BACAAJA, SEMARANG – Memutuskan menjadi seorang Muslim bukan berarti perjalanan seseorang langsung selesai setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Ada tanggung jawab besar yang harus dijalani, terutama dalam memperbaiki akhlak dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Pesan tersebut disampaikan KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya kepada mereka yang memutuskan memeluk Islam. Pengasuh Majelis Ilmu dan Dzikir Al-Bahjah itu mengingatkan bahwa menjadi mualaf harus membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Buya Yahya, seseorang yang baru masuk Islam semestinya menunjukkan perilaku yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Perubahan itu tidak hanya terlihat dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam cara memperlakukan keluarga, tetangga, dan masyarakat.
“Kalau kamu masuk Islam, maka kamu harus jauh lebih bagus dari sebelumnya. Harus lebih baik kepada orang tua meskipun mereka belum Islam, harus lebih baik kepada tetangga walaupun mereka belum seiman,” ujar Buya Yahya dalam kajiannya.
Pesan tersebut disampaikan dalam tayangan video di kanal YouTube @buyayahyaofficial. Buya Yahya menekankan bahwa Islam mengajarkan kasih sayang, kesantunan, serta penghormatan kepada sesama manusia.
Ia menyoroti kemungkinan munculnya persoalan dalam keluarga setelah seseorang memutuskan berpindah keyakinan. Perbedaan agama terkadang membuat hubungan anak dan orang tua menjadi renggang apabila tidak disikapi dengan bijaksana.
Karena itu, seorang mualaf justru harus semakin santun kepada keluarganya. Jangan sampai keputusan memeluk Islam membuat seseorang berubah menjadi pribadi yang kasar atau menjauh dari orang tua.
“Jangan sampai setelah masuk Islam malah menjadi musuh bagi orang tua. Harusnya justru lebih santun, lebih hormat, dan lebih sabar dalam menghadapi perbedaan,” lanjutnya.
Dalam kajiannya, Buya Yahya juga menceritakan pengalaman seorang perempuan yang ingin memeluk Islam setelah menikah dengan pria Muslim. Perempuan tersebut memiliki ayah yang masih memeluk agama Nasrani.
Sebelum menjalani kehidupan barunya sebagai Muslimah, perempuan itu diingatkan agar tidak mengabaikan hubungan dengan sang ayah. Ia tetap harus menunjukkan rasa hormat dan berusaha menjadi anak yang lebih baik.
Nasihat tersebut kemudian dijalankan. Setelah masuk Islam, perempuan itu berusaha memperbaiki sikap dan semakin memperhatikan ayahnya.
Perubahan perilaku tersebut ternyata memberikan kesan mendalam bagi sang ayah. Ketika melihat anaknya menjadi lebih santun dan penuh perhatian, sang ayah justru tersentuh hingga akhirnya memutuskan ikut memeluk Islam.
Kisah itu menjadi contoh bahwa akhlak bisa menjadi jalan terbukanya hidayah bagi orang lain. Perubahan positif seseorang terkadang jauh lebih menyentuh daripada perdebatan panjang mengenai perbedaan keyakinan.
Buya Yahya menegaskan, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memusuhi keluarga yang berbeda agama. Sebaliknya, seorang Muslim harus tetap menjaga hubungan baik, menghormati orang tua, dan menunjukkan kasih sayang.
Bagi para mualaf, tantangan tersebut tentu membutuhkan kesabaran. Tidak sedikit orang yang harus menghadapi penolakan atau tekanan dari keluarga ketika mengambil keputusan untuk memeluk Islam.
Karena itu, mereka membutuhkan penguatan akidah dan pendampingan agar tetap istiqamah. Dukungan dari lingkungan Muslim juga penting supaya para mualaf tidak merasa sendirian dalam menjalani kehidupan barunya.
Buya Yahya juga mengingatkan bahwa menjadi Muslim bukan sekadar memiliki identitas agama baru. Ada tanggung jawab untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Seorang Muslim seharusnya membuat orang lain merasa aman dan nyaman ketika berada di dekatnya. Prinsip tersebut juga harus dipegang oleh para mualaf, terutama ketika menghadapi perbedaan keyakinan di tengah keluarga.
Ia pun mengajak para mualaf agar tidak mudah menghakimi orang lain. Teruslah belajar agama dengan bimbingan para ulama, tetap rendah hati, dan tunjukkan keindahan Islam melalui perilaku sehari-hari. (*)

