BACAAJA, PATI- Komisi C DPRD Jateng menyoroti kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) saat meninjau pembangunan Pabrik Garam Industri di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Senin (13/7/2026).
Meski pendapatan perusahaan meningkat menjadi sekitar Rp48,1 miliar pada 2025, DPRD menilai capaian tersebut belum sepenuhnya menggembirakan. Pasalnya, laba bersih perusahaan justru turun drastis menjadi sekitar Rp3,39 miliar, dari sebelumnya Rp10,54 miliar pada 2024.
Ketua Komisi C DPRD Jateng, Bambang Hariyanto menegaskan, kenaikan pendapatan seharusnya diikuti peningkatan laba agar kondisi perusahaan benar-benar sehat.
“Revenue boleh naik, tapi apabila laba justru turun lebih dari 60 persen, maka perusahaan belum dapat dikatakan semakin sehat. Yang tumbuh baru omzetnya, belum tentu nilai ekonominya,” ujar Bambang.
Baca juga: PRPP Hampir Bangkrut, Pemprov Jateng Klaim Kinerja BUMD Secara Keseluruhan Positif
Selain itu, Komisi C juga menyoroti tingginya kontribusi anak perusahaan PT Sarana Patra Jateng (SPJ) terhadap pendapatan PT SPJT. Menurut Bambang, perusahaan induk perlu memperkuat bisnis utamanya agar tidak hanya bergantung pada anak usaha, tetapi mampu menciptakan nilai tambah melalui pengembangan bisnis dan sinergi antarsektor.
Perhatian khusus juga diarahkan pada pengembangan industri garam di Kabupaten Pati yang dinilai memiliki potensi sangat besar. Komisi C berharap PT SPJT tidak hanya berperan sebagai penjual garam, tetapi menjadi motor penggerak hilirisasi industri garam di Jateng.
“Kabupaten Pati memiliki potensi garam yang sangat besar. Sangat disayangkan apabila SPJT hanya menjadi pedagang garam, bukan pelaku utama industrialisasi garam yang mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan, daerah, dan kesejahteraan petani garam,” tegas Bambang.
Target Terukur
Senada, anggota Komisi C, Catur Agus Saptono mendorong Unit Garam PT SPJT dikembangkan menjadi Strategic Business Unit (SBU) dengan target yang terukur, mulai dari laba, investasi, hingga tingkat pengembalian investasi.
Ia juga mendorong perusahaan mengembangkan produk turunan bernilai tinggi seperti garam industri, garam farmasi, garam konsumsi, hingga garam untuk kebutuhan industri kimia. Dalam kunjungan tersebut, Komisi C juga berdiskusi mengenai kesiapan produksi, pemasaran, serta keberlanjutan penyerapan garam rakyat.
Manajemen PT SPJT mengungkapkan, hingga saat ini sudah terdapat 21 perusahaan yang menyatakan minat membeli hasil produksi garam industri. Total kebutuhan mereka bahkan disebut melebihi kapasitas produksi pabrik setiap bulan.
Baca juga: Jateng Gaspol Susun “Uang Sendiri” buat 2027
Pabrik garam tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 25.000 ton per tahun dengan bahan baku yang dipasok petambak garam dari Kabupaten Pati, Rembang, Jepara, dan Demak.
Hingga Juni 2026, PT SPJT juga telah menyerap 3.336 ton garam rakyat melalui koperasi produsen sebagai bagian dari kemitraan dengan petambak lokal.
Indonesia punya garis pantai panjang dan garam melimpah. Tantangannya kini bukan lagi menghasilkan garam, melainkan mengubahnya menjadi industri yang memberi untung lebih besar daripada sekadar menjualnya apa adanya. (tebe)

