BACAAJA, SEMARANG– Riset pangan jangan cuma berakhir sebagai tumpukan jurnal di rak kampus. Ilmu pengetahuan harus bisa turun ke meja makan, menjamin keamanan produk, sekaligus membantu UMKM pangan naik kelas.
Semangat inilah yang mengemuka dalam peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 di Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip). Momentum tersebut dimanfaatkan Undip untuk meluncurkan Program Studi Magister Ilmu Pangan.
Langkah ini diharapkan memperkuat sumber daya manusia, riset, dan inovasi guna menjawab tantangan sektor pangan yang semakin kompleks. Kegiatan yang berlangsung di Gedung ICT Lantai 5 UNDIP, baru-baru ini diikuti lebih dari 100 peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, mitra perguruan tinggi, dan pelaku usaha pangan.
Dekan FPP Undip Prof Sugiharto, SPt, MSc, PhD meresmikan peluncuran program tersebut bersama perwakilan pemerintah. Ia menekankan pentingnya penguatan pendidikan dan penelitian agar pengembangan ilmu pangan menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Baca juga: FPP Undip dan Pertamina Bikin KKN Naik Kelas di Pedurungan
“Peluncuran Program Studi Magister Ilmu Pangan ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, mengembangkan riset dan inovasi, serta mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha dalam menjawab tantangan pangan yang semakin kompleks,” ujar Sugiharto.
Selain peluncuran program studi, agenda Hari Pangan Sedunia juga diisi talk show mengenai ilmu pengetahuan, pengawasan keamanan pangan, dan kebijakan ketahanan pangan.
Diskusi menghadirkan Prof Ir Anang M. Legowo, MSc, PhD dari Teknologi Pangan Undip, Plt. Kepala BBPOM Semarang, Dewi Marya Achmad, S.Farm, Apt serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih Setyawulan, SE, MM, Ak.
Lintas Negara
Kolaborasi lintas negara turut menjadi bagian penting kegiatan ini melalui dukungan Konsorsium Erasmus+ Food Innovation and Development for Sustainability (FIND4S).
Mitra internasional yang terlibat meliputi KU Leuven dari Belgia, University College Dublin dari Irlandia, Anhalt University of Applied Sciences dari Jerman, dan Universidade Católica Portuguesa dari Portugal.
Di tingkat nasional, konsorsium menggandeng Universitas Semarang (USM), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Universitas Tidar (Untidar), Universitas PGRI Semarang (Upgris), Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (Untag), serta Universitas Nasional Karangturi (Unkatur).
Tak hanya membahas teori, kegiatan ini juga memberi ruang bagi pelaku usaha melalui bazar produk UMKM. FPP Undip turut menyerahkan sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) kepada UMKM mitra Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT).
Baca juga: Telur, Susu, dan Website: Jurus Mahasiswa Undip Bantu ABK Belajar Mandiri
Dukungan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperkuat legalitas produk dan membuka peluang pasar yang lebih luas. Sebab, produk pangan yang menarik dan inovatif tetap perlu memenuhi persyaratan keamanan agar mendapat kepercayaan konsumen.
Melalui kegiatan ini, FPP Undip mendorong kolaborasi pendidikan, penelitian, pemerintah, dan dunia usaha untuk membangun sistem pangan yang aman dan berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan ilmu dari kampus benar-benar sampai ke masyarakat, sebab pangan berkelanjutan bukan sekadar bahan seminar, melainkan kebutuhan sehari-hari yang harus aman dikonsumsi dan mampu menggerakkan ekonomi lokal. (tebe)

