BACAAJA, BOGOR – Ribuan anak di Kota Bogor masih berada di luar bangku sekolah. Hingga pertengahan 2026, jumlah anak tidak sekolah (ATS) dan putus sekolah sudah menembus sekitar 6.000 orang.
Menariknya, persoalan ini bukan lagi didominasi biaya pendidikan atau sulitnya akses ke sekolah. Justru, tantangan terbesar datang dari menurunnya minat belajar anak-anak itu sendiri.
Ketua Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FKBM) Kota Bogor, Hasan, mengatakan keinginan untuk kembali belajar kini semakin melemah di kalangan anak yang putus sekolah.
Menurutnya, saat dilakukan pendataan dan pendekatan langsung, banyak anak memilih menolak ajakan untuk kembali mengenyam pendidikan.
Hasan mencontohkan kondisi di Kelurahan Tegallega. Dari 141 anak yang terdata sebagai ATS, hanya 35 anak yang bersedia melanjutkan pendidikan melalui lembaga belajar.
Sebagian besar justru memilih bekerja demi mendapatkan penghasilan. Pilihan itu, kata Hasan, sering kali tidak mendapat dorongan dari keluarga untuk kembali ke dunia pendidikan.
Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pengelola pendidikan nonformal. Sebab, fasilitas belajar sudah tersedia, tetapi minat peserta didik belum sepenuhnya tumbuh.
Untuk menjawab persoalan itu, sebanyak 52 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Bogor mencoba menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel.
Anak-anak yang kesulitan hadir ke lokasi belajar tetap diberi kesempatan mengikuti pembelajaran secara mandiri. Materi disiapkan agar mereka tetap bisa belajar dari rumah.
Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, PKBM bahkan siap mengirim guru untuk memberikan pendampingan langsung di rumah masing-masing.
Langkah itu diambil agar tidak ada anak yang kehilangan hak memperoleh pendidikan hanya karena kondisi atau keterbatasan tertentu.
Hasan menilai pendekatan yang lebih humanis perlu terus dilakukan. Anak-anak yang sudah lama meninggalkan sekolah membutuhkan motivasi, bukan sekadar ajakan.
Tingginya angka putus sekolah di Kota Bogor juga menjadi ironi. Pasalnya, akses pendidikan di kota ini tergolong mudah dan didukung berbagai program bantuan dari pemerintah.
Pada tahun ini, Pemerintah Kota Bogor membiayai lebih dari 10 ribu peserta didik melalui dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Selain itu, sebanyak 1.281 siswa juga menerima Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk membantu kebutuhan pendidikan mereka.
Dengan berbagai dukungan tersebut, persoalan putus sekolah kini dinilai tidak lagi semata-mata soal biaya. Faktor motivasi, lingkungan, dan dukungan keluarga justru menjadi pekerjaan rumah yang lebih besar.
FKBM berharap seluruh pihak, mulai dari orang tua, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat, ikut mendorong anak-anak agar kembali percaya bahwa pendidikan tetap menjadi jalan penting untuk meraih masa depan yang lebih baik. (*)

