AMBARAWA, BACAAJA- Selama ini anak-anak mungkin lebih familiar dengan obat karena pernah diberi orang tua saat sakit. Tapi siapa yang memastikan mereka tahu obat itu didapat dari mana, digunakan bagaimana, disimpan di mana, dan kapan harus dibuang?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui Program Apoteker Cilik (Apocil) yang digelar Stifar Yayasan Pharmasi Semarang di SDK Pangudi Luhur Ambarawa, baru-baru ini.
Sebanyak 58 siswa kelas V mengikuti edukasi yang tak cuma mengenalkan profesi apoteker, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan dasar tentang penggunaan obat secara aman dan bertanggung jawab.
Materi dikemas menggunakan metode yang dekat dengan dunia anak. Permainan, kuis, diskusi, media visual, hingga simulasi digunakan agar pembahasan soal obat tidak terasa seperti pelajaran tambahan yang bikin menguap.
Baca juga: Cari Obat Nggak Perlu Pusing, Pemkot Semarang Luncurkan Pharma City
Salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah Dagusibu, singkatan dari Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Benar. Konsep tersebut disampaikan menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Dosen Stifar Yayasan Pharmasi Semarang, I Kadek Bagiana mengatakan, pemahaman soal obat penting ditanamkan sejak usia sekolah. “Anak-anak perlu dibekali pemahaman dasar tentang obat sejak dini. Harapannya, mereka tidak hanya mengetahui obat, tetapi juga memahami bagaimana mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa obat tidak boleh digunakan sembarangan. Mereka dikenalkan pentingnya membeli atau mendapatkan obat dari tempat yang tepat, mengikuti aturan pemakaian, menyimpan sesuai ketentuan, serta mengecek tanggal kedaluwarsa.
Yang menarik, kelas tidak berjalan satu arah. Anak-anak diberi ruang untuk bertanya dan menceritakan pengalaman mereka ketika menggunakan obat di rumah.
Keterlibatan Siswa
Pertanyaannya pun beragam. Mulai dari fungsi vitamin, antibiotik, cara kerja obat, hingga hal-hal seputar profesi apoteker. Menurut I Kadek, keterlibatan langsung siswa justru menjadi kunci agar materi lebih mudah diterima.
“Anak-anak lebih mudah memahami materi ketika mereka terlibat langsung. Karena itu, kami menggunakan permainan, kuis, diskusi, dan simulasi agar pesan tentang penggunaan obat bisa diterima dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.
Efek pembelajaran tersebut terlihat dari hasil evaluasi. Pemahaman siswa diukur melalui pre-test dan post-test. Sebelum edukasi, baru 42 persen siswa yang memperoleh nilai di atas 70.
Setelah mengikuti program Apocil, angkanya melonjak menjadi 87 persen. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa edukasi dengan pendekatan yang sesuai karakter anak bisa membantu mereka memahami penggunaan obat dengan lebih baik.
Namun, Stifar Yayasan Pharmasi Semarang berharap pengetahuan itu tidak berhenti ketika siswa keluar dari ruang kelas. Anak-anak diharapkan membawa pulang pengetahuan tersebut dan menjadi pengingat bagi anggota keluarga ketika berhadapan dengan obat.
Baca juga: Mahasiswa KKN Jadi Mitra Pemprov Bangun Desa
“Harapannya, anak-anak ini bisa membawa pengetahuan yang mereka dapat ke rumah. Dengan begitu, edukasi tidak berhenti di sekolah, tetapi bisa ikut memberikan dampak di lingkungan keluarga,” kata I Kadek.
Melalui Apocil, Stifar Yayasan Pharmasi Semarang berupaya menjadikan literasi obat lebih dekat dengan dunia anak. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan profesi apoteker, tetapi juga diajak memahami bahwa obat memiliki aturan dan harus digunakan secara tepat.
Sekolah pun menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan tersebut. Dari ruang kelas, pengetahuan soal obat diharapkan ikut mengalir ke rumah dan lingkungan sekitar.
Sebab, kalau sejak kecil anak sudah paham bahwa obat bukan permen, setidaknya ada satu kebiasaan yang bisa dicegah: asal minum obat hanya karena kemasannya kelihatan meyakinkan. (tebe)

