BACAAJA, SEMARANG – Tempe mungkin jadi makanan yang hampir selalu ada di meja makan masyarakat Indonesia. Murah, bergizi, dan gampang ditemukan. Tapi di balik produksi tempe yang terlihat biasa saja, ada keresahan yang terus menghantui para pengrajin: ketergantungan pada kedelai impor.
Saat nilai tukar rupiah melemah dan harga kedelai dunia naik, para pengrajin tempe menjadi salah satu kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.
Biaya produksi ikut melonjak, sementara ruang untuk menaikkan harga jual semakin sempit karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Bacaaja: Rupiah Melemah UMKM Menjerit, Pengamat Ekonomi Undip Singgung Tahu dan Tempe
Bacaaja: Rupiah Melemah, Nasib Pedagang Kecil Ikut Tergerus: Nahan Harga, Untung Dikit Gak Apa
Kondisi itulah yang kini menjadi perhatian Arif, pengusaha tempe di kawasan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Menurutnya, sudah saatnya pemerintah lebih serius memperkuat produksi kedelai lokal agar pelaku usaha tidak terus bergantung pada pasokan dari luar negeri.
“Kalau bisa pemerintah memberi solusi. Kedelai lokal diperbanyak supaya tidak terus bergantung pada impor,” ujar Arif, Rabu (10/6/2026).
Menurut Arif, ketergantungan pada kedelai impor membuat harga bahan baku sulit diprediksi. Ketika dolar menguat atau terjadi gejolak pasar global, pelaku usaha kecil menjadi pihak yang paling terdampak karena harus menanggung kenaikan biaya produksi.
Padahal, industri tempe bukan sekadar usaha rumahan biasa. Selain menjadi sumber protein murah bagi masyarakat, sektor ini juga menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi penopang ekonomi ribuan keluarga.
Setiap hari, usaha milik Arif mampu mengolah sekitar 100 hingga 200 kilogram kedelai menjadi tempe. Jumlah tersebut bahkan bisa bertambah saat permintaan pasar sedang tinggi.
“Kalau normal sekitar 100 sampai 150 kilogram per hari. Kalau pesanan lagi ramai bisa lebih dari 200 kilogram,” katanya.
Meski hingga saat ini produksi masih berjalan, Arif mengaku banyak pengrajin mulai waswas jika harga bahan baku terus merangkak naik. Sebab, semakin mahal kedelai, semakin tipis keuntungan yang bisa dibawa pulang.
Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek, tetapi juga membangun kemandirian bahan baku dalam jangka panjang.
Dengan produksi kedelai lokal yang lebih kuat, industri tempe diyakini bisa lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global.
“Harapan kami sederhana, harga stabil dan usaha bisa berjalan normal. Kalau bahan baku aman, pedagang tenang, konsumen juga tidak terbebani,” ungkapnya.
Bagi para pengrajin tempe, persoalan kedelai bukan sekadar urusan bahan baku. Di baliknya ada keberlangsungan usaha, lapangan pekerjaan, hingga akses masyarakat terhadap sumber protein yang terjangkau.
Karena itu, memperkuat kedelai lokal bukan hanya soal pertanian, tetapi juga menjaga agar tempe tetap bisa dinikmati semua kalangan tanpa harus khawatir harganya ikut melambung. (dul)

