BACAAJA, SEMARANG – Selesai mengerjakan sholat fardhu, jangan buru-buru beranjak. Ada amalan sederhana yang bisa dilakukan untuk menutup ibadah sekaligus menjaga hati tetap dekat dengan Allah SWT, yakni dzikir dan doa setelah sholat.
Dzikir setelah sholat fardhu tidak membutuhkan waktu lama. Rangkaian bacaannya juga cukup familiar, mulai dari istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir, hingga membaca sejumlah surah pendek dan Ayat Kursi.
Momen setelah sholat bisa menjadi waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Dengan berdzikir secara tenang, seorang Muslim dapat kembali mengingat kebesaran Allah SWT, memohon ampunan, serta menyampaikan berbagai harapan dan kebutuhan.
Dalam sejumlah hadis, waktu setelah sholat fardhu termasuk salah satu waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa doa yang paling dekat dengan dikabulkan adalah pada akhir malam dan setelah sholat wajib (HR Tirmidzi).
Apa Makna Dzikir Setelah Sholat?
Dzikir setelah sholat fardhu termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Amalan ini bukan sekadar kebiasaan yang dilakukan setelah salam, tetapi menjadi cara untuk kembali mengingat Allah SWT setelah menunaikan kewajiban.
Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan tentang anjuran berdzikir setelah sholat sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah dan bentuk syukur kepada Allah SWT.
Dalam riwayat dari Umamah RA, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai doa yang paling mudah dikabulkan. Rasulullah SAW menjawab, “Di akhir malam dan setelah sholat maktubah (fardhu)” (HR Tirmidzi).
Karena itu, selesai sholat menjadi kesempatan yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Tidak harus buru-buru, dzikir bisa dilakukan dengan pelan sambil memahami makna setiap bacaannya.
Urutan Dzikir Setelah Sholat Fardhu
Salah satu rangkaian dzikir setelah sholat fardhu yang banyak diamalkan dimulai dengan istighfar. Bacaan ini menjadi bentuk pengakuan seorang hamba bahwa dirinya tetap memiliki kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah SWT.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (٣×)
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Astaghfirullah (3x).
Allahumma anta as-salaam wa minka as-salaam, tabaarakta yaa dzal-jalaali wal-ikraam.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah (3x). Ya Allah, Engkau Maha Sejahtera dan dari-Mu kesejahteraan. Mahasuci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
Dilanjutkan Kalimat Tauhid
Setelah istighfar, dzikir dapat dilanjutkan dengan kalimat tauhid yang menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir. Allahumma laa maani‘a limaa a‘thaita wa laa mu‘thiya limaa mana‘ta wa laa yanfa‘u dzal-jaddi minka al-jaddu.
Artinya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Bacaan tersebut juga mengingatkan bahwa rezeki, kekuasaan, pemberian, maupun sesuatu yang tidak didapatkan manusia semuanya berada dalam ketetapan Allah SWT.
Tasbih, Tahmid, dan Takbir
Rangkaian berikutnya adalah tasbih, tahmid, dan takbir. Masing-masing dibaca sebanyak 33 kali.
سُبْحَانَ اللهِ (٣٣×)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ (٣٣×)
اللهُ أَكْبَرُ (٣٣×)
Subhaanallah (33x), Alhamdulillah (33x), Allahu akbar (33x).
Artinya: “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar.”
Bacaan tersebut sangat populer di kalangan umat Islam dan sering disebut sebagai dzikir Fatimah karena Rasulullah SAW mengajarkannya kepada putrinya, Fatimah az-Zahra RA.
Tutup dengan Kalimat Tahlil
Setelah tasbih, tahmid, dan takbir, rangkaian dzikir dapat ditutup dengan kalimat tahlil berikut:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir.
Artinya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Kalimat ini kembali menegaskan tauhid dan kekuasaan Allah SWT atas seluruh kehidupan.
Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
Setelah rangkaian dzikir, umat Islam juga dianjurkan membaca tiga surah pendek, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Surah Al-Ikhlas diawali dengan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Qul huwallāhu ahad.
Artinya: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.”
Kemudian Surah Al-Falaq:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Qul a‘ūdzu birabbil-falaq.
Artinya: “Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai fajar.”
Selanjutnya Surah An-Nas:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Qul a‘ūdzu birabbin-nās.
Artinya: “Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan manusia.”
Ketiga surah tersebut berisi penguatan tauhid sekaligus permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Ayat Kursi Jadi Bacaan Penutup
Ayat Kursi juga termasuk bacaan yang dianjurkan setelah sholat. Ayat ini terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 255 dan berisi penegasan tentang kebesaran serta kekuasaan Allah SWT.
اللّٰهُ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ
لَهُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ
مَنْ ذَا الَّذِىْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ إِلَّا بِإِذْنِهٖ ۗ
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ
وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ إِلَّا بِمَا شَاۤءَ ۚ
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۖ
وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Allāhu lā ilāha illā huwa al-hayyu al-qayyūm, lā ta’khudzuhu sinatun wa lā nawm, lahu mā fis-samāwāti wa mā fil-ardh, man dzalladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi-idznih, ya‘lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuhīthūna bisyai’im min ‘ilmihī illā bimā syā’, wasi‘a kursiyyuhus-samāwāti wal-ardh, wa lā ya’ūduhū hifzhuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘azhīm.
Artinya:
“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.
Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.
Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka.
Mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.
Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Membaca Ayat Kursi setelah sholat juga memiliki keutamaan besar berdasarkan sejumlah riwayat yang menjelaskan keutamaannya.
Kenapa Dzikir Setelah Sholat Penting?
Dzikir setelah sholat fardhu bukan cuma rutinitas yang dilakukan karena sudah terbiasa. Di balik bacaan-bacaannya ada upaya untuk menjaga hati agar tetap ingat kepada Allah SWT setelah menyelesaikan ibadah wajib.
Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.” (HR Bukhari).
Pesan tersebut menggambarkan betapa pentingnya dzikir dalam kehidupan seorang Muslim. Hati yang terus mengingat Allah diharapkan tidak mudah larut dalam kelalaian.
Dzikir juga dapat menjadi jeda sejenak dari padatnya aktivitas. Setelah berdiri dalam sholat, seseorang punya kesempatan untuk menenangkan pikiran, bersyukur, memohon ampun, dan berdoa.
Jangan Cuma Setelah Sholat
Amalan dzikir tidak hanya dilakukan setelah sholat fardhu. Dzikir pagi dan petang juga termasuk amalan yang dianjurkan dan banyak dibahas dalam berbagai kitab kumpulan doa dan dzikir, salah satunya Hisnul Muslim.
Namun, dzikir selepas sholat punya momen tersendiri karena langsung mengikuti ibadah wajib. Karena itu, tidak ada salahnya meluangkan beberapa menit sebelum kembali ke aktivitas.
Yang paling penting bukan sekadar mengejar cepat selesai. Bacaan dzikir akan terasa lebih bermakna ketika dilafalkan dengan tenang sambil memahami arti dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Pada akhirnya, Dzikir Setelah Sholat Fardhu Lengkap bisa menjadi kebiasaan kecil yang memberi ruang bagi hati untuk kembali mengingat Allah SWT. Istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir, surah pendek, hingga Ayat Kursi masing-masing membawa pesan tentang tauhid, syukur, permohonan ampun, dan perlindungan.
Membiasakan dzikir selepas sholat juga menjadi salah satu cara menjaga hubungan dengan Allah SWT di tengah kesibukan sehari-hari. Semoga amalan sederhana ini bisa terus dijaga dan dilakukan dengan ikhlas serta penuh penghayatan. (*)

