026). (bae)

Sidang Bupati Pati Nonaktif Panas, Sudewo Muntab Merasa ‘Ditantang’ Pegawai KPK

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Wartawan di Pati berupaya melakukan wawancara dengan pihak yang dipanggil dalam Rapat Pansus Pemakzulan Bupati Pati Sudewo. Namun diperlakukan kasar oleh pengawal saksi yang tak lain Dewan Pengawas RSUD Suwondo.Foto: istimewa
Daerah

Doorstop Rapat Pemakzulan Bupati Pati Berujung Main Sikut, Wartawan Jadi Korban

September 4, 2025
Ekonomi

Sekda: Jangan Sampai Koperasi Merah Putih Ikut “Rontok

Januari 31, 2026
Daerah

Produksi Daging Jateng Tertinggi Kedua, Anak Muda Diajak Terjun ke Peternakan

September 27, 2025
Fokus

Gubernur Jateng Gowes ke Kantor, ASN Diajak Ikut “Waras Energi”

April 9, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Walhi: Banjir Itu Bukan Takdir
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?