Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dede Sunandar Blackout Usai Dipukul Vicky Prasetyo, Ini Tanda Bahayanya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Dede Sunandar Blackout Usai Dipukul Vicky Prasetyo, Ini Tanda Bahayanya

Nugroho P.
Last updated: Oktober 5, 2026 11:54 am
By Nugroho P.
8 Min Read
Share
Dede Sunandar pingsan usai dipukul Vicky Prasetyo di ring tinju.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Pertandingan ekshibisi yang dijalani Dede Sunandar di Jambi berujung insiden serius. Komedian tersebut sempat kehilangan kesadaran atau mengalami blackout setelah menerima pukulan Vicky Prasetyo dalam Kapolda Fighter Match 2026 di GOR Kota Jambi, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Contents
Blackout Bukan Otomatis Gegar OtakKenapa Pukulan Kepala Bisa Bikin Blackout?Sudah Sadar Bukan Berarti AmanPertolongan Pertama Jangan Asal GerakKenali Tanda Bahaya Setelah BenturanBlackout Tak Selalu Harus CT ScanSoal Pelindung Kepala, Ini CatatannyaJangan Langsung Balik BertandingPelajaran dari Insiden Dede

Dede kemudian mendapat pertolongan medis dan dibawa ke rumah sakit. Setelah menjalani penanganan, ia menyampaikan kondisinya sudah membaik.

Insiden ini sekaligus jadi pengingat bahwa benturan di kepala tidak boleh dianggap sepele. Seseorang yang sudah sadar setelah sempat blackout belum tentu benar-benar bebas dari risiko cedera kepala, sehingga kondisi korban tetap perlu dipantau.

Blackout Bukan Otomatis Gegar Otak

Dede menyebut dirinya mengalami blackout setelah terkena sejumlah pukulan. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah tersebut biasanya menggambarkan kondisi ketika seseorang kehilangan kesadaran sementara atau tidak menyadari apa yang terjadi dalam periode tertentu.

Namun, blackout bukan diagnosis medis yang otomatis berarti gegar otak. Dalam kasus Dede, belum ada keterangan medis yang memastikan ia mengalami concussion, perdarahan otak, atau jenis cedera otak tertentu.

Karena itu, kondisi medis seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari video pertandingan atau pemberitaan. Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap dibutuhkan untuk mengetahui jenis cedera yang sebenarnya.

Kehilangan kesadaran setelah benturan kepala tetap menjadi informasi penting. Pedoman NICE memasukkan riwayat kehilangan kesadaran atau amnesia sebagai salah satu faktor dalam penilaian pasien yang mengalami cedera kepala.

Kenapa Pukulan Kepala Bisa Bikin Blackout?

Saat kepala terkena pukulan atau bergerak secara tiba-tiba, otak dapat ikut bergerak atau berputar di dalam tengkorak. Kondisi tersebut bisa memicu perubahan pada otak dan memengaruhi berbagai fungsi tubuh.

Dampaknya tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa saja tidak mengalami luka terbuka yang parah, tetapi tetap mengalami gangguan fungsi otak.

Benturan kepala juga dapat menyebabkan cedera yang lebih serius, termasuk perdarahan di dalam tengkorak. Salah satunya adalah subdural hematoma yang gejalanya bisa muncul langsung atau berkembang secara bertahap.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala, muntah, kebingungan, mengantuk, gangguan bicara, masalah keseimbangan, kelemahan pada satu sisi tubuh, kejang hingga kehilangan kesadaran.

Sudah Sadar Bukan Berarti Aman

Salah satu hal yang sering bikin orang terkecoh adalah ketika korban kembali membuka mata setelah pingsan. Orang di sekitar biasanya langsung menganggap kondisi sudah aman.

Padahal, kembalinya kesadaran bukan satu-satunya patokan. Gejala concussion dapat muncul atau baru terasa beberapa jam hingga beberapa hari setelah cedera.

Karena itu, korban tetap perlu diperhatikan setelah sadar. Jangan hanya bertanya apakah sudah bisa membuka mata, tetapi cek juga apakah korban mampu berbicara dengan normal dan mengenali orang maupun tempat.

