BACAAJA, SEMARANG- Di tengah geliat Kota Semarang yang terus berkembang menuju usia ke-479, semangat anak muda untuk berkarya sebenarnya tak pernah surut.
Namun di balik itu, masih ada pertanyaan besar: apakah kota ini sudah benar-benar menyediakan ruang yang cukup bagi mereka untuk berekspresi?
Bagi Rifqy Rabbani, penggerak di Komunitas KOPI Perubahan, jawabannya belum sepenuhnya. Ia melihat bahwa ruang ekspresi bagi anak muda di Semarang memang sudah ada, tetapi belum inklusif dan belum merata.
Sejumlah komunitas, terutama yang bergerak di bidang literasi, mulai tumbuh dan aktif. Namun, untuk kelompok tertentu seperti penyandang disabilitas atau isu-isu yang lebih spesifik seperti gender dan ruang aman, wadahnya masih sangat terbatas.
Baca juga: Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”
“Komunitas literasi memang cukup banyak, tapi yang benar-benar bisa jadi pionir itu hanya beberapa. Di luar itu, ruang ekspresi masih terasa kurang,” ujarnya. Selasa (28/4/2026)
Meski begitu, kreativitas anak muda tetap menemukan jalannya. Di Komunitas KOPI Perubahan, misalnya, ekspresi tidak hanya berhenti pada diskusi. Para anggotanya menyalurkan ide melalui penulisan cerpen yang kemudian dibukukan, hingga tampil dalam puisi, teater, dan musik saat berkolaborasi dengan komunitas lain.
Kreativitas, menurut Rifqy, bukan sekadar ide, tetapi bagaimana ilmu yang didapat bisa diwujudkan menjadi karya nyata. “Setelah pelatihan atau diskusi, yang penting itu bagaimana kita menjalankan. Menulis, menerbitkan, berbagi ke yang lain, itu yang kami anggap kreativitas,” jelasnya.
Kendala Klasik
Namun, perjalanan komunitas tidak selalu mulus. Persoalan klasik seperti pendanaan dan minimnya keterikatan anggota masih menjadi tantangan utama.
Berbeda dengan organisasi formal yang memiliki dukungan anggaran, komunitas bergerak berdasarkan kesadaran anggotanya. Di sisi lain, ketiadaan legalitas juga membuat mereka kesulitan mencari sponsor.
Dukungan dari pemerintah pun dirasa belum maksimal. Rifqy menilai, inisiatif untuk menghubungkan berbagai komunitas sebenarnya pernah ada, tetapi berhenti di tahap wacana. Akibatnya, banyak komunitas berjalan sendiri-sendiri tanpa kolaborasi yang kuat.
“Harapannya sederhana, ada wadah yang bisa menyatukan komunitas-komunitas ini. Biar tidak jalan sendiri-sendiri dan bisa saling mendukung,” katanya.
Baca juga: Tak Sekadar Dilestarikan, Budaya Semarang Dihidupkan untuk Masa Depan Wisata
Di tengah keterbatasan itu, komunitas justru menjadi ruang alternatif yang penting bagi anak muda. Program-program yang mereka jalankan cenderung lebih relevan dengan kebutuhan, seperti pelatihan menulis, diskusi santai, hingga kegiatan berbasis praktik. Pendekatan ini dinilai lebih menarik dibandingkan seminar formal yang seringkali kurang diminati.
Ke depan, Rifqy membayangkan Semarang sebagai kota yang benar-benar ramah bagi kreativitas anak muda, kota yang menyediakan ruang ekspresi yang inklusif, membuka akses kolaborasi, serta memberikan dukungan nyata, baik dalam bentuk fasilitas maupun kebijakan.
“Semarang yang ideal itu yang bisa mewadahi semua. Ada ruang untuk berekspresi, ada akses untuk berkembang, dan ada dukungan yang nyata,” tutupnya.
Dari suara komunitas seperti KOPI Perubahan, terlihat jelas bahwa potensi kreativitas anak muda di Semarang sangat besar. Tinggal bagaimana ekosistem kota mampu merangkul, menghubungkan, dan memberi ruang agar potensi itu benar-benar tumbuh dan berdampak.
Anak mudanya sudah siap berkarya, idenya juga nggak habis-habis. Tinggal kotanya yang perlu memutuskan: mau jadi panggung, atau tetap jadi penonton? (dul)
Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

