BACAAJA, SURAKARTA– Ketua Komisi E DPRD Jateng, Messy Widiastuti mendorong pemerintah memperluas program Sekolah Kemitraan sekaligus memperkuat Sekolah Rakyat sebagai solusi atas terbatasnya daya tampung sekolah negeri pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Menurutnya, pendidikan merupakan hak setiap anak sehingga pemerintah harus memastikan seluruh lulusan SMP tetap memiliki akses melanjutkan sekolah.
“Jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena tidak tertampung di sekolah negeri,” tegas Messy dalam dialog televisi bertema “SPMB di Jateng Terkendala Sekolah Negeri Tidak Merata. Apa Solusinya?” di salah satu stasiun televisi lokal di Surakarta, belum lama ini.
Messy menjelaskan, kapasitas SMA dan SMK negeri di Jateng saat ini baru mampu menampung sekitar 40 persen lulusan SMP dan sederajat. Kondisi itu membuat ribuan siswa harus mencari alternatif pendidikan lain.
Baca juga: Sekolah Rakyat, Cara Jateng Lawan Kemiskinan
Salah satu solusi yang dinilai efektif adalah program Sekolah Kemitraan, yakni kerja sama pemerintah dengan sekolah swasta yang menerima siswa yang tidak lolos seleksi sekolah negeri. Menariknya, biaya pendidikan di sekolah mitra ditanggung pemerintah sehingga siswa tetap bisa bersekolah tanpa dipungut biaya.
Menurut Messy, program tersebut perlu diperluas karena antusiasme masyarakat masih sangat tinggi. “Minat masyarakat terhadap sekolah negeri memang masih besar karena dianggap memiliki fasilitas dan kualitas yang baik.
Akibatnya, sekolah kemitraan pun sekarang banyak yang kelebihan peminat,” katanya. Ia mendorong pemerintah menambah kuota serta ruang belajar agar lebih banyak siswa dapat terakomodasi.
Selain Sekolah Kemitraan, Komisi E juga menilai program Sekolah Rakyat mulai menunjukkan hasil positif, khususnya bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Berdasarkan hasil kunjungan lapangan, kondisi kesehatan dan gizi peserta didik mengalami peningkatan karena seluruh kebutuhan pendidikan hingga kebutuhan sehari-hari dipenuhi pemerintah.
Konsep Sekolah
Meski demikian, Messy mengakui pelaksanaan Sekolah Rakyat masih menghadapi tantangan, terutama pada jenjang sekolah dasar. Sebagian orang tua masih membutuhkan waktu untuk menerima konsep sekolah berasrama bagi anak-anak usia dini. Namun pemerintah terus melakukan penyempurnaan, mulai dari pembangunan gedung permanen hingga peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng, Agung Wijayanto mengatakan, pelaksanaan SPMB 2026 kini memasuki tahap daftar ulang setelah melalui proses aktivasi akun, verifikasi data, pendaftaran, hingga pengumuman hasil seleksi.
Ia menjelaskan kuota SMA negeri terdiri dari jalur domisili 33 persen, afirmasi 32 persen, prestasi 30 persen, dan mutasi orang tua 5 persen. Untuk SMK negeri, kuota terbesar dialokasikan melalui jalur prestasi sebesar 75 persen, afirmasi 15 persen, dan domisili 10 persen.
Data Dinas Pendidikan Jateng menunjukkan jumlah lulusan SMP dan sederajat tahun 2026 mencapai 567.500 siswa, sedangkan daya tampung SMA dan SMK negeri hanya 231.399 kursi atau sekitar 40,77 persen.
Di sisi lain, Kepala Dinas Sosial Jateng, Imam Masykur mengatakan, Sekolah Rakyat dirancang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Hingga 2026, Jateng telah memiliki 14 sekolah rintisan di 12 kabupaten/kota dengan total 1.191 siswa.
Baca juga: 228 Ribu Siswa Lolos SPMB Jateng
Tahun ini pemerintah juga menyiapkan 10 sekolah permanen yang dibangun menggunakan anggaran APBN sekitar Rp230 miliar untuk setiap lokasi. Menurut Imam, sekolah tersebut diperuntukkan bagi keluarga desil 1 dan desil 2.
Proses penerimaan siswa dilakukan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), bukan lewat pendaftaran terbuka, dan seluruh kebutuhan peserta didik ditanggung pemerintah.
Meski masih menghadapi kendala penyediaan lahan di beberapa daerah, pemerintah optimistis program Sekolah Rakyat akan terus berkembang karena minat masyarakat sangat tinggi.
Setiap tahun yang diperebutkan bukan hanya bangku sekolah, tetapi juga masa depan. Maka ukuran keberhasilan SPMB bukan sekadar semua kursi terisi, melainkan tak ada satu pun anak yang tertinggal di luar gerbang pendidikan. (tebe)

