BACAAJA, SEMARANG- Pemandangan nggak biasa terlihat di Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Minggu (24/5/2026). Sebanyak 16 Biksu Thudong bersama sekitar 50 relawan melintas dalam perjalanan spiritual bertajuk Walk For Peace menuju perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE.
Yang bikin suasana makin hangat, perjalanan para biksu ini bukan cuma dikawal polisi. Mereka juga disambut ratusan warga lintas agama, santri Pagar Nusa, Banser, tokoh masyarakat, sampai elemen organisasi keagamaan lainnya.
Bukan drama, bukan settingan konten. Ini beneran terjadi di jalanan Kota Semarang. Pengamanan dan penyambutan dipimpin langsung Kapolsek Genuk, Rismanto, sejak rombongan memasuki wilayah perbatasan Demak-Semarang di Jalan Raya Kaligawe Km 7.
Baca juga:Waisak Belum Mulai, Borobudur Sudah Full Booking
Rombongan biksu diketahui memulai perjalanan spiritual dari Candi Sima, Jepara sejak 20 Mei 2026 dan berjalan menuju Candi Sewu, Klaten sebagai bagian dari rangkaian menyambut Waisak.
Sekitar pukul 10.57 WIB, mereka tiba di Genuk dan langsung disambut hangat masyarakat. Personel Polsek Genuk bersama sekitar 100 santri Pagar Nusa ikut mengawal perjalanan kaki menuju Masjid Jami Al Falah Genuksari.
Suasana Akrab
Nah, di titik ini suasananya makin bikin hati hangat. Para biksu yang berbeda keyakinan justru singgah di masjid. Mereka beristirahat, makan siang, ngobrol bareng tokoh agama dan masyarakat. Nggak ada rasa canggung. Yang ada malah suasana akrab kayak keluarga besar lagi kumpul.
Sekitar 250 orang hadir dalam kegiatan tersebut. Mulai dari Wali Kota Semarang Wilujeng Agustina Pramestuti, unsur Forkompimcam, FKUB, Muhammadiyah, LDII, Banser, tokoh agama, hingga warga sekitar.
Kapolsek Genuk Kompol Rismanto mengatakan pengawalan dilakukan bukan cuma untuk pengamanan, tapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap semangat toleransi antarumat beragama. “Kami memastikan seluruh kegiatan berjalan aman dan lancar. Ini juga bentuk dukungan terhadap kerukunan dan toleransi di Kota Semarang,” ujarnya.
Baca juga: 50 Biksu Jalan Kaki Lintas Kota ke Borobudur
Setelah beristirahat, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Vihara Mahabodhi sekitar pukul 14.35 WIB dengan pengawalan estafet aparat kepolisian dan Banser hingga wilayah Gayamsari.
Perjalanan spiritual ini masih akan berlanjut menuju beberapa titik di Jawa Tengah, termasuk Kantor Gubernur Jateng, Vihara Tanah Putih, hingga Ungaran.
Di tengah dunia yang makin sibuk cari perbedaan, perjalanan Biksu Thudong di Semarang justru kasih pesan sederhana: kadang yang bikin damai itu bukan ceramah panjang, tapi kemampuan duduk bareng meski keyakinan berbeda. Karena ternyata, yang sering ribut soal toleransi itu biasanya bukan yang ketemu langsung di jalan. (tebe)

