BUAT kamu yang sedang mencari alternatif liburan di kawasan Gunung Merapi, Plunyon Kalikuning di Sleman bisa masuk daftar tujuan. Tak cuma menawarkan pemandangan Gunung Merapi, tempat ini mengajak pengunjung menikmati suasana hutan, aliran sungai di antara perbukitan, hingga jembatan yang ikonik.
Plunyon berada di Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, DIY. Kawasan wisata alam ini dikelola Taman Nasional Gunung Merapi dan berada di tengah kawasan hutan yang masih asri.
Begitu masuk, suasana pegunungan langsung terasa. Di dekat loket masuk, ada titian kayu yang berada di antara pepohonan di bantaran sungai. Namun, pengunjung tetap perlu berhati-hati karena beberapa bagian kayu pada titian terlihat mulai keropos.
Menyusuri Sungai
Salah satu spot yang paling gampang dikenali di Plunyon adalah jembatannya. Bentuk jembatan ini cukup unik. Bangunannya tinggi, meliuk, dan menggunakan konstruksi dinding tebal yang didominasi batu.
Sekilas, bentuknya mengingatkan pada bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Tak heran jika jembatan ini menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung untuk berfoto.
Kalau cuaca cerah, Gunung Merapi juga bisa menjadi latar pemandangan. Perpaduan hutan, sungai dan gunung inilah yang membuat Plunyon punya suasana berbeda dari wisata buatan.
Baca juga: Jangan Nekat, Puncak Merapi Belum Aman
Selain jembatan, daya tarik Plunyon ada pada suasana hutannya. Pepohonan khas kawasan pegunungan tumbuh tinggi di berbagai sisi. Rindangnya vegetasi membuat udara di sekitar kawasan terasa lebih sejuk.
Pengunjung juga bisa terus berjalan menyusuri Kali Kuning alias Sungai Kuning. Aliran airnya berasal dari kawasan Gunung Merapi dan mengalir di antara perbukitan. Bagi yang datang bersama rombongan, kawasan ini juga kerap digunakan untuk kegiatan luar ruang dan outbound.

SUSUR SUNGAI: Wisatawan sedang menyusuri sungai di antara perbukitan di Objek Wisata Alam Plunyon, Sleman, Minggu (9/8/2026). (Foto: bae)
Plunyon bukan destinasi yang sepi peminat. Jumlah pengunjung biasanya meningkat saat akhir pekan, libur sekolah, maupun tanggal merah. Petugas Wisata Alam Plunyon sekaligus Pengendali Ekosistem Hutan di Taman Nasional Gunung Merapi, Ani mengatakan, jumlah wisatawan pada hari ramai bisa mencapai ratusan orang.
“Kalau hari biasa misalnya hari Sabtu itu sekitar 700-900 orang per hari. Itu puncaknya kalau hari libur itu kadang kemarin itu ada yang 1.600,” kata Ani. Menurut dia, waktu paling ramai justru terjadi sejak pagi.
“Makanya kami sebenarnya itu operasinya tuh tertulis jam 08.00 WIB sampai jam 15.00 WIB. Tapi kami kan ya meruput karena kan pengunjungnya jam 06.00 WIB itu udah meludak,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Tarif Terjangkau
Untuk tiket masuknya sangat terjangkau. Setiap orang hanya dikenai tarif 12.000 pada hari biasa dan Rp17.000 saat akhir pekan atau hari libur.
Meski menawarkan pemandangan yang menarik, Plunyon tetap merupakan kawasan alam yang memiliki risiko. Di sejumlah titik terdapat papan peringatan soal potensi longsor. Kondisi tebing di sekitar sungai memang perlu diwaspadai karena beberapa bagiannya cukup rapuh.
Baca juga: Anak Lereng Gunung Merapi Kini Punya SMA Sendiri
“Iya ada potensi. Kadang kan batu-batu itu dari atas langsung longsor kemarin juga ada batu dari atas tuh hampir pengunjung. Karena kan tebingnya itu rapuh ya tebing-tebing sungai,” ujar Ani.
Karena itu, pengunjung sebaiknya tidak mengabaikan rambu-rambu yang ada dan tetap berhati-hati ketika berada di dekat tebing maupun aliran sungai. (bae)

