Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Anak Muda Semarang Kreatif, tapi Minim “Panggung”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Anak Muda Semarang Kreatif, tapi Minim “Panggung”

Semarang lagi tumbuh, pembangunan ke mana-mana, event makin ramai. Tapi di balik itu, ada satu hal yang masih jadi ganjalan: ruang buat anak muda berekspresi ternyata belum sepenuhnya “welcome”. Kreatif sih jalan terus, tapi tempatnya kadang masih serba terbatas.

T. Budianto
Last updated: April 29, 2026 11:27 am
By T. Budianto
4 Min Read
Share
DISKUSI KESENIAN: Sejumlah mahasiswa UIN Walisongo Semarang berdiskusi tentang event kesenian yang akan digarap. (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Di tengah geliat Kota Semarang yang terus berkembang menuju usia ke-479, semangat anak muda untuk berkarya sebenarnya tak pernah surut.

Namun di balik itu, masih ada pertanyaan besar: apakah kota ini sudah benar-benar menyediakan ruang yang cukup bagi mereka untuk berekspresi?

Bagi Rifqy Rabbani, penggerak di Komunitas KOPI Perubahan, jawabannya belum sepenuhnya. Ia melihat bahwa ruang ekspresi bagi anak muda di Semarang memang sudah ada, tetapi belum inklusif dan belum merata.

Sejumlah komunitas, terutama yang bergerak di bidang literasi, mulai tumbuh dan aktif. Namun, untuk kelompok tertentu seperti penyandang disabilitas atau isu-isu yang lebih spesifik seperti gender dan ruang aman, wadahnya masih sangat terbatas.

Baca juga: Seni Kampung di Semarang: Ada, Tapi Kerap “Nyala” lalu “Redup”

“Komunitas literasi memang cukup banyak, tapi yang benar-benar bisa jadi pionir itu hanya beberapa. Di luar itu, ruang ekspresi masih terasa kurang,” ujarnya. Selasa (28/4/2026)

Meski begitu, kreativitas anak muda tetap menemukan jalannya. Di Komunitas KOPI Perubahan, misalnya, ekspresi tidak hanya berhenti pada diskusi. Para anggotanya menyalurkan ide melalui penulisan cerpen yang kemudian dibukukan, hingga tampil dalam puisi, teater, dan musik saat berkolaborasi dengan komunitas lain.

Kreativitas, menurut Rifqy, bukan sekadar ide, tetapi bagaimana ilmu yang didapat bisa diwujudkan menjadi karya nyata. “Setelah pelatihan atau diskusi, yang penting itu bagaimana kita menjalankan. Menulis, menerbitkan, berbagi ke yang lain, itu yang kami anggap kreativitas,” jelasnya.

Kendala Klasik

Namun, perjalanan komunitas tidak selalu mulus. Persoalan klasik seperti pendanaan dan minimnya keterikatan anggota masih menjadi tantangan utama.

Berbeda dengan organisasi formal yang memiliki dukungan anggaran, komunitas bergerak berdasarkan kesadaran anggotanya. Di sisi lain, ketiadaan legalitas juga membuat mereka kesulitan mencari sponsor.

Dukungan dari pemerintah pun dirasa belum maksimal. Rifqy menilai, inisiatif untuk menghubungkan berbagai komunitas sebenarnya pernah ada, tetapi berhenti di tahap wacana. Akibatnya, banyak komunitas berjalan sendiri-sendiri tanpa kolaborasi yang kuat.

“Harapannya sederhana, ada wadah yang bisa menyatukan komunitas-komunitas ini. Biar tidak jalan sendiri-sendiri dan bisa saling mendukung,” katanya.

Baca juga: Tak Sekadar Dilestarikan, Budaya Semarang Dihidupkan untuk Masa Depan Wisata

Di tengah keterbatasan itu, komunitas justru menjadi ruang alternatif yang penting bagi anak muda. Program-program yang mereka jalankan cenderung lebih relevan dengan kebutuhan, seperti pelatihan menulis, diskusi santai, hingga kegiatan berbasis praktik. Pendekatan ini dinilai lebih menarik dibandingkan seminar formal yang seringkali kurang diminati.

