BACAAJA, SEMARANG- Kalau biasanya Mercedes-Benz identik dengan gaya, kenyamanan, dan suara mesin yang bikin kepala menoleh, kali ini ceritanya sedikit beda. Puluhan mobil asal Jerman itu diajak menyusuri jejak sejarah, dari Balai Kota Semarang hingga Astana Giribangun, Karanganyar.
Sebanyak 40 Mercedes-Benz lintas generasi berangkat dari halaman Balai Kota Semarang, Sabtu (3/10/2026) pagi. Mulai W123, W124, W202, W203, W204, W210, W211 hingga W212, semuanya berjajar mengikuti konvoi “Jalur Merah Putih 2026”.
Rombongan New Eyes Club Indonesia (NECI) 04 Regional Semarang tersebut dilepas secara simbolis Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Bambang Pramusinto.
Begitu bendera start dikibarkan, suara mesin langsung mengambil alih suasana. Puluhan Mercedes-Benz itu bergerak menyusuri Jalan Jenderal Sudirman menuju Gerbang Tol Krapyak.
Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalan tol hingga keluar di Pintu Tol Karanganyar. Tujuan utama rombongan adalah Kompleks Makam Jenderal Besar H.M. Soeharto di Astana Giribangun.
Baca juga: Tak Sekadar Touring, NECI 04 Semarang Bawa Misi Merah Putih ke Astana Giribangun
Buat NECI 04 Semarang, touring kali ini memang sengaja dibuat beda. Bukan sekadar soal siapa punya Mercedes paling kinclong atau mobil mana yang paling bikin nostalgia. Jalur Merah Putih 2026 dirancang sebagai perjalanan yang menggabungkan hobi otomotif, sejarah, keluarga, sekaligus semangat kebangsaan.
Pembina NECI 04 Semarang, Holy Nurandika mengatakan, agenda tersebut merupakan kegiatan tahunan yang dikemas dengan sentuhan sejarah dan nasionalisme.
“Melalui agenda Jalur Merah Putih 2026 ini, kami ingin menumbuhkan kembali semangat juang para pahlawan Indonesia dan memegang teguh prinsip Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Harapan kami, rasa nasionalisme ini terus menyala dan dapat diwariskan dengan kuat kepada generasi penerus,” kata Holy.
Setibanya di Astana Giribangun, suasana langsung berubah. Kalau sebelumnya perjalanan dipenuhi deru mesin dan barisan Mercedes-Benz, peserta kemudian mengikuti doa bersama dan tahlil. Setelah itu dilanjutkan prosesi tabur bunga di pusara almarhum Jenderal Besar HM Soeharto dan almarhumah Ibu Tien Soeharto.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan. Mobil-mobil yang sehari-hari menjadi bagian dari hobi otomotif kini justru menjadi kendaraan untuk membawa keluarga dan generasi muda mendekat kepada sejarah.
Mengenal Sejarah
Pesan yang ingin disampaikan NECI cukup sederhana. Mengenal sejarah tidak harus selalu lewat ruang kelas, buku tebal, atau upacara formal, tapi bisa juga lewat perjalanan.
Anak-anak dan generasi muda diajak melihat langsung tempat bersejarah, mengikuti prosesi ziarah, sekaligus mendengar cerita tentang masa lalu dari orang-orang yang lebih dulu mengenalnya.
Setelah rangkaian ziarah selesai, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Pabrik Gula De Tjolomadoe, Karanganyar. Di kawasan bersejarah tersebut, 40 Mercedes-Benz kembali disusun dalam satu line-up. Momen ini tentu menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan para penghobi otomotif.
Setelah puas menikmati kawasan De Tjolomadoe, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Semarang. Rangkaian Jalur Merah Putih 2026 kemudian ditutup dengan konvoi bersama menuju arena GIIAS Semarang di Muladi Dome Undip.
Yang menarik, perjalanan ini tidak cuma diisi para pemilik Mercedes-Benz dewasa. Sejumlah anak muda dan keluarga ikut ambil bagian. Salah satunya Gana, 14 tahun, yang baru pertama kali mengikuti agenda tersebut. “Ini baru pertama. Tapi asyik. Kalau ada acara seperti ini, saya berencana untuk ikut lagi,” ujarnya.
Baca juga: Watch Party MotoGP di Jogja, Antusiasme Menuju Mandalika 2026 Makin Panas
Bagi NECI 04 Semarang, keikutsertaan generasi muda justru menjadi bagian penting dari kegiatan. Sebab, bicara soal nasionalisme dan sejarah tidak cukup hanya dengan slogan.
Generasi muda perlu diberi pengalaman. Diajak melihat, mendengar, bertanya, dan merasakan sendiri suasana tempat-tempat yang menyimpan cerita masa lalu. Dari situ, harapannya muncul rasa penasaran. Dari rasa penasaran, sejarah tidak lagi terasa seperti sesuatu yang jauh dan membosankan.
Pada akhirnya, Jalur Merah Putih 2026 bukan sekadar perjalanan 40 Mercedes-Benz dari Semarang menuju Karanganyar. Ada hobi yang berjalan beriringan dengan sejarah. Ada keluarga yang ikut menikmati perjalanan. Ada generasi muda yang mulai mengenal cerita masa lalu.
Dan mungkin, ini salah satu cara paling “otomotif” untuk mengingatkan bahwa sejarah jangan cuma jadi caption saat Hari Kemerdekaan. Sebab Mercedes-Benz boleh tua, tapi semangat mengenal sejarah jangan sampai ikut uzur. Kalau mobil lawas saja masih rajin diajak jalan lintas kota, masa cerita sejarah bangsa cuma diparkir di buku pelajaran? (tebe)

