BACAAJA, SEMARANG – Jerawat sering dianggap muncul hanya karena perubahan hormon. Padahal, tekanan pikiran atau stres juga bisa menjadi penyebab kulit tiba-tiba dipenuhi bintik-bintik yang mengganggu.
Meski sama-sama memicu jerawat, penyebab hormonal dan stres ternyata memiliki ciri yang berbeda. Mengenali perbedaannya penting agar perawatan yang dilakukan lebih tepat sasaran.
Dokter kulit Donna Hart menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami stres, tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon kortisol. Kondisi itu memicu kelenjar minyak bekerja lebih aktif sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat.
Produksi minyak berlebih inilah yang kemudian memicu munculnya jerawat. Karena itu, stres bukan hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan kulit.
Salah satu cara paling mudah membedakan keduanya adalah melihat waktu kemunculan jerawat. Jika jerawat hampir selalu muncul menjelang menstruasi, besar kemungkinan penyebabnya adalah perubahan hormon.
Sebaliknya, bila jerawat datang setelah menghadapi tekanan pekerjaan, tugas kuliah, atau masalah pribadi, penyebabnya lebih mengarah pada stres yang memicu perubahan hormon dalam tubuh.
Ahli kecantikan sekaligus pendiri Peach & Lily, Alicia Yoon, menjelaskan bahwa jerawat stres sebenarnya masih berkaitan dengan hormon. Bedanya, lonjakan hormon terjadi karena respons tubuh terhadap tekanan psikologis.
Sementara itu, jerawat hormonal lebih sering dipicu oleh perubahan alami seperti siklus menstruasi, kehamilan, menopause, atau kondisi tertentu seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS).
Lokasi munculnya jerawat juga bisa menjadi petunjuk. Dokter kulit Lian Mack menyebut jerawat akibat stres umumnya muncul di area wajah yang paling berminyak, terutama zona-T yang meliputi dahi, hidung, dan dagu.
Hal itu terjadi karena peningkatan kadar kortisol membuat produksi minyak di area tersebut semakin tinggi. Akibatnya, pori-pori lebih mudah tersumbat dan memicu peradangan.
Berbeda dengan jerawat hormonal yang lebih sering muncul di sekitar rahang dan dagu. Menurut dokter kulit Michele Green, jerawat jenis ini biasanya muncul di lokasi yang sama secara berulang.
Jerawat hormonal juga cenderung bertahan lebih lama karena proses pembentukannya berlangsung selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu. Kondisi ini membuat benjolan terasa lebih dalam dan sulit hilang.
Sementara itu, jerawat akibat stres sering disertai kulit kemerahan dan rasa gatal. Peradangannya juga bisa memburuk ketika seseorang terus berada dalam tekanan emosional.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan hubungan kuat antara stres dan munculnya jerawat, terutama pada perempuan dewasa. Saat stres meningkat, produksi sebum atau minyak alami kulit ikut melonjak sehingga risiko penyumbatan pori semakin besar.
Pada orang dewasa, tekanan pekerjaan maupun masalah keluarga menjadi pemicu yang paling sering ditemukan. Sedangkan pada remaja, stres akibat aktivitas sekolah atau perkuliahan lebih banyak berkontribusi.
Untuk mengatasi jerawat ringan akibat stres, dokter menyarankan penggunaan produk perawatan yang mengandung asam salisilat. Kandungan ini membantu membersihkan pori-pori sekaligus mengurangi produksi minyak.
Jika jerawat didominasi komedo hitam dan komedo putih, produk berbahan retinol atau retinoid juga dapat membantu mempercepat regenerasi kulit. Namun penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Apabila jerawat berupa benjolan merah besar, terasa nyeri, atau berada jauh di bawah permukaan kulit, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kulit. Penanganan medis diperlukan agar peradangan tidak semakin parah.
Selain perawatan dari luar, mengelola stres juga menjadi langkah penting. Meditasi, olahraga ringan, berjalan santai, berbincang dengan orang terdekat, hingga mencari akar masalah dapat membantu menenangkan pikiran, sehingga kesehatan kulit pun ikut lebih terjaga. (*)