Ke depan, Rifqy membayangkan Semarang sebagai kota yang benar-benar ramah bagi kreativitas anak muda, kota yang menyediakan ruang ekspresi yang inklusif, membuka akses kolaborasi, serta memberikan dukungan nyata, baik dalam bentuk fasilitas maupun kebijakan.

“Semarang yang ideal itu yang bisa mewadahi semua. Ada ruang untuk berekspresi, ada akses untuk berkembang, dan ada dukungan yang nyata,” tutupnya.

Dari suara komunitas seperti KOPI Perubahan, terlihat jelas bahwa potensi kreativitas anak muda di Semarang sangat besar. Tinggal bagaimana ekosistem kota mampu merangkul, menghubungkan, dan memberi ruang agar potensi itu benar-benar tumbuh dan berdampak.

Anak mudanya sudah siap berkarya, idenya juga nggak habis-habis. Tinggal kotanya yang perlu memutuskan: mau jadi panggung, atau tetap jadi penonton? (dul)

 

Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

You Might Also Like

Soal Normalisasi Kali Plumbon, Pemkot Tunggu Pemerintah Pusat

Siswa SDN Pendrikan Lor 2 Semarang Belajar dan Santap MBG di Bawah Atap Ambrol

Mantan Buruh Sritex Demo Tagih Pesangon di Semarang

Bos Rokok HS Disebut Terima Sleeping Fee Rp9,5 M di Kasus Korupsi DJKA

Rata-rata Gaji Dosen Indonesia Rp3,36 Juta per Bulan, Lebih Gede Bayaran Pegawai MBG?

TAGGED:disparbud kota semaranghari jadi kota semarangheadlinepemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Penumpang bersiap menaiki bus listrik armada BRT Trans Semarang. Serius Benahi Transportasi Umum, Trans Semarang Jadi Andalan
Next Article Jalan Undip-Unnes Akhirnya “Naik Kelas”

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

UNGKAP KASUS--Polda Jateng mengungkap kasus tawuran remaja di Jalan Arteri Mangkang, Semarang. Satu dari empat tersangka dihadurikan saat konferensi pers di Mapolda, Jumat (7/8/2026). (ist)

Ngerinya Tawuran Geng Semarang vs Kendal Berujung Tersangka, Polisi Sita 9 Celurit

Samuel Wattimena: El Nino Bukan Buat Panik, Tapi Alarm Supaya Semua Bergerak Lebih Cepat

Masuk 25 Besar Desa BRILiaN, Getas Ditempa Lima Hari Bareng Undip dan BRI

KERJA SAMA--Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama Dubes Prancis, Fabien Penone dalam acara pembukaan pemeran di Lawang Sewu, Kamis (6/8/2026). (bae)

Peluang Penulis Lokal Semarang Berangkat ke Prancis, Pemkot Siapkan Program Residensi Sastra

MAIN PADEL--Elsa dan rekannya sedang bermain padel di Gets Coutrs Semarang. (bae)

Fomo Berujung Hobi, Padel Makin Digemari Anak Muda Semarang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Jateng Juara Urusan Tanah Wakaf, 73 Persen Sudah Bersertifikat

Juni 16, 2026
Sejumlah lembaga dan universitas di Jawa Tengah yang bekerjasama dengan Pemprov Jateng terkait pengadaan lapangan kerja di Jawa Tengah
Info

Lowongan Kerja Kekinian di Jawa Tengah? Intip AyoKerjo Jateng, Solusi Cari Kerja Anak Muda

September 10, 2025
Titik lokasi pusat gempa magnitudo 4,9 di Karawang Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/8/2025) yang terasa hingga Jakarta.
Unik

Gempa 4,9 Guncang Bekasi: Jakarta Ikut Kaget, KRL Sempat Tersendat

Agustus 20, 2025
BOBOL DATA - Ilustrasi hacker membobol data digital.
Info

1,2 Juta NIK Warga Jateng Dibobol, Begini Respons Pemerintah Provinsi

Juli 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Anak Muda Semarang Kreatif, tapi Minim “Panggung”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?