Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Gus Baha: Agama Hidup karena Orang Tak Kehilangan Harapan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Gus Baha: Agama Hidup karena Orang Tak Kehilangan Harapan

Nugroho P.
Last updated: November 5, 2026 9:30 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Seseorang yang masih memiliki banyak dosa bukan berarti sudah tertutup dari pintu kebaikan. Selama masih ada keinginan untuk berubah dan berharap mendapat ampunan Allah SWT, kesempatan memperbaiki diri tetap terbuka.

Pesan itu disampaikan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam sebuah pengajian di Rembang. Ulama ahli tafsir tersebut mengingatkan bahwa agama tidak hanya dijaga oleh orang-orang yang merasa dirinya bersih, tetapi juga mereka yang tidak pernah kehilangan harapan kepada rahmat Allah.

Gus Baha mengangkat kisah seorang ayah yang dikenal sebagai pribadi fasik. Meski kehidupannya jauh dari gambaran orang saleh, ia masih berusaha menasihati anak-anaknya agar tidak mengikuti kebiasaan buruk yang selama ini dilakukannya.

Bagi Gus Baha, sikap tersebut menunjukkan masih adanya harapan dalam diri seseorang yang bergelimang dosa. Ia ingin generasi setelahnya memiliki kehidupan lebih baik, meskipun dirinya sendiri belum mampu keluar dari keburukan.

“Yang menghidupkan agama ini adalah limang kana yarju, orang-orang yang masih punya harapan,” kata Gus Baha.

Menurutnya, kekuatan agama bukan terletak pada orang yang merasa paling suci. Justru, harapan untuk berubah dan keyakinan terhadap luasnya ampunan Allah menjadi salah satu hal penting yang membuat kehidupan beragama terus tumbuh.

Penjelasan itu juga disampaikan dalam tayangan kanal YouTube @khidmatumatchannel9230. Gus Baha kemudian menghubungkan pentingnya harapan dengan peristiwa dakwah Rasulullah SAW di Thaif.

Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW mendapatkan perlakuan kasar dari penduduk Thaif. Beliau dihina hingga dilempari batu, bahkan malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk kota tersebut.

Namun, Rasulullah SAW tidak memilih membalas perlakuan itu. Beliau justru berharap agar orang-orang yang menolaknya mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Doa yang disampaikan Rasulullah SAW berbunyi:

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Allahumma ihdi qawmi fainnahum la ya’lamun.

Artinya: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak tahu.

Gus Baha menjelaskan, sikap Rasulullah SAW memperlihatkan bahwa harapan tidak selalu diarahkan kepada orang yang sedang berbuat baik. Bahkan kepada mereka yang menolak dakwah sekalipun, masih ada harapan agar suatu saat berubah.

“Kalaupun bapaknya kafir, saya berharap anaknya tidak kafir,” ujar Gus Baha menggambarkan sikap penuh harapan tersebut.

Dari kisah itu, Gus Baha mengajak umat Islam agar tidak gampang merendahkan orang lain hanya karena melihat kesalahan dan dosa masa lalunya. Sebab, seseorang yang hari ini terlihat buruk belum tentu selamanya berada dalam keadaan yang sama.

Ia juga menyentil kebiasaan sebagian orang yang mudah mencaci pendosa, tetapi tidak memberikan ruang bagi mereka untuk memperbaiki diri. Padahal, setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat dan kembali mendekat kepada Allah SWT.

“Orang yang rusak tapi masih punya rojak, lebih baik daripada orang yang merasa suci tapi sombong,” ungkapnya.

Gus Baha menegaskan bahwa berharap kepada rahmat Allah bukan berarti seseorang boleh terus melakukan dosa. Harapan justru harus menjadi dorongan untuk segera bertobat dan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk.

Karena itu, umat Islam diminta tidak mudah berputus asa ketika melihat dirinya masih jauh dari kesempurnaan. Selama keinginan untuk berubah tetap ada, jalan menuju kebaikan masih terbuka. (*)

You Might Also Like

Usai Sholat, Jangan Lewatkan Dzikir Ini

Jangan Anggap Sepele Gula Darah Drop Saat Olahraga

Anak Ketahuan Bohong? Jangan Langsung Dimarahi

Habis Lebaran Gas Olahraga? Santai Dulu Biar Nggak Drop

Doa Agar Bisa Bermimpi Bertemu Rasulullah, Lengkap dengan Hadis dan Amalannya

TAGGED:agamaberita islamigus bahaislamngaji gus baha
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Buya Yahya Ingatkan Mualaf, Islam Bukan Sekadar Syahadat

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Gus Baha: Agama Hidup karena Orang Tak Kehilangan Harapan

Buya Yahya Ingatkan Mualaf, Islam Bukan Sekadar Syahadat

UAH Ungkap Mengapa Dzikir Harus Diulang Berkali-kali

Buya Yahya Tolak Kotak Amal Keliling, Ini Alasannya

Gus Baha Ingatkan Takbir, Salah Panjang Bisa Berbahaya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

5.000 Langkah, Mood Bisa Ikutan Naik

Agustus 21, 2026
Tips

Gigi Susu Jangan Dianggap Cuma Numpang Lewat

Juli 25, 2026
Tips

Jangan Asal Segar, 4 Kelompok Ini Perlu Waspada Air Kelapa

Oktober 25, 2026
Tips

Perempuan Lebih Melihat Bukti daripada Rayuan

Agustus 31, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Gus Baha: Agama Hidup karena Orang Tak Kehilangan Harapan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?