BACAAJA, SEMARANG – Mengapa bacaan dzikir dalam Islam sering dianjurkan hingga puluhan bahkan ratusan kali? Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa banyaknya hitungan tersebut bukan sekadar untuk memperbanyak ucapan, tetapi juga menjadi latihan agar hati terbiasa terhubung dengan Allah SWT.
Menurut pendiri Quantum Akhyar Institute itu, dzikir yang diucapkan melalui lisan seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran hati. Keduanya perlu dilatih supaya seseorang tidak hanya mengulang lafadz, tetapi juga benar-benar menghayati apa yang sedang diucapkan.
“Itulah mengapa bilangannya banyak, untuk melatih hati agar tetap nyambung dengan lisan yang digunakan,” ujar UAH dalam sebuah ceramah.
Penjelasan tersebut dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @ummuhaniya. UAH menerangkan bahwa pengulangan dzikir menjadi bagian dari proses membiasakan hati agar selalu mengingat Allah SWT.
Menurutnya, seseorang terkadang bisa melafalkan bacaan dzikir dengan lancar, tetapi pikirannya justru melayang ke berbagai hal lain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara lisan dan hati masih perlu dilatih.
Karena itulah, jumlah bacaan yang banyak memiliki tujuan tersendiri. Pengulangan tersebut diharapkan membuat hati semakin terbiasa mengikuti ucapan lisan sehingga dzikir tidak berhenti sebagai rutinitas tanpa penghayatan.
UAH menjelaskan, menyatukan lisan dan hati dalam berdzikir membutuhkan proses serta konsistensi. Seseorang perlu membiasakan diri agar setiap lafadz yang diucapkan benar-benar disadari maknanya.
Dzikir juga tidak hanya bermanfaat ketika seseorang sedang berada di majelis atau menjalankan ibadah tertentu. Kebiasaan mengingat Allah bisa menjadi pengingat dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.
Saat menghadapi persoalan, misalnya, dzikir dapat membantu seseorang menjaga kesadaran bahwa Allah SWT selalu menjadi tempat bergantung. Dengan begitu, hati tidak mudah larut dalam kegelisahan maupun tekanan kehidupan.
UAH juga mengingatkan bahwa tujuan dzikir bukan hanya mengejar pahala dari banyaknya bacaan. Lebih dari itu, amalan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kondisi hati.
Ia mengajak umat Islam agar tidak merasa terbebani ketika harus mengulang bacaan dzikir dalam jumlah tertentu. Justru, kebiasaan tersebut bisa menjadi latihan spiritual yang membawa seseorang semakin terbiasa mengingat Sang Pencipta.
Namun, banyaknya hitungan tetap perlu diimbangi dengan kualitas penghayatan. Mengucapkan lafadz berkali-kali tanpa memahami maknanya tentu berbeda dengan dzikir yang dilakukan secara sadar dan penuh perhatian.
Dalam penjelasannya, UAH juga mengingatkan bahwa dzikir dapat membantu membersihkan hati dari berbagai hal yang mengganggu kejernihan pikiran. Karena itu, umat Islam dianjurkan membiasakan dzikir dalam berbagai keadaan, bukan hanya ketika sedang menghadapi kesulitan.
Sementara itu, dikutip dari jabar.nu.or.id, secara bahasa dzikir berasal dari kata zakara-yazkuru-zikran yang memiliki arti mengingat atau memusatkan perhatian terhadap sesuatu.
Dalam pengertian yang lebih luas, dzikir terbagi menjadi dua jenis. Pertama, dzikir secara umum yang mencakup berbagai bentuk ibadah, seperti sholat, puasa, dan membaca Al-Qur’an.
Kedua, dzikir secara khusus, yakni mengingat Allah SWT melalui lafadz-lafadz tertentu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.
Keutamaan dzikir juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ
Fadzkuruni adzkurkum wasykuru li wa la takfurun.
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa dzikir memiliki kedudukan penting dalam hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Mengingat Allah bukan hanya dilakukan melalui ucapan, tetapi juga dengan kesadaran untuk menjalankan perintah-Nya.
Dalam hadis qudsi juga dijelaskan bahwa Allah akan memberikan balasan yang lebih baik kepada hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya. Semakin seorang hamba mendekat, semakin besar pula rahmat Allah yang diharapkan menyertainya.
Selain itu, Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah melalui penciptaan alam semesta.
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Inna fi khalqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili wannahari la ayatil li ulil albab.
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190).
Tingkatan dzikir setiap orang juga tidak selalu sama. Ada yang baru mampu melafalkannya melalui lisan, ada yang mulai melibatkan hati, dan ada pula yang telah terbiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan.
UAH mengajak umat Islam untuk terus membangun kebiasaan tersebut sesuai kemampuan masing-masing. Sebab, dzikir yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi jalan untuk menjaga hati, memperkuat kesadaran spiritual, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (*)

