BACAAJA, SEMARANG- Kota Semarang makin serius membenahi transportasi umum. Salah satu yang jadi sorotan adalah BRT Trans Semarang yang kini makin diandalkan warga buat mobilitas harian.
Layanan ini dinilai sudah berada di jalur yang benar. Dibanding banyak kota lain, Semarang bahkan disebut masuk papan atas soal transportasi publik. Pakar transportasi dari Soegijapranata Catholic University (SCU), Djoko Setijowarno menyebut, capaian ini patut diapresiasi. Menurutnya, posisi Semarang cukup kuat di tingkat nasional.
“Semarang itu sudah bagus. Dibanding kota lainnya cukup bagus. Saya sering bandingkan, dia nomor dua setelah Jakarta sebenarnya,” ujarnya. Keseriusan Pemkot terlihat dari sisi pendanaan. Transportasi umum di Semarang ditopang anggaran yang besar dan stabil, bahkan sudah punya payung hukum berupa perda.
Baca juga: Sepuluh Bus Baru Trans Semarang Siap Mengaspal
“Pendanaannya luar biasa. Bandung kalah sama Semarang, Surabaya kalah sama Semarang. Secara pendanaan Semarang itu sudah kuat, ada perda,” kata Djoko.
Dengan dukungan itu, operasional Trans Semarang bisa terus berjalan. Subsidi tetap diberikan agar tarif terjangkau dan layanan tetap hidup. Alokasi anggaran untuk sektor ini bahkan disebut bisa mencapai minimal lima persen dari APBD. Angka ini jadi bukti kalau transportasi umum benar-benar diprioritaskan.
Meski begitu, Djoko mengingatkan masih ada pekerjaan rumah. Terutama di sisi operasional yang perlu terus dibenahi. “Cuman secara operasionalnya masih banyak yang harus dibenahi,” ujarnya.
Bus Listrik
Pembenahan juga mulai terlihat dari sisi armada. Pemkot Semarang pelan-pelan melakukan peremajaan bus, termasuk mengarah ke penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Sebanyak 10 bus baru disiapkan untuk memperkuat layanan Trans Semarang. Armada ini bakal menggantikan bus lama yang selama ini dikeluhkan warga karena kondisi dan polusinya.
Belum lama ini, Wali Kota Agustina Wilujeng menegaskan langkah ini bagian dari komitmen memperbaiki kualitas layanan. “Peremajaan ini bagian dari komitmen kami menghadirkan transportasi publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” katanya.
Djoko menilai langkah ini positif. Tapi ia mengingatkan, jumlah armada masih perlu ditambah jika ingin mendorong lebih banyak warga beralih ke transportasi umum.
Baca juga: Dorong Transportasi Hijau, Pemkot Semarang dengan Bus Masifkan Bus Listrik
“Saya selalu cerita di mana-mana. Semarang itu nomor dua terbaik setelah Jakarta. Mungkin nanti saingannya Medan,” ujarnya. Di lapangan, tantangan masih ada. Beberapa titik kota masih mengalami kepadatan lalu lintas, tanda bahwa peralihan ke transportasi umum belum sepenuhnya maksimal.
Momentum Hari Jadi ke-479 Kota Semarang juga jadi pengingat perjalanan panjang pembangunan kota. Termasuk upaya menghadirkan transportasi umum yang makin layak dan nyaman.
Ke depan, PR-nya tinggal konsistensi. Biar Trans Semarang bukan cuma bagus di atas kertas, tapi benar-benar jadi pilihan utama warga. Trans Semarang makin rapi, armada mulai canggih, anggaran juga nggak main-main. Tinggal satu yang belum ikut upgrade: niat warga buat turun dari motor. (bae)
Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

