BACAAJA, SEMARANG – Besarnya anggaran pendidikan sering dipakai sebagai salah satu tolok ukur seberapa serius sebuah negara membangun kualitas sumber daya manusianya. Namun, ukuran yang digunakan bukan sekadar jumlah uang, melainkan persentasenya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan cara itu, perbandingan menjadi lebih adil karena memperhitungkan ukuran ekonomi masing-masing negara. Negara dengan ekonomi besar belum tentu mengalokasikan porsi anggaran pendidikan yang besar pula.
Data terbaru yang dihimpun UNESCO Institute for Statistics dan diolah bersama Our World in Data menunjukkan hasil yang cukup menarik. Swedia menjadi negara dengan komitmen terbesar terhadap sektor pendidikan.
Negara Nordik tersebut mengalokasikan sekitar 7,3 persen dari PDB untuk pendidikan. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara negara-negara dengan ekonomi besar.
Di bawah Swedia ada Denmark dengan 6,4 persen, disusul Belgia sebesar 6,3 persen. Afrika Selatan, Israel, Inggris, Brasil, Norwegia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan juga masuk jajaran negara dengan porsi belanja pendidikan tertinggi.
Sementara itu, Indonesia justru berada di posisi sebaliknya. Di antara 40 negara dengan ekonomi terbesar dunia, Indonesia tercatat memiliki rasio belanja pendidikan paling rendah terhadap PDB.
Data tersebut menunjukkan Indonesia hanya mengalokasikan sekitar 1,3 persen dari PDB untuk sektor pendidikan. Angka itu masih berada di bawah beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.
Singapura tercatat mengalokasikan sekitar 2,2 persen, Thailand 2,5 persen, sedangkan Vietnam mencapai 2,9 persen dari PDB. Ketiganya berada di atas Indonesia berdasarkan indikator tersebut.
Jika dibandingkan dengan rata-rata dunia, jaraknya juga cukup lebar. Secara global, rata-rata belanja pendidikan mencapai sekitar 3,96 persen dari PDB.
Rendahnya porsi anggaran ini menjadi sorotan karena sektor pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari ruang kelas yang rusak, kesejahteraan guru honorer, hingga kualitas lulusan yang dinilai belum sepenuhnya sesuai kebutuhan dunia kerja.
Meski begitu, besarnya anggaran bukan satu-satunya penentu kualitas pendidikan. Efektivitas penggunaan dana juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan sistem pendidikan yang lebih baik.
Data yang dipublikasikan ini disusun berdasarkan informasi UNESCO Institute for Statistics yang dilengkapi oleh Our World in Data dan diperbarui pada 2025. Perbandingan dilakukan menggunakan indikator belanja pendidikan terhadap PDB.
Selain besarnya anggaran, laporan tersebut juga mempertimbangkan struktur demografi, termasuk proporsi penduduk berusia 24 tahun ke bawah. Faktor itu ikut memengaruhi kebutuhan investasi di sektor pendidikan setiap negara.
Daftar negara dengan anggaran pendidikan tertinggi dipimpin Swedia, disusul Denmark, Belgia, Afrika Selatan, Israel, Inggris, Brasil, Norwegia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
Sedangkan kelompok dengan rasio belanja pendidikan terendah mencakup Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Singapura, Thailand, Vietnam, Irlandia, Turki, Rumania, dan Jepang.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa investasi di bidang pendidikan masih menjadi pekerjaan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Tak hanya soal besaran anggaran, tetapi juga bagaimana dana tersebut benar-benar mampu meningkatkan kualitas belajar, kesejahteraan tenaga pendidik, dan daya saing generasi mendatang (*)

