BACAAJA, SEMARANG – Musim kemarau tak hanya bikin warga rawan kesulitan mengakses air bersih. Ada ancaman yang lebih besar yang bisa dianggap sepele.
Tahun ini, kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih kering. Dampaknya bukan cuma bikin pasokan air bersih berkurang, tapi juga mengancam sektor pertanian, meningkatkan risiko kebakaran hutan, hingga memicu gangguan kesehatan.
Karena itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan agar pemerintah maupun masyarakat tidak baru bergerak saat kekeringan sudah terjadi. Langkah antisipasi dinilai jauh lebih penting agar dampaknya bisa ditekan sejak awal.
Bacaaja: Ancaman Kekeringan di Semarang Bukan Cuma karena Kemarau
Bacaaja: Siap-siap! BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Panjang, Jateng Terancam Krisis Air
Kepala Kelompok Kerja Layanan Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Sulistiyowati, menjelaskan suhu udara yang lebih panas selama musim kemarau akan mempercepat penguapan air di waduk, embung, dan sumber air lainnya. Kondisi ini juga membuat tanah lebih cepat kehilangan kelembapan.
“Suhu udara yang jauh lebih panas secara langsung akan meningkatkan laju evapotranspirasi. Air di danau, embung, waduk, maupun kelembapan di dalam tanah pertanian akan menguap lebih cepat. Inilah yang membuat kekeringan lahan pertanian bisa terjadi lebih cepat dari siklus biasanya,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Buat para petani, kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. BMKG menyarankan pola tanam disesuaikan dengan kondisi cuaca. Jika kemarau diprediksi lebih kering, komoditas yang membutuhkan lebih sedikit air, seperti jagung atau kedelai, bisa menjadi alternatif.
Selain itu, petani juga diimbau rutin mengikuti informasi prakiraan cuaca dan berkoordinasi dengan penyuluh pertanian agar waktu tanam tidak meleset.
Tak hanya sektor pertanian, pemerintah daerah juga diminta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, mulai dari waduk, bendungan, hingga embung. Informasi peringatan dini kekeringan dari BMKG juga diharapkan menjadi acuan untuk menetapkan status siaga di wilayah yang mulai terdampak.
Kemarau panjang juga membawa dampak pada kesehatan. Udara yang lebih kering dan berdebu bisa meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama bagi anak-anak dan lansia.
BMKG mengimbau masyarakat memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari jika tidak mendesak, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Yang tak kalah penting, masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar. Sebab saat vegetasi mengering, api akan lebih mudah menyebar dan memicu kebakaran hutan maupun lahan.
“Selain berhemat air, masyarakat juga harus menghindari membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar. Pada musim kemarau, kondisi lahan dan semak yang mengering membuat potensi kebakaran hutan dan lahan meningkat,” pungkas Sulistiyowati. (dul)

