BACAAJA, SEMARANG – Kalau bicara korupsi di Jawa Tengah, banyak kasusnya. Tapi soal angka kerugian, cuma ada dua yang sulit dilawan: Sritex dan BUMD Cilacap.
Sepanjang sejarah penanganan korupsi di Jateng, belum ada yang menyaingi dua kasus ini. Terutama soal nominal kerugian negaranya.
Korupsi Sritex ada di level yang berbeda. Kerugian negara ditaksir lebih dari Rp1 triliun, akibat kredit bank yang diduga disalahgunakan.
Bacaaja: Kejam! Sritex Belum Juga Cairkan Pesangon 11.025 Buruh
Bacaaja: TPPU Korupsi BUMD Cilacap, Gus Yazid Keseret Kasus Pencucian Uang Rp20 Miliar
Uangnya bukan dipakai menyelamatkan perusahaan. Malah diputar ke sana-sini, nutup lubang lama, sampai akhirnya perusahaan tumbang dan negara ikut rugi.
Ironinya, Sritex sempat dielu-elukan sebagai raksasa industri tekstil nasional. Ujungnya, jadi monumen betapa lemahnya pengawasan kredit dan akal sehat perbankan.
Kalau Sritex main di angka triliunan, Cilacap datang dengan gaya yang lebih sunyi tapi tetap mematikan.
BUMD Cilacap membeli lahan dengan ratusan miliar. Masalahnya, tanah itu tak bisa dipakai. Hak penguasaan bermasalah, statusnya ruwet, tapi duit telanjur melayang. Negara rugi Rp237 miliar.
Koordinator Jateng Corruption Watch (JCW), Kahar Muamalsyah pernah mendorong agar penyidik mengusut semua pihak yang terlibat, termasuk pejabat negara.
“Semua yang terlihat harus diusut,” tegasnya saat dihubungi Rabu (2/7/2025).
Dua kasus ini, Sritex dan Cilacap menunjukkan pola yang sama. Uang publik dikelola seperti uang pribadi, sementara kontrol seolah cuma formalitas.
Penegakan hukumnya memang berjalan. Tersangka ditetapkan, pemeriksaan digelar, sebagian uang dikembalikan.
Tapi yang jadi pertanyaan, kok bisa sampai segede itu?Apakah sistem pengawasan memang sengaja dibiarkan longgar?
Sritex dan Cilacap bukan sekadar kasus korupsi. Ini nunjukin keras bahwa korupsi di Jateng bukan cuma soal moral, tapi soal kerusakan sistemik.
Dan selama rekor kerugian ini cuma dicatat, bukan dicegah, bisa jadi kita cuma menunggu siapa pemegang rekor berikutnya. (bae)

