BACAAJA, SEMARANG– Meracik bahan alam menjadi produk obat herbal ternyata bukan perkara sekadar merebus daun, mengeringkan rimpang, lalu mengemasnya. Ada teknologi canggih, pengujian berlapis, hingga standar mutu ketat yang harus dilewati.
Pengalaman itulah yang ingin dibawa pulang 163 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (Stifar) Yayasan Pharmasi (Yaphar) Semarang setelah mengintip langsung proses produksi di pabrik.
Mereka mengikuti kunjungan akademik ke PT Borobudur Extraction Center (BEC) untuk melihat bagaimana industri mengolah bahan alam menjadi bahan baku obat tradisional dengan standar Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).
“Kegiatan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk membandingkan teori yang selama ini dipelajari di ruang kuliah dengan praktik manufaktur di dunia industri,” kata Sekretaris Prodi S1 Farmasi Stifar Yaphar Semarang, Dr apt Bekti Nugraheni, M.Sc.
Baca juga: Mahasiswa Stifar Yayasan Pharmasi Intip “Dapur” Produksi Spirulina
Karena jumlah peserta cukup banyak dan kapasitas pabrik terbatas, kunjungan dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung Kamis, (29/10/2026) dengan 84 mahasiswa.
Sementara gelombang kedua pada Rabu, (4/11/2026) dengan melibatkan 79 mahasiswa didampingi tim dosen diantaranya apt Dewi Ramonah, MFarm, dan apt Wulandari, MSc.
Dikatakan Bekti, kunjungan dirancang untuk mendukung capaian pembelajaran, khususnya mata kuliah Isolasi Bahan Alam (IBA) serta Standardisasi dan Teknologi Bahan Alam (STBA).
Melihat Langsung
Di PT BEC, mahasiswa tidak hanya mendapat penjelasan teori. Mereka diajak melihat langsung perjalanan bahan alam sebelum diolah menjadi ekstrak berkualitas. Prosesnya dimulai dari penerimaan simplisia atau bahan alam kering, pengujian mutu awal (quality control), sortasi, pencucian, hingga pengeringan.
Menariknya, mahasiswa juga berkesempatan mengamati penggunaan teknologi manufaktur skala industri. Mulai dari mesin ekstraksi dan evaporasi berkapasitas besar untuk menyari sekaligus memekatkan bahan aktif, teknologi sterilisasi untuk menjaga keamanan bahan dari kontaminasi mikroba, hingga vacuum belt dryer untuk menghasilkan ekstrak kering dalam bentuk granul maupun serbuk halus.
“Pengalaman ini penting agar mahasiswa memahami bahwa proses produksi obat berbahan alam membutuhkan ketelitian dan standar yang tidak bisa ditawar,” jelas Bekti.
Baca juga: Apocil Ajak Siswa Melek Obat
Melalui kunjungan ini, pihaknya ingin mahasiswa melihat secara nyata perbedaan antara skala laboratorium di kampus dengan produksi skala industri. Tumbuh kesadaran bahwa menghasilkan sediaan obat bahan alam yang aman dan konsisten membutuhkan dokumentasi ketat, pengawasan mutu (quality assurance), serta penerapan CPOTB secara disiplin.
Antusiasme mahasiswa terlihat selama observasi dan sesi diskusi bersama tim ahli PT BEC. Selain memahami teknologi produksi, mereka juga mendapat gambaran tentang etika profesional, keselamatan kerja, serta standar kualitas yang diterapkan di industri farmasi.
Singkatnya, jangan sampai mahasiswa hafal semua nama senyawa aktif, tetapi begitu masuk pabrik justru bingung melihat tombol mesin ekstraksi. Teori tetap penting, tetapi pengalaman lapangan bisa menjadi pembeda antara sekadar punya ijazah dan benar-benar siap bekerja. (tebe)

