BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang mulai menyiapkan hunian sementara (huntara) untuk warga terdampak tanah gerak di kawasan Jangli, Tembalang. Lokasi yang disiapkan berada di Rowosari.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memastikan, lahan tersebut memang dipersiapkan khusus untuk kebutuhan huntara. “Untuk huntara,” ujarnya singkat saat ditemui di Balai Kota Semarang, Selasa (21/4/2026).
Namun di lapangan, ceritanya nggak sesederhana itu. Banyak warga ternyata masih ingin bertahan di Jangli. Alasannya bukan soal nyaman atau tidak, tapi lebih ke urusan perut.
Baca juga: Warga Jangli Nunggu Kepastian Relokasi
Menurut Agustina, mayoritas warga menggantungkan ekonomi di sekitar Jangli. Kalau harus pindah ke Rowosari, jarak kerja jadi lebih jauh dan biaya hidup otomatis ikut naik. “Kalau mereka tinggal di Rowosari, tempat kerjanya jadi jauh. Pengeluaran mereka juga bakal lebih tinggi,” jelasnya.
Meski begitu, Pemkot nggak mau ambil keputusan sepihak. Agustina bilang, pihaknya masih membuka ruang diskusi dengan warga agar solusi yang diambil benar-benar realistis.
Jadi Solusi
“Kalau masyarakatnya berkeberatan, ya kita diskusikan lagi. Tapi harapannya ini bisa jadi solusi,” tambahnya. Saat ini, Pemkot juga terus berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Tengah dan kementerian terkait untuk mencari jalan terbaik bagi warga terdampak.
Di sisi lain, kondisi warga Jangli masih jauh dari kata ideal. Ketua RT setempat, Joko Sukaryono, menyebut warga masih bertahan di tenda sambil menunggu kejelasan hunian tetap (huntap). “Kurang lebih 1-2 bulan lagi kita masih di tenda sambil nunggu proses huntap,” katanya.
Baca juga: Tanah Bergerak, Relokasi Warga Jangli Disiapkan
Total ada 63 jiwa dari 23 kepala keluarga yang terdampak, termasuk bayi dan ibu hamil. Namun hingga kini, detail soal bentuk huntap maupun skemanya masih belum jelas bagi warga. Bahkan, sempat muncul inisiatif warga untuk kembali ke rumah masing-masing. Tapi langkah itu urung dilakukan setelah ada peringatan karena risiko bencana susulan.
Di atas kertas, solusi sudah ada: lahan disiapkan, rencana berjalan. Tapi di bawah, realitanya beda cerita. Karena buat warga, pindah tempat tinggal itu bukan cuma soal lokasi, tapi soal bagaimana tetap bisa hidup setelahnya. Kadang, yang jauh bukan cuma jaraknya, tapi juga jawabannya. (tebe)