Perhatikan pula munculnya sakit kepala yang makin berat, muntah berulang, kejang, kelemahan, mati rasa, bicara pelo, perubahan perilaku atau kebingungan.

Pertolongan Pertama Jangan Asal Gerak

Jika seseorang mengalami blackout setelah terkena pukulan, jangan buru-buru disuruh berdiri atau melanjutkan aktivitas. Pastikan kondisi sekitar aman, lalu periksa respons dan pernapasannya.

Jika korban tidak responsif atau kondisinya terlihat mengkhawatirkan, segera cari bantuan medis. Jangan mengguncang atau menampar korban dengan tujuan membuatnya cepat sadar.

Korban juga sebaiknya tidak dipaksa berjalan. Pada benturan yang cukup keras, penolong perlu berhati-hati terhadap kemungkinan cedera lain, termasuk cedera pada leher dan tulang belakang.

Jika korban sudah sadar, tetap pantau kondisinya. Informasi seperti bagaimana benturan terjadi, berapa lama korban tidak sadar, apakah mengalami muntah atau kejang, serta gejala setelah kejadian akan membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian.

Kenali Tanda Bahaya Setelah Benturan

Blackout setelah benturan kepala perlu mendapat perhatian serius jika diikuti tanda bahaya. Sakit kepala yang semakin parah, muntah berulang, kejang, kelemahan atau mati rasa termasuk kondisi yang perlu segera ditangani.

Gangguan koordinasi, bicara pelo, kebingungan, perilaku yang tidak biasa, sulit mengenali orang atau tempat, serta rasa mengantuk sampai sulit dibangunkan juga menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.

Perbedaan ukuran pupil juga termasuk tanda bahaya. NHS menambahkan sejumlah kondisi lain, seperti gangguan penglihatan atau pendengaran, cairan bening keluar dari hidung atau telinga, serta gangguan berjalan, keseimbangan, berbicara atau memahami.

Dalam kondisi kegawatdaruratan medis di Indonesia, masyarakat dapat mengakses layanan PSC 119 untuk mendapatkan respons kegawatdaruratan kesehatan, termasuk bantuan petugas dan ambulans.

Blackout Tak Selalu Harus CT Scan

Tidak semua orang yang mengalami benturan kepala otomatis membutuhkan CT scan. Pemeriksaan tersebut digunakan untuk membantu menemukan cedera struktural tertentu, termasuk perdarahan di dalam kepala.

Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan perlu atau tidaknya pemeriksaan pencitraan. Kondisi seperti penurunan kesadaran, dugaan patah tulang tengkorak, kejang, gangguan saraf, atau muntah lebih dari satu kali dapat menjadi pertimbangan penting.

Riwayat kehilangan kesadaran atau amnesia juga dinilai bersama faktor lain, seperti usia, gangguan pembekuan darah, mekanisme cedera dan durasi amnesia.

CT scan yang normal juga tidak otomatis berarti seseorang tidak mengalami concussion. Gegar otak berkaitan dengan gangguan fungsi otak dan tidak selalu menghasilkan kelainan struktural yang terlihat lewat CT scan.

Soal Pelindung Kepala, Ini Catatannya

Dalam pengakuannya, Dede mengatakan tidak menggunakan pelindung kepala karena sejak awal menganggap pertandingan tersebut hanya sebagai laga ekshibisi untuk memeriahkan acara.

Meski berstatus pertandingan hiburan, aktivitas tersebut tetap melibatkan kontak fisik. Artinya, kemungkinan terjadinya cedera tetap ada.

Namun, tidak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa tidak memakai pelindung kepala menjadi satu-satunya penyebab blackout yang dialami Dede. Informasi yang tersedia belum cukup untuk membuat kesimpulan medis seperti itu.

Hal yang lebih penting adalah memahami bahwa label ekshibisi atau hiburan tidak otomatis membuat aktivitas kontak menjadi bebas risiko.

Jangan Langsung Balik Bertanding

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari setelah seseorang pingsan akibat benturan adalah menganggap korban sudah aman begitu sadar. Lebih berisiko lagi jika korban langsung diminta duduk, berdiri, atau kembali bertanding.

