BACAAJA, SEMARANG – Seseorang yang masih memiliki banyak dosa bukan berarti sudah tertutup dari pintu kebaikan. Selama masih ada keinginan untuk berubah dan berharap mendapat ampunan Allah SWT, kesempatan memperbaiki diri tetap terbuka.
Pesan itu disampaikan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam sebuah pengajian di Rembang. Ulama ahli tafsir tersebut mengingatkan bahwa agama tidak hanya dijaga oleh orang-orang yang merasa dirinya bersih, tetapi juga mereka yang tidak pernah kehilangan harapan kepada rahmat Allah.
Gus Baha mengangkat kisah seorang ayah yang dikenal sebagai pribadi fasik. Meski kehidupannya jauh dari gambaran orang saleh, ia masih berusaha menasihati anak-anaknya agar tidak mengikuti kebiasaan buruk yang selama ini dilakukannya.
Bagi Gus Baha, sikap tersebut menunjukkan masih adanya harapan dalam diri seseorang yang bergelimang dosa. Ia ingin generasi setelahnya memiliki kehidupan lebih baik, meskipun dirinya sendiri belum mampu keluar dari keburukan.
“Yang menghidupkan agama ini adalah limang kana yarju, orang-orang yang masih punya harapan,” kata Gus Baha.
Menurutnya, kekuatan agama bukan terletak pada orang yang merasa paling suci. Justru, harapan untuk berubah dan keyakinan terhadap luasnya ampunan Allah menjadi salah satu hal penting yang membuat kehidupan beragama terus tumbuh.
Penjelasan itu juga disampaikan dalam tayangan kanal YouTube @khidmatumatchannel9230. Gus Baha kemudian menghubungkan pentingnya harapan dengan peristiwa dakwah Rasulullah SAW di Thaif.
Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW mendapatkan perlakuan kasar dari penduduk Thaif. Beliau dihina hingga dilempari batu, bahkan malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk kota tersebut.
Namun, Rasulullah SAW tidak memilih membalas perlakuan itu. Beliau justru berharap agar orang-orang yang menolaknya mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Doa yang disampaikan Rasulullah SAW berbunyi:
اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ
Allahumma ihdi qawmi fainnahum la ya’lamun.
Artinya: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak tahu.
Gus Baha menjelaskan, sikap Rasulullah SAW memperlihatkan bahwa harapan tidak selalu diarahkan kepada orang yang sedang berbuat baik. Bahkan kepada mereka yang menolak dakwah sekalipun, masih ada harapan agar suatu saat berubah.
“Kalaupun bapaknya kafir, saya berharap anaknya tidak kafir,” ujar Gus Baha menggambarkan sikap penuh harapan tersebut.
Dari kisah itu, Gus Baha mengajak umat Islam agar tidak gampang merendahkan orang lain hanya karena melihat kesalahan dan dosa masa lalunya. Sebab, seseorang yang hari ini terlihat buruk belum tentu selamanya berada dalam keadaan yang sama.
Ia juga menyentil kebiasaan sebagian orang yang mudah mencaci pendosa, tetapi tidak memberikan ruang bagi mereka untuk memperbaiki diri. Padahal, setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat dan kembali mendekat kepada Allah SWT.
“Orang yang rusak tapi masih punya rojak, lebih baik daripada orang yang merasa suci tapi sombong,” ungkapnya.
Gus Baha menegaskan bahwa berharap kepada rahmat Allah bukan berarti seseorang boleh terus melakukan dosa. Harapan justru harus menjadi dorongan untuk segera bertobat dan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk.
Karena itu, umat Islam diminta tidak mudah berputus asa ketika melihat dirinya masih jauh dari kesempurnaan. Selama keinginan untuk berubah tetap ada, jalan menuju kebaikan masih terbuka. (*)

