Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Biaya Produksi Naik, Pedagang Pilih Kurangi Keuntungan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Biaya Produksi Naik, Pedagang Pilih Kurangi Keuntungan

Banyak orang mungkin hanya melihat harga jajanan di etalase yang masih sama seperti bulan lalu. Namun di balik itu, ada cerita lain yang jarang terlihat. Saat dolar menguat dan biaya produksi ikut merangkak naik, sejumlah pedagang jajanan di Semarang memilih menahan harga jual.

T. Budianto
Last updated: Juni 8, 2026 8:59 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
LAYANI PEMBELI: Pedagang gorengan di sekitar Muladi Doom, Tembalang tengah melayani pembeli. (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Menguatnya dolar AS dan melemahnya rupiah mulai dirasakan para pelaku usaha kecil. Bukan hanya perusahaan besar, para pedagang makanan dan minuman juga mengaku harus menghadapi kenaikan biaya produksi yang terjadi perlahan dalam beberapa waktu terakhir.

Syauqibillah (22), penjual risol di sekitar Muladi Doom, Tembalang menjadi salah satu pedagang yang merasakan dampaknya. Menurutnya, beberapa kebutuhan usaha yang biasa dibeli kini mengalami kenaikan harga, mulai dari kemasan hingga bahan baku.

“Yang paling terasa itu kemasan. Dulu styrofoam masih sekitar Rp300, mika sekitar Rp400. Sekarang dua-duanya sudah tembus Rp500,” ujar Syauqi, Senin (8/6/2026).

Tak hanya itu, harga tepung yang menjadi bahan utama pembuatan risol juga ikut naik. Syauqi mengaku sebelumnya biasa menggunakan tepung dengan kualitas lebih baik. Namun karena harga terus merangkak naik, ia terpaksa beralih ke produk yang lebih murah agar biaya produksi tetap terkendali.

Baca juga: Terburuk Sepanjang Sejarah! Rupiah Makin Lemah, Jebol Rp18.000 per Dolar AS

“Dulu saya pakai yang harganya sekitar Rp8.500 per kilo, sekarang sudah Rp10 ribu. Akhirnya saya ganti ke yang lebih murah. Memang ada pengaruh ke kualitas, tapi kalau tidak begitu ya susah juga,” katanya.

Meski biaya produksi meningkat, Syauqi belum berani menaikkan harga jual risolnya. Ia memilih memangkas keuntungan demi menjaga pelanggan tetap membeli produknya. “Kalau harga dinaikkan takut pembeli berkurang. Jadi sementara saya tahan dulu. Untungnya memang lebih sedikit, tapi usaha tetap harus jalan,” tuturnya.

Cerita serupa juga datang dari Raihan Kusuma Hakim, pedagang minuman dan makanan ringan yang sama-sama berjualan di sekitar Muladi Doom. Menurutnya, kenaikan harga paling terasa justru terjadi pada kemasan plastik.

Lebih Terasa

“Kalau yang paling bikin berat itu plastik. Naiknya jauh lebih terasa dibanding bahan lain,” ujarnya. Karena biaya kemasan terus meningkat, Raihan akhirnya menaikkan harga beberapa minuman yang dijual. Namun untuk makanan, ia masih berusaha mempertahankan harga lama.

“Saya masih jual tahu goreng Rp1.000 per buah. Yang naik cuma minuman karena memang kemasannya yang mahal. Mau tidak mau harus menyesuaikan,” katanya.

Meski banyak kabar soal kenaikan harga bahan pangan, Raihan mengaku hingga saat ini harga tahu yang menjadi salah satu bahan dagangannya masih relatif stabil. “Kalau di tempat saya, tahu masih aman. Yang paling terasa memang kemasan plastik itu,” ujarnya.

Baik Syauqi maupun Raihan mengaku tidak bisa memastikan secara langsung kaitan antara menguatnya dolar dengan kenaikan harga yang mereka rasakan. Namun mereka menduga kondisi tersebut turut memengaruhi harga bahan baku dan kebutuhan produksi di pasaran.

