BACAAJA, SEMARANG– Ramadan kali ini dimanfaatkan PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) buat “ngecas ulang” budaya kerja. Lewat agenda Ekspedisi Ramadan 1447 H/2026 dan forum “Eksekutif Menyapa”, manajemen holding turun langsung ketemu karyawan. Bukan sekadar seremoni tahunan, tapi ajang sinkronin frekuensi di tengah industri agribisnis yang makin kompetitif.
Hadir dalam kegiatan itu Direktur Aset PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Agung Setya Imam Effendi, Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas, dan jajaran manajemen lainnya. Pesannya jelas: komunikasi internal nggak boleh cuma formalitas.
Dalam sambutannya, Agung Setya Imam Effendi bilang Ekspedisi Ramadan itu ibarat “nganter nilai” dari holding ke regional. Bukan parcel, tapi core value. Menurutnya, PTPN itu bukan perusahaan kecil.
Dengan total lahan sekitar 1,18 juta hektare, tanggung jawabnya nggak main-main, ke karyawan, masyarakat, sampai negara. Jadi yang harus diperkuat bukan cuma target produksi, tapi fondasi: produktivitas, efisiensi biaya, dan speed alias kecepatan eksekusi.
Baca juga: RUU Danantara: Jurus Baru DPR untuk Rapikan Tata Kelola BUMN, Siap Masuk Prolegnas 2026
Agung bahkan ngasih analogi yang cukup nyantol. Core value itu kayak buah sawit. Yang kelihatan di luar: productivity, cost effectiveness, dan speed. Tapi yang paling penting justru di dalam: ownership mindset, networking, dan excellence.
“Kalau mau bersaing di level internasional, nilai ini harus hidup. Jangan cuma dipajang di slide presentasi,” tegasnya. Ia juga nggak menutup mata soal tantangan aset yang makin kompleks. Dulu kebun relatif aman, sekarang banyak aset berada di tengah desa atau kota, rawan konflik dan okupasi.
Akar Persoalan
Makanya, identifikasi masalah dan manajemen risiko jadi kunci. “Satu masalah nggak akan selesai kalau kita gagal nemuin akar persoalannya,” katanya. Soal kolaborasi, Agung punya rumus unik: satu tambah satu bukan dua, tapi bisa sebelas.
Maksudnya? Kalau teamwork jalan dan saling melengkapi, hasilnya bisa jauh lebih besar dari sekadar hitungan matematis biasa. Di depan karyawan Regional 3 Jawa Tengah yang mengelola 15 kebun dengan komoditas karet, teh, kopi dan lainnya, ia mengajak semua insan PTPN buat terus belajar, upgrade kapasitas, dan adaptif sama perubahan yang nggak pernah jeda.
Senada, Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menegaskan Ramadan adalah momentum tepat buat merapatkan barisan. “Soliditas internal itu kunci. Tantangan industri makin dinamis. Kita harus satu visi supaya performa tetap terjaga,” ujarnya.
Baca juga: Gebrakan Baru Prabowo: Orang Asing Boleh Jadi Bos BUMN!
Rangkaian kegiatan Ekspedisi Ramadan juga nggak cuma soal diskusi dan arahan manajemen. Ada tausyiah yang jadi pengingat spiritual, doa bersama, sampai penyerahan santunan kepada 100 anak yatim dari tiga pondok pesantren lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Holding Perkebunan.
Setelah itu, acara ditutup dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan tetap khidmat, nggak cuma kenyang, tapi juga dapet makna. Ekspedisi Ramadan ini digelar di berbagai kota sebagai agenda strategis PTPN Group. Tujuannya jelas: menguatkan budaya perusahaan berbasis nilai AKHLAK BUMN, mempererat sinergi, dan menjaga performa demi mendukung ketahanan pangan nasional.
Karena di tengah target produksi dan tekanan pasar, kadang yang paling dibutuhkan bukan strategi yang ribet. Tapi duduk bareng, ngobrol jujur, dan sadar kalau value itu bukan buat dipajang di dinding kantor. Kalau core value cuma jadi poster, ya hasilnya paling banter satu tambah satu tetap dua. Tapi kalau benar-benar dihidupkan? Siapa tahu memang bisa jadi sebelas. (tebe)


