BACAAJA, MALANG – Belasan siswa SDN Kauman 1 Kota Malang, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dugaan keracunan kini tengah ditelusuri lewat pemeriksaan laboratorium.
Sejumlah anak mengeluhkan sakit perut, muntah, diare, hingga demam tinggi. Beberapa siswa bahkan harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit karena kondisinya cukup mengkhawatirkan.
Peristiwa ini menjadi perhatian para orang tua murid. Mereka berharap penyebab pasti kejadian tersebut segera diketahui agar tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas.
Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan identitasnya mengaku anaknya mulai merasakan sakit pada Rabu sore, 22 Juli 2026. Awalnya hanya mengeluh perut tidak nyaman sebelum akhirnya kondisinya memburuk.
Malam harinya, sang anak mengalami demam tinggi disertai muntah dan diare berkepanjangan. Keesokan pagi, keluarga memutuskan membawanya ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan.
Menurut pengakuan anaknya, beberapa hari sebelumnya ia sempat menerima menu MBG di sekolah. Pada Selasa, lauk telur yang disajikan hanya dimakan sebagian karena rasanya dianggap kurang enak.
Keesokan harinya, giliran menu ikan yang juga tidak dihabiskan. Anak tersebut mengaku ikan berbau amis sehingga membuatnya kehilangan selera makan.
Bukan hanya dia, beberapa teman sekelasnya disebut juga memilih tidak menghabiskan makanan yang diterima. Kondisi itu kemudian menjadi perhatian para orang tua.
Hasil pemeriksaan awal dari dokter mengarah pada dugaan muntaber akibat makanan yang dikonsumsi. Meski begitu, penyebab pastinya masih belum bisa dipastikan.
Dokter belum menyimpulkan apakah keluhan tersebut benar-benar berkaitan dengan menu MBG. Pemeriksaan lanjutan masih diperlukan agar penyebabnya bisa dipastikan secara ilmiah.
Wali murid itu juga mengungkapkan, sekitar 12 siswa di kelas anaknya dilaporkan tidak masuk sekolah pada hari yang sama karena mengalami gejala serupa.
Tak hanya di satu kelas, beberapa siswa dari kelas lain juga disebut mengalami keluhan yang hampir sama. Informasi tersebut membuat dugaan adanya kasus keracunan semakin menjadi perhatian.
Menanggapi kejadian itu, pihak sekolah langsung mengambil langkah dengan mengirimkan surat kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang.
Surat tersebut berisi permintaan agar sampel makanan MBG yang sempat dibagikan kepada siswa segera diuji di laboratorium. Hasilnya diharapkan bisa menjawab penyebab insiden tersebut.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariadi, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dari sekolah terkait dugaan keracunan itu.
Saat ini proses pemeriksaan masih berlangsung dan melibatkan Dinas Kesehatan Kota Malang. Sampel makanan sedang dianalisis untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi.
Pemerintah daerah meminta masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum hasil laboratorium keluar. Seluruh proses investigasi dilakukan agar penyebab kejadian dapat diketahui secara akurat.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap kualitas makanan dalam program MBG. Selain nilai gizi, aspek keamanan pangan juga menjadi faktor utama agar makanan yang diterima siswa benar-benar aman untuk dikonsumsi. (*)