Baca juga: Rakyat Gak Pakai Dolar, tapi Harga Menu Makanan di Warteg Semarang Melonjak

Sebagai pelaku usaha kecil, keduanya hanya berharap kondisi ekonomi bisa lebih stabil sehingga biaya produksi tidak terus melonjak. “Harapannya ya semoga usaha tetap bisa bertahan. Karena kalau biaya naik terus sementara harga jual tidak bisa ikut naik, yang berat ya pelaku usaha kecil seperti kami,” kata Syauqi.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, banyak pedagang kecil memilih bertahan dengan cara mengurangi keuntungan daripada kehilangan pelanggan. Bagi mereka, menjaga usaha tetap hidup menjadi prioritas utama, meski harus mengorbankan sebagian pendapatan yang seharusnya bisa diperoleh.

Konsumen sering mengeluh saat harga jajanan naik seribu rupiah. Padahal sebelum sampai ke titik itu, banyak pelaku UMKM sudah lebih dulu mengalah. Mereka mengganti bahan yang lebih murah, memangkas keuntungan, bahkan menahan kenaikan harga selama mungkin. Karena di dunia usaha kecil, yang paling mahal ternyata bukan tepung atau plastik, melainkan kehilangan pelanggan yang sudah susah payah dipercaya.  (dul)

You Might Also Like

Angka Kemiskinan Wonosobo Turun 4,33 Persen dalam 5 Tahun, Pemkab Kejar Target Satu Digit

Beda Penanganan Korban Banjir di Thailand dan Sumatera, seperti Bumi-Langit

Sosok Andrie Yunus, Aktivis HAM Korban Teror Air Keras: Berani Geruduk Rapat RUU TNI

Mbappe Kejar Sepatu Emas, Inggris Buru Penawar Luka

Rencana Gelar Pahlawan Soeharto, Aktivis: Pengkhianatan Reformasi

TAGGED:dolar naikharga naikheadlinepelaku umkm
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article SAKSI SIDANG--Notaris Rekowarno berjalan meninggalkan ruangan usai bersaksi di sidang kasus TPPU terdakwa Gus Yazid, Seni (8/6/2026). (bae) Buka-bukaan! Saksi Bongkar Kodam Sudah Lama Lepas Aset Cilacap Biar Bisa Dijual
Next Article Tito Sindir Honorer Titipan Jam Kerja Cuma Sejenak

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Api Mrapen Tiba di Semarang, Agustina Bidik Juara Umum Porprov Jateng 2026

Api Sumbing Padam, PR Berikutnya Pulihkan Hutan dan Saluran Air

Warga Mangunharjo Panen Melon Premium, Agustina Minta Kampung Lain Ikutan

Gunung Slamet Jadi Medan Tempur Atlet Trail Run Jateng

UCAPAN DUKA - Atlet selam asal Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja, meninggal saat berlaga di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026, di perairan Semarang Barat, Minggu (25/10/2026).. HADIRKAN SOLUSI - PLN Icon Plus hadirkan solusi digital dan ekosistem hijau dalam Simposium Teknologi Informasi (TI) Hulu Migas 2026, yang digelar Asosiasi IT Minyak dan Gas (AIMG) di Yogyakarta Marriott Hotel, 30 September–2 Oktober 2026.

Perkuat Kolaborasi Industri Hulu Migas, PLN Icon Plus Hadirkan Solusi Digital dan Ekosistem Hijau

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Sirkular

Groundbreaking PSEL Semarang Raya Ditarget Desember

September 8, 2026
Ilustrasi erupsi gunung berapi di Indonesia.
Info

Bukan Antek Asing atau HAARP, Dosen UGM Ungkap Fakta Kenapa 6 Gunung Erupsi Hampir Bersamaan

September 9, 2026
Ekonomi

Balik Nama Gratis, Masih Nunda?

April 8, 2026
Ilustrasi sampah plastik yang mencemari perairan di Indonesia. (DLH Buleleng Bali)
Tumbuh

FAKTA UNIK: Swedia Nggak Kekurangan Minyak, tapi Kekurangan Sampah

Desember 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Biaya Produksi Naik, Pedagang Pilih Kurangi Keuntungan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?