BACAAJA, SEMARANG – Krisis air bersih bukan cuma soal kemarau panjang. Ada hal lain yang lebih laten: bahaya kerusakan lingkungan.
Ancaman krisis air yang mulai dirasakan di berbagai daerah dinilai tidak lagi bisa semata-mata disalahkan pada musim kemarau. Peneliti Yayasan Amerta Air Indonesia, Bagas Yusuf Kausan, menegaskan akar persoalan justru berada pada kerusakan lingkungan yang terus berlangsung akibat aktivitas manusia.
Menurut Bagas, anggapan bahwa kekeringan hanya dipicu minimnya curah hujan sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini. Ia mengacu pada laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut kekeringan kini lebih banyak dipicu oleh ulah manusia dibanding faktor alam.
Bacaaja: Kemarau Datang, BPBD Kabupaten Semarang Siagakan 750 Ribu Liter Air Bersih
Bacaaja: Empat Daerah Ini Paling Rawan Kekeringan saat Kemarau di Jateng, Mana Saja?
“Sekarang masalah kekeringan air itu jauh lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia ketimbang oleh pergantian musim,” kata Bagas, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, kerusakan lingkungan seperti degradasi lahan, menurunnya cadangan air tanah, hingga dampak perubahan iklim telah mengubah pola krisis air menjadi persoalan yang bersifat struktural.
Akibatnya, musim kemarau kini hanya menjadi pemicu yang mempercepat krisis, bukan lagi penyebab utamanya.
“Kekurangan curah hujan atau musim kemarau panjang itu sebenarnya hanya merupakan satu faktor dan bahkan sekarang sudah bukan jadi faktor utama,” ujarnya.
Bagas menjelaskan, rusaknya kawasan resapan membuat tanah kehilangan kemampuan menyimpan air. Ketika cadangan air tanah terus menyusut, wilayah-wilayah tertentu menjadi jauh lebih rentan mengalami kekeringan setiap memasuki musim kemarau.
Situasi tersebut semakin diperparah oleh perubahan iklim yang membuat pola hujan sulit diprediksi. Daerah yang sebelumnya relatif aman kini lebih cepat terdampak krisis air karena daya dukung lingkungannya terus melemah.
Meski begitu, Bagas mengingatkan istilah “aktivitas manusia” tidak boleh dimaknai sebagai kesalahan seluruh masyarakat secara merata. Menurutnya, kerusakan lingkungan dalam skala besar umumnya berkaitan dengan pihak-pihak yang memiliki modal dan kewenangan besar dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Dengan kata lain, penyebab krisis air bukan sekadar soal cuaca, melainkan juga konsekuensi dari tata kelola lingkungan yang selama ini gagal menjaga keseimbangan alam. Tanpa upaya serius memulihkan kawasan resapan dan mengendalikan eksploitasi lingkungan, ancaman krisis air diperkirakan akan terus membesar meski musim hujan kembali datang. (dul)

