BACAAJA, BLORA– Aksi tumpah tebu yang dilakukan petani di depan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) Blora akhirnya mendapat respons. PT GMM memastikan akan membantu mengalihkan pengiriman hasil panen petani ke sejumlah pabrik gula lain agar tebu yang sudah siap panen tetap dapat terserap.
Pelaksana Tugas Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia mengatakan, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk mendampingi proses pengalihan distribusi tebu dari petani ke pabrik gula yang masih beroperasi.
“Kami sudah membentuk tim untuk membantu proses pengalihan pengiriman tebu petani ke pabrik gula lain. Sedangkan PG GMM Blora saat ini belum bisa melakukan operasional karena kendala teknis mesin,” ujarnya saat berdialog dengan perwakilan petani tebu dan Front Blora Selatan, kemarin.
Menurut Sri Emilia, tim tersebut juga sedang melakukan pendataan wilayah dan pabrik yang berpotensi membantu menyerap hasil panen petani tebu Blora. Sebagai perusahaan yang berada di bawah Perum Bulog, setiap kebijakan yang diambil PT GMM disebut harus melalui proses evaluasi dan tata kelola sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca juga: Gula-Gula Pahit: Petani Tebu Keok, Mafia Gula Makin Oke, Pemerintah Kok Diam Aja?
Sementara itu, perwakilan Perum Bulog, Andin, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan kondisi petani dan distribusi tebu sejak pekan lalu. Berbagai masukan dan aspirasi yang muncul di lapangan akan dibawa ke tingkat pusat untuk dibahas lebih lanjut.
Langkah tersebut dilakukan setelah ratusan petani tebu menggelar aksi protes dengan menumpahkan ribuan batang tebu di depan Pabrik Gula GMM yang berada di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Aksi itu menjadi simbol kekecewaan petani yang menilai janji dan komitmen yang sebelumnya disampaikan belum sepenuhnya terealisasi.
Kepastian Nasib
Perwakilan petani tebu, Anton Sudibyo, mengatakan perjuangan yang dilakukan petani semata-mata untuk mencari kepastian nasib hasil panen mereka.
“Kami berharap agar perjuangan yang dilakukan dapat menjadi jalan keluar sehingga petani tebu di Kabupaten Blora tidak mengalami kerugian,” katanya. Menurut Anton, tuntutan yang disampaikan petani juga merupakan bentuk dukungan terhadap program swasembada gula nasional yang selama ini menjadi salah satu target pemerintah.
Petani berharap hasil panen mereka bisa terserap dengan baik sehingga semangat meningkatkan produksi gula nasional tidak berhenti hanya sebagai slogan.
Baca juga: Jateng Kejar Swasembada: Produksi Digenjot, Irigasi Diperbaiki, Petani Dapat Asuransi
Bahkan, jika tuntutan tersebut tidak mendapat tanggapan yang memadai, petani tebu Blora berencana melanjutkan perjuangan hingga ke Jakarta untuk meminta kejelasan atas kesepakatan yang sebelumnya telah dibuat.
Bagi petani, tebu bukan sekadar batang tanaman yang dipanen setahun sekali. Di dalamnya ada biaya tanam, tenaga, waktu, dan harapan yang tumbuh berbulan-bulan. Karena itu, saat tebu akhirnya ditumpahkan ke jalan, yang sebenarnya sedang dibuang bukan hasil panen, melainkan rasa kecewa karena kepastian yang tak kunjung datang. (tebe)

