BACAAJA, SEMARANG – Anak yang terbiasa mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua sejak kecil ternyata berpeluang tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap orang lain. Hubungan yang hangat di rumah bukan cuma bikin anak merasa nyaman, tetapi juga bisa ikut membentuk cara mereka memperlakukan orang di sekitarnya.
Temuan dari studi University of Cambridge menunjukkan, anak yang memiliki hubungan positif dengan orang tua saat berusia 3 tahun cenderung memperlihatkan perilaku prososial lebih tinggi ketika menginjak usia remaja. Perilaku ini mencakup kebiasaan membantu, berbagi, dan menunjukkan empati.
Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi konflik emosional atau perlakuan buruk pada masa awal kehidupan berkaitan dengan kecenderungan perilaku prososial yang lebih rendah. Meski begitu, hubungan tersebut merupakan salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan anak, bukan satu-satunya penentu karakter mereka.
Apa Itu Perilaku Prososial?
Perilaku prososial adalah tindakan yang memberikan manfaat bagi orang lain. Pada anak, sikap ini bisa terlihat dari hal-hal sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa contohnya meliputi:
- Mau membantu teman atau anggota keluarga.
- Berbagi makanan dan mainan.
- Menunjukkan empati ketika orang lain sedang sedih.
- Bersikap murah hati.
- Bersedia terlibat dalam kegiatan sukarela saat sudah lebih besar.
Sikap peduli tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan besar. Kebiasaan mendengarkan, menolong, dan memperhatikan perasaan orang lain juga menjadi bagian dari perilaku prososial.
Hubungan Hangat Berpengaruh hingga Remaja
Dalam penelitian tersebut, kualitas hubungan orang tua dan anak pada usia 3 tahun dikaitkan dengan perilaku prososial ketika anak beranjak remaja. Artinya, pengalaman emosional pada masa awal kehidupan dapat ikut berhubungan dengan perkembangan sikap anak terhadap orang lain di kemudian hari.
Peneliti juga memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk latar belakang etnis dan kondisi sosial ekonomi. Hasil penelitian tetap menunjukkan adanya kaitan antara hubungan hangat orang tua dan anak dengan tingkat perilaku prososial yang lebih tinggi.
Namun, temuan ini tidak berarti anak yang kurang dekat dengan orang tuanya pasti tumbuh tidak peduli. Perkembangan karakter dipengaruhi banyak hal, termasuk lingkungan pertemanan, pengalaman di sekolah, pola pengasuhan, dan kesempatan belajar memahami orang lain.
Konflik di Rumah Bisa Berpengaruh
Hubungan orang tua dan anak yang dipenuhi konflik emosional atau perlakuan buruk pada masa awal kehidupan dikaitkan dengan tingkat perilaku prososial yang lebih rendah. Dalam penelitian, kondisi tersebut berhubungan dengan sejumlah kecenderungan perilaku yang kurang berorientasi pada kepentingan orang lain.
Beberapa perilaku yang disebutkan antara lain:
- Lebih acuh terhadap orang lain.
- Enggan berbagi.
- Sering merendahkan orang lain.
- Menunjukkan perilaku agresif.
- Sering atau sengaja menyakiti orang lain.
Kecenderungan tersebut tidak otomatis menjadi gambaran setiap anak yang mengalami konflik keluarga. Dukungan emosional, lingkungan yang aman, dan pengalaman positif tetap dapat membantu perkembangan sosial anak.
Orang Tua Bisa Mulai dari Hal Sederhana
Membangun hubungan hangat dengan anak tidak harus selalu lewat kegiatan khusus. Waktu bersama, perhatian saat anak bercerita, dan respons yang penuh kasih bisa menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Orang tua juga dapat mengajarkan kepedulian melalui contoh nyata. Misalnya, mengajak anak membantu anggota keluarga, berbagi dengan teman, atau memahami perasaan orang lain tanpa meremehkan emosinya.
Studi University of Cambridge ini menjadi pengingat bahwa hubungan positif sejak dini dapat menjadi salah satu fondasi perkembangan sosial dan emosional anak. Dukungan bagi keluarga juga penting agar orang tua memiliki waktu, kesempatan, dan sumber daya untuk membangun hubungan yang sehat dengan buah hati.(*)