Pada olahraga kontak, tekanan untuk kembali bermain juga bisa membuat gejala cedera kepala diremehkan. Padahal, atlet yang dicurigai mengalami concussion dianjurkan segera menghentikan aktivitas dan tidak kembali bermain pada hari yang sama sebelum mendapatkan penilaian serta izin tenaga kesehatan.

Jadi, kalimat “sudah sadar berarti sudah aman” tidak bisa dijadikan patokan medis. Pemulihan dan keputusan kembali berolahraga harus mengikuti arahan tenaga kesehatan.

Pelajaran dari Insiden Dede

Kasus Dede Sunandar menunjukkan bahwa pertandingan yang awalnya diniatkan sebagai hiburan tetap bisa berujung pada cedera yang membutuhkan penanganan. Dalam insiden tersebut, pertandingan dihentikan setelah Dede tidak sadarkan diri dan ia kemudian dibawa mendapatkan pertolongan medis.

Bagi masyarakat, yang paling penting bukan mencoba menebak seberapa keras pukulan atau menentukan diagnosis hanya dari video. Fokus utama justru memastikan kondisi korban dan mengenali kapan bantuan medis harus segera dicari.

Jika seseorang kehilangan kesadaran setelah terkena pukulan, jangan langsung menganggap kondisinya aman hanya karena sudah membuka mata. Pantau gejala, jangan memaksa kembali beraktivitas, dan segera cari bantuan jika muncul tanda bahaya.

Pada akhirnya, blackout setelah terkena benturan bukan sekadar cerita tentang seseorang yang sempat pingsan. Kehilangan kesadaran bisa menjadi tanda yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut, sehingga keselamatan korban harus ditempatkan di atas keinginan untuk segera kembali bertanding. (*)

You Might Also Like

Pertamina Guyur Sembilan Juta Tabung Elpiji di Jateng dan DIY

Dari Indonesia ke Jepang: Cerita Sopir Bus Lulusan JIDS Meraih Masa Depan di Negeri Sakura

Tiket Kereta Flat Cuma Rp 80 Ribu, Buruan Cek Jadwal Flash Sale KAI!

Ngaliyan Lagi Macet Parah, Perbaikan Jalan Bikin Laju Kendaraan Tersendat

BBM Naik, Pemprov Siapkan Operasi Pasar

TAGGED:dede sunandarpingsantinjuvicky prasetyo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Antraks Muncul di Gunungkidul, Kementan Gas Pengawasan
Next Article Puluhan Mercedes-Benz Lintas Generasi Susuri Jalur Merah Putih

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Prabowo Minta TNI Adaptif Hadapi Perang Modern, Enam Kodam Baru Diresmikan

KEPULAN ASAP - Asap masih mengepul di lokasi kebakaran TPA Jatibarang, Semarang, Senin (5/10/2026). (bae)

Hari Ke-6 Kebakaran, Bara TPA Jatibarang Belum Juga Padam

Puluhan Mercedes-Benz Lintas Generasi Susuri Jalur Merah Putih

Dede Sunandar Blackout Usai Dipukul Vicky Prasetyo, Ini Tanda Bahayanya

Antraks Muncul di Gunungkidul, Kementan Gas Pengawasan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Lawang Sewu & Museum KA Ambarawa Go Internasional

November 20, 2025
Ilustrasi petugas SPPG sedang menyiapkan MBG.
Info

MBG Disorot, Belasan Siswa Mendadak Tumbang, Keracunan!

Juli 26, 2026
Info

Cabai Sulut Tembus Rp120 Ribu, Pasokan Didatangkan Lagi dari Probolinggo

September 21, 2026
SUARAKAN KERESAHAN - Aktivis PMKRI Jateng-DIY, Natael Bremana, menyampaikan aspirasi dan kerasahan yang dirasakan mahasiswa dan rakyat kecil terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, saat mengikuti demonstrasi di Jakarta, pada 13 Juni 2026. (*)
Info

Natael PMKRI Sebut Negara Lagi Gak Baik-baik Saja: Anggaran Jumbo, Hidup Rakyat Makin Berat

Juni 30, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dede Sunandar Blackout Usai Dipukul Vicky Prasetyo, Ini Tanda Bahayanya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?